LK 1.3 Penentu Penyebab Masalