Refleksi Diri Penelitian Best Practices

 


REFLEKSI PENELITIAN BEST PRACTICE

Penerapan Model Problem Based Learning dan Penggunaan Media Video Animasi dalam Menganalisis Unsur-Unsur Cerita Fantasi

Nama              : Andina Sopandi N

Jabatan            : Guru Bahasa Indonesia

Kelas                : VII

Materi Pokok  : Unsur-Unsur Cerita Fantasi

Tahun Ajaran  : 2022/2023

Unit Kerja        : MTs Negeri 1 Garut

 

1.      Permasalahan

Pada tahun ajaran ini merupakan transisi dari masa pandemi ke masa endemi. Peserta didik harus beradaptasi kembali pada pelajaran tatap muka di sekolah. Adaptasi perubahan pembelajaran yang awalnya daring menjadi luring pun menjadi salah satu permasalahan yang perlu ditangani, hal itu dikarenakan peserta didik baru ini telah melewati masa sekolah dasar selama satu tahun ajaran bahkan lebih di rumah. Peserta didik belum terbiasa kembali untuk berpikir kritis mengenai materi pembelajaran yang diajarkan. Apalagi materi Bahasa Indonesia yang dianggap kurang menarik karena terlalu sering menampilkan teks yang panjang. Peserta didik juga memiliki minat yang rendah dalam membaca. Selain permasalahan tersebut, guru juga belum menerapkan model dan media yang menarik dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya materi unsur-unsur cerita fantasi.

2.      Alternatif Solusi

Guru harus memiliki kompetensi pedagogik yang baik agar peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Berdasarkan permasalahan di atas, guru dituntut untuk berpikir kritis mencari solusi dari permasalahan yang dipaparkan agar pembelajaran menarik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Setelah melakukan wawancara dengan rekan sejawat dan membaca berbagai kajian literatur, maka diperoleh solusi yaitu penerapan model Problem Based Learning dan media video animasi dalam menganalisis unsur-usnur cerita fantasi. Melalui model dan media tersebut diharapkan kemampuan peserta didik dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi dapat meningkat dan tujuan pembelajaran tercapai.

3.      Tindakan

Dalam implementasi alternatif solusi tersebut, peserta didik menyimak video animasi yang berdurasi pendek lalu bertanya jawab dengan guru terkait unsur cerita fantasi yang terdapat dalam video tersebut. Setelah itu peserta didik mengaitkan video tersebut dengan kehidupan sehari-hari (kontekstual). Setelah itu peserta didik berkelompok untuk menyimak video animasi cerita fantasi yang disediakan oleh guru untuk menganalisis unsur-usnur cerita fantasi beserta bukti yang mendukung di LKPD yang telah disediakan. Setelah semua selesai, peserta didik mempresentasikan hasil analisis mereka di depan kelas, kelompok lain menanya dan menanggapi. Setelah semua pembelajaran selesai, untuk menguji pengetahuan peserta didik maka guru melakukan evaluasi mandiri menggunakan link goole form yang sudah disediakan oleh guru. Dari hasil evaluasi menunjukan bahwa nilai peserta didik 88% sudah di atas KKM, hanya beberapa peserta didik yang masih di bawah KKM. Pada kegiatan proses dan presentasi diskusi analisis unsur cerita fantasi, peserta didik sudah bisa menganalisis unsur cerita fantasi dengan tepat disertai bukti pendukung yang sesuai. Berdasarkan hasil refleksi peserta didik pula menyatakan bahwa mereka senang dengan pembelajaran yang dilakukan.

 

Demikian refleksi yang saya lakukan, semoga menjadi bahan perbaikan ke depan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VII  MTs Negeri 1 Garut.

 

Mengetahui,                                                                                     Garut,  8 November 2022

Kepala MTs N 1 Garut,                                                                     Guru Bahasa Indonesia,

 

 

 

 

Drs. H. Rusdi Saleh, M.Pd.                                                                Andina Sopandi N, S.Pd.

NIP 196507101994031006                                                               NIP 199507242019032020

                                                           

 


 


BEST PRACTICES

Menganalisis Unsur-Unsur Cerita Fantasi melalui Penerapan Model Problem Based Learning dan Penggunaan Media Video Animasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Disusun Oleh:

Andina Sopandi N

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MTs Negeri 1 Garut

Jalan Terusan Pembangunan No. 4, Desa Jayaraga,

Kec. Tarogong Kidul, Kab, Garut

2022

 

 

Praktik Baik (Best Practice)  

Menganalisis Unsur-Unsur Cerita Fantasi melalui Penerapan Model Problem Based Learning dan Penggunaan Media Video Animasi

Lokasi

MTs Negeri 1 Garut

Jalan Terusan Pembangunan No. 4, Desa Jayaraga, Kec. Tarogong Kidul, Kab. Garut, Jawa Barat

Lingkup Pendidikan

Instansi pendidikan      :  MTsN 1 Garut

Kelas / Fase                    : VII 1 / D

Jumlah peserta didik    : 31 Siswa

Tahun Ajaran                 : 2022/2023

Tujuan yang ingin dicapai

Melalui penerapan model Problem Based Learning, peserta didik mampu menganalisis unsur-unsur intrinsik cerita fantasi melalui video animasi dengan tepat.

Penulis

Andina Sopandi N, S.Pd.

Tanggal

Senin, 7 November 2022

Pertemuan I: 13.00 s.d. 14.10

Kamis, 10 November 2022

Pertemuan II: 14.20 s.d. 15.30

 

Latar Belakang Masalah

Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki beberapa aspek yang harus dikuasai, yaitu menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Menyimak adalah suatu kegiatan atau keterampilan seseorang dalam mendengarkan, memperhatikan, dan memahami lambang-lambang bahasa lisan atau ujaran yang diterima melalui pendengaran untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi disampaikan oleh pembicara.

 Hal yang menjadi fokus peneliti adalah rendahnya kemampuan siswa dalam menganalisis unsur-unsur intrinsik pada cerita fantasi. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan, kesulitan yang dialami peserta didik kelas VII 1 di MTsN 1 Garut ini terjadi disebabkan beberapa hal berikut:

A.      Guru belum menerapkan model pembelajaran yang inovatif sehingga pembelajaran cenderung monoton.

B.      Guru belum menggunakan media pembelajaran yang berbasis teknologi sehingga peserta didik kurang termotivasi untuk belajar.

C.      Kurangnya minat dan motivasi peserta didik dalam membaca.

 

 

 

Mengapa praktik ini penting untuk dibagikan

Berdasarkan permasalahan di atas, praktik baik (best practice) perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran dengan menggunakan model dan media pembelajaran yang tepat sehingga pembelajaran inovatif dapat tercapai dengan baik. Oleh karena itu, dari hasil kajian literatur dan wawancara, peneliti yang berperan sebagai guru mendesain pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kemampuan menyimak peserta didik dalam menganalisis unsur-unsur intrinsik teks cerita fantasi melalui penerapan model Problem Based Learning dan penggunaan media video animasi. Hal ini dibagikan sebagai rujukan Bapak/Ibu guru yang lain dalam menerapkan pembelajaran abad 21, TPACK, inovatif dan menarik. Model dan media ini dapat diterapkan di materi pembelajaran yan lain, disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan.

Model atau metode efektif dalam PBM

A.      Peneliti menggunakan model Problem Based Learning, model ini dianggap efektif dalam pembelajaran menganalisis unsur-unsur intrinsik teks cerita fantasi.

Langkah-langkah Problem Based Learning:

1)      Mengorientasi peserta didik pada masalah.

2)      Mengorganisasi peserta didik untuk belajar secara berkelompok.

3)      Membimbing penyelidikan

4)      Menyajikan hasil solusi

5)      Menganalisis hasil dan evaluasi

     Penerapan model Problem Based Learning dalam pembelajaran menganalisis unsur-unsur teks cerita fantasi memang sangat tepat karena model ini mendorong siswa untuk memecahkan masalah kontekstual yaitu menganalisis unsur-unsur teks cerita fantasi secara berkelompok. Dengan model ini siswa dapat bekerja sama dengan temannya untuk mencari sumber belajar yang bervariatif, serta meningkatkan kemandirian siswa dalam memecahkan permasalahan yang dibahas.

B.      Penggunaan media video animasi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis unsur-unsur teks cerita fantasi. Penggunaan media ini dapat menarik perhatian siswa karena adanya unsur audio dan visual yang bergerak. Siswa menjadi mudah memahami cerita yang disajikan melalui video animasi. Media ini pun menyuguhkan objek-objek yang menarik menyerupai objek yang nyata. Pembelajaran menjadi menyenangkan, sehingga kemampuan siswa meningkat dalam menganalisis unsur-unsur teks cerita fantasi.

C.      Peran dan tanggung jawab saya dalam praktik ini sebagai guru/fasilitator

D.      Guru sangat berperan penting dalam penelitian ini. Dimulai dari mengidentifikasi permasalahan yang ada di sekolah, menyusun solusi dari permasalahan yang ada lalu menyusun solusi tersebut menjadi modul ajar. Dalam modul ajar memuat perencanaan pelaksanaan proses pembelajaran secara rinci dan jelas dilengkapi dengan evaluasi pembelajaran. Guru juga berperan sebagai fasilitator yang membimbing peserta didik selama proses pembelajaran. Guru bertanggung jawab atas segala kejadian yang terjadi dalam proses pembelajaran. Guru harus merencanakan pembelajaran melalui modul ajar, melaksanakan modul ajar yang telah disusun, dan menilai/mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa.

 

Tantangan yang Dihadapi

Berdasarkan hasil pengamatan kajian literatur dan wawancara dengan guru sejawat serta kepala madrasah, pelaksanaan pembelajaran menggunakan model problem based learning dan media video animasi memiliki beberapa tantangan. Adapun tantangan dalam pembelajaran model problem based learning dan media video animasi dalam aksi ini adalah sebagai berikut:

1.       Penggunaan media video animasi memerlukan beberapa alat yang mendukung, yaitu laptop, LCD Proyektor, ruang kelas yang memadai aliran listrik, handphone, stop kontak depan belakang, pengeras suara, LKPD, printer untuk mencetak LKPD dan jaringan internet/wifi/hotspot yang memadai.

2.       Smartphone yang digunakan peserta untuk mengakses video animasi perlu diawasi dengan ketat. Hal itu karena memungkinkan kecenderungan peserta didik mengakses aplikasi/browser lain selain apa yang diintruksikan oleh guru. Beberapa peserta didik yang tidak membawa handphone karena beberapa hal, ada yang tidak difasilitasi handphone oleh orang tua, ada peserta didik yang tidak membaca WhatsApp Group imbauan membawa HP sehingga pada saat pelaksanaan rencana aksi 1 masih ada satu/dua siswa yang tidak membawa handphone.

3.       Peserta didik mulai terlihat bosan dalam proses pembelajaran karena pembelajaran dilaksanakan pada siang hari.

4.       Pada saat guru membagikan QR code berisi link video animasi, ada beberapa gawai yang belum mendukung untuk scan QR code.

5.       Peserta didik tidak kondusif ketika kelompok penyaji sedang presentasi, peserta didik hanya berfokus pada kelompoknya dan tidak menyimak presentasi kelompok temannya dengan baik.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, guru melakukan tindakan sebagai berikut:

1.       Guru  melakukan  beberapa  persiapan,  diantaranya  menggunakan fasilitas  printer  sekolah  untuk  mencetak LKPD, meminjam LCD projector dan speaker aktif untuk mendukung media PPT dan audiovisual yang telah disiapkan, menyiapkan WIFI/hotspot pribadi, mengarahkan peserta didik untuk mengunduh canva sebelum pembelajaran dimulai serta memberi arahan kepada siswa untuk mempersiapkan diri melalui WA grup sebelum pelaksanaan aksi 2.

2.       Guru menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan, contohnya memberikan icebreaking senam dreamer di saat siswa sudah terlihat bosan untuk belajar dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi. Untuk mengatasi waktu yang lama, guru menyediakan LKPD yang praktis dengan petunjuk yang mudah dikerjakan oleh peserta didik, sesuai dengan materi yang dipelajari terkait dalam menganalisis unsur cerita fantasi. Guru melakukan pengawasan yang ketat dalam penggunaan handphone  di kelas. Ketika menganalisis unsur cerita fantasi melalui video animasi, guru hanya memperbolehkan satu handphone yang digunakan, handphone anggota lainnya dimasukkan ke dalam tas. Bagi peserta didik yang tidak membawa handphone, ketika kerja kelompok peserta didik dapat menggunakan handphone teman anggota kelompok. Ketika evaluasi pembelajaran peserta didik yang tidak membawa handphone dapat menuliskan jawaban di kertas/menggunakan handphone temannya yang sudah selesai mengerjakan evaluasi.

3.       Guru memberikan ice breaking ketika peserta didik mulai jenuh dalam proses pembelajaran agar mereka kembali fokus pada pembelajaran.

4.       Guru mengintruksikan peserta didik yang gawainya tidak menudkung scan QR code untuk mengakses video animasi melalu link yang ada di bawah QR code, sehingga setiap kelompok dapat mengakses video animasi yang sudah disajikan oleh guru.

5.       Guru meminta kelompok lain untuk menanggapi/memberi pertanyaan ketika penyaji tampil sehingga kelompok lain dapat menyimak dengan baik presentasi temannya. Guru menyajikan hasil poster yang telah dibuat sebelum penyaji mempresentasikan hasil diskusinya agar peserta didik yang lain kembali fokus pada pembelajaran.

Yang terlibat dalam tantangan ini adalah:

1.      Kepala sekolah sebagai pimpinan yang memberikan izin dan mendukung pelaksanaan penelitian.

2.      Peserta didik sebagai sentral pada proses pembelajaran.

3.      Rekan sejawat

1.      Berperan sebagai juru kamera/videografer. (Rini Tri Nur Indriati, S.Pd.)

2.      Berperan membantu menyiapkan perlengkapan seperti tripod, handphone, laptop, dan proyektor. (Irfan Fachrurozi, S.Pd.)

 

                                            

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut:

1)      Menerapkan model project based learning.

2)      Menggunakan media video animasi dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi.

3)      Melakukan persiapan alat dan media pembelajaran yang dibutuhkan ketika pelaksanaan PPL rencana aksi 1.

4)      Menginformasikan kepada peserta didik untuk membawa handphone.

5)      Menyiapkan ice breaking senam dreamer agar siswa tidak jenuh pada proses pembelajaran.

6)      Menyiapkan LKPD yang sesuai dengan indikator dan menarik bagi peserta didik.

 

A.      Strategi yang digunakan

Menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL) karena model PBL ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik dan membiasakan peserta didik untuk melatih keterampilannya dalam berdiskusi. Sehingga akan meningkatkan keaktifan belajar peserta didik. Langkah dalam aksi praktik baik ini menggunakan model pembelajaran problem  based  learning  dan  media video animasi  dengan  langkah kegiatan sebagai berikut:

 

a.      Orientasi Masalah

1.       Peserta didik menyimak tayangan video animasi yang disajikan oleh guru melalui media proyektor dan pengeras suara.

https://bit.ly/3tkWw2z

2.       Peserta didik melakukan tanya jawab dengan guru  terkait apa saja unsur –unsur yang ditemukan pada video tersebut.

 

3.       Peserta didik menceritakan kembali inti dari video tersebut.

4.       Peserta didik mengaitkan penayangan video animasi dengan materi yang akan dipelajari hari ini.

b.      Mengorganisasi Peserta didik

5.       Peserta didik langsung berkumpul dengan kelompok masing-masing dan menyiapkan satu handphone untuk menyimak video animasi

 

c.       Membimbing Penyelidikan

6.       Peserta didik mengambil papan kecil berisi QR code dan link video animasi berbeda sejumlah kelompok yang ada dan LKPD untuk menganalisis unsur-unsur teks cerita fantasi yang sudah disediakan oleh guru.

7.       Peserta didik menganalisis unsur-unsur teks cerita fantasi sesuai dengan video animasi yang disajikan dan menyimpulkan isi cerita fantasi, lalu menuliskan hasil analisis tersebut di LKPD yang sudah disajikan oleh guru.

 

d.      Mengembangkan Solusi dan Menyajikan Hasil

1.       Peserta didik secara berkelompok bergantian menyajikan hasil diskusi analisis unsur-unsur teks cerita fantasi pada LKPD di depan kelas.

e.       Menganalisis Hasil Solusi dan Evaluasi

2.       Peserta didik  secara bergantian menjelaskan hasil analisis kelompoknya sebagai kelompok penyaji, kelompok lain bertanya dan menanggapi setiap kelompok yang tampil.

 

3.       Peserta didik sebagai kelompok penyaji menyimak apresiasi dan evaluasi yang diberikan oleh guru.

4.       Peserta didik melakukan evaluasi pembelajaran 10 soal PG tentang analisis unsur cerita fantasi yang disiapkan oleh guru melalui link https://forms.gle/Ucepc253gnoxPbi98

2)      Menggunakan media video animasi dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi.

Penulis dalam proses ini memilih media pembelajaran video animasi, Media ini pun menyuguhkan objek-objek yang menarik menyerupai objek yang nyata. Pembelajaran menjadi menyenangkan, sehingga kemampuan siswa meningkat dalam menganalisis unsur-unsur teks cerita fantasi.

 

3)      Melakukan persiapan alat dan media pembelajaran yang dibutuhkan ketika pelaksanaan PPL rencana aksi 1. Laptop, proyektor, pengeras suara, stop kontak, aliran listrik yang memadai, tripod, handphone, video animasi, stik es krim berisi QR code dan media PPT.

4)      Menginformasikan kepada peserta didik untuk membawa handphone sebelum pelaksanaan PPL rencana aksi 1. Pendidik menginformasikan peserta didik untuk membawa handphone pada satu hari sebelum pelaksanaan PPL secara langsung di depan kelas, dan mengingatkan kembali melalui WhatsApp Group.

5)      Menyiapkan ice breaking senam dreamer agar siswa tidak jenuh pada proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan pada siang hari, untuk mengatasi kejenuhan peserta didik dalam proses pembelajaran, maka pendidik menyiapkan ice breaking video senam dreamer untuk meningkatkan motivasi dan minat belajar peserta didik.

6)      Menyiapkan LKPD yang sesuai yang sesuai dengan indikator dan menarik bagi peserta didik. LKPD yang disediakan oleh guru harus sesuai dengan indikator pencapaian pembelajaran yang telah dirumuskan pada modul ajar. Penyusunan LKPD yang menarik dan terarah membuat peserta didik mudah untuk mengisi LKPD tersebut sesuai dengan intruksi yang diberikan oleh pendidik.

 

 

Siapa saja yang terlibat:

Proses pembelajaran ini melibatkan beberapa pihak yaitu:

1.      Kepala sekolah sebagai pimpinan yang memberikan izin dan mendukung pelaksanaan PPL.

2.      Peserta didik sebagai sentral pada proses pembelajaran.

3.      Dosen dan guru pamong sebagai observer dalam pelaksanaan PPL 1.

4.      Mahasiswa PPG sebagai observer PPL 1.

5.      Rekan sejawat

1.      Berperan sebagai juru kamera/videografer. (Rini Tri Nur Indriati, S.Pd.)

2.      Berperan membantu menyiapkan perlengkapan seperti tripod, handphone, laptop, dan proyektor. (Irfan Fachrurozi, S.Pd.)

Sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi aksi

1.       Materi yang disajikan tentang unsur-unsur cerita fantasi di power point dapat merangsang siswa berpikir kritis dan kreatif.

2.       LKPD dan media scan QR Code yang menarik.

3.       Beberapa video animasi yang menarik motivasi peserta didik.

4.       Video Ice Breaking senam Dreamer.

Sarana dan prasarana lainnya seperti LKPD,  proyektor, laptop, kamera, speaker, tripod, PPT materi unsur intrinsik cerita fantasi, dan handphone untuk merekam.

 

 

 

A.     Dampak dari hasil langkah-langkah yang dilakukan:

1.      Dampak yang dirasakan oleh peserta didik adalah mereka bersemangat dalam mengikuti pembelajaran hari ini karena diselipi ice breaking ketika peserta didik sudah mulai lelah dan bosan, lalu peserta didik menganalisis cerita fantasi ini melalui video animasi yang disajikan, peserta didik lebih tertarik karena ada tayangan gambar bergerak dan teks pada video tersebut membuat mereka lebih mudah menganalisis unsur-usnur cerita fantasi. Hal ini dibuktikan dengan hasil pada lembar refleksi yang diisi oleh peserta didik.

2.      Penggunaan model problem based learning dan penggunaan media video animasi meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi.

B.      Berdasarkan kegiatan PPL ini menjadikan saya sebagai pendidik menyadari bahwa seorang pendidik harus selalu mau memperbaiki diri, menambah wawasan, melakukan sebuah inovasi sekecil apapun itu dalam pembelajaran. Belajar untuk menjadikan kegiatan pendahuluan menjadi bermakna, menampilkan media yang menarik pada saat kegiatan awal, menyusun LKPD yang dapat melatih berpikir peserta didik, memberi bimbingan kelompok dengan memberikan pertanyaan pemantik, dan memanajemen waktu agar sesuai dengan rencana. Kemudian belajar bagaimanacara merekam, mengedit video dengan aplikasi yang belum pernah digunakan.

3.      Perubahan tingkah laku peserta didik dimulai dari berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran sudah baik. Peserta didik juga mau untuk terlibat dalam pembelajaran, terutama saat berdiskusi.

4.      Saat berdiskusi kelompok, peserta didik terlihat sudah mampu bekerja sama, peserta didik yang kemampuannya            di atas kemampuan teman lainnya sudah mau menjelaskan, dan peserta didik yang belum memahami materi juga sudah mau untuk bertanya.

5.      Peserta didik tertarik dengan media yang digunakan, yaitu handphone untuk menyimak video animasi. Dengan video tersebut meningkatkan minat peserta didik dalam mengalisis unsur-unsur intrinsik cerita fantasi.

6.      Peserta didik sudah dapat memberi alasan dan simpulan dengan bahasa sendiri, menggunakan cara yang menurutnya lebih mudah untuk digunakan dalam penyelesaian masalah meskipun masih perlu bertukar pendapat dengan temannya. Peserta didik juga sudah mampu mempresentasikan hasil kerja dengan baik, dan bergantian dengan anggota kelompok lain.

7.      Pada pertemuan aksi kedua peserta didik sudah mulai terbiasa untuk bekerja dimulai dari menuliskan informasi penting yang diperoleh dari suatu     masalah          meskipun masih dibimbing/dibantu.

 

B.      Respon orang lain yang terkait dengan strategi yangdilakukan yaitu:

1.       Berdasarkan respon observer/pengamat sesama pendidik mengatakan bahwa strategi yang dilakukan sudah efektif karena terlihat dari kegiatan pembelajaran yang tidak monoton, peserta didik yang aktif mengeksplor pengetahuan dan keterampilannya. Peserta didik saling bertukar pendapat dengan temannya diarahkan pendidik sebagai pembimbing.

2.       Berdasarkan refleksi yang dilakukan melalui lembaran kertas refleksi, peserta didik menyatakan bahwa pembelajaran yang dilakukan menarik dan menyenangkan. Adanya ice breaking di sela pembelajaran meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Selain itu, penggunaan media video animasi juga menambah pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan, karena peserta didik dapat menganalisis unsur-unsur cerita fantasi melalui video animasi yang berisi gambar bergerak  dan audio disertai teks yang mudah dipahami.

E.       Faktor yang menjadi keberhasilan/keefektifandari strategi yang dilakukan

1.       Adanya peningkatan keaktifan belajar pada peserta didik terlihat dari pengamatan yang dilakukan pendidik. Peserta didik yang pada awalnya enggan bertanya, berdiskusi, memperhatikan pendidik dan presentasi teman, sekarang sudah mau bertanya, berdiskusi kelompok, memperhatikan penjelasan pendidik dan presentasi temannya.

2.       Dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL) dan media audiovisual  terlihat                adanya peningkatan kemampuan pemecahan masalah peserta didik disetiap indikator kemampuan pemecahan masalah dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi melalui video animasi. Peserta didik terlihat lebih aktif dalam kegiatan diskusi dan presentasi.

3.       Adanya peningkatan sikap yang terlihat dari perilaku peserta didik sudah khusyuk dalam berdoa, bertangggung jawab dengan tugas yang diberikan selama proses pembelajaran, dan mau bekerja sama dengan teman kelompoknya saat berdiskusi. Melalui diskusi kelompok peserta didik dapat menambah tingkat keyakinan dirinya bahwa ia mampu menyelesaikan tugas yang diberikan, karena dalam belajar sudah dibantu oleh teman kelompoknya dan dapat menjadikan peserta didik menjadi lebih aktif lagi dalam belajar.

F.       Pembelajaran dari keseluruhan proses

Secara keseluruhan proses pembelajaran dengan penerapan model Problem Based Learning sudah efektif dilaksanakan dalam pembelajaran menganalisis unsur-unsur cerita fantasi. Semua sintaks pada model PBL sudah dilaksanakan pada pertemuan I dan II. Penggunaan media video animasi sangat menarik peserta didik sehingga pembelajaran menganalisis unsur-unsur cerita fantasi lebih mudah dilaksanakan. Hal itu dapat dilihat dari hasil LKPD kelompok dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi sudah sesuai dengan video animasi yang ditayangkan dan disertai bukti pendukung yang tepat. Pada saat evaluasi melalui google form, dapat dilihat nilai peserta didik sudah di atas KKM.

Rencana tindak lanjut yang dapat saya lakukan adalah menerapkan kembali model Problem Based Learning  dan media video animasi pada materi pembelajaran yang sesuai. Mengkomunikasikan penggunaan model dan media yang digunakan dalam diskusi MGMP Bahasa Indonesia MTsN 1 Garut.

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer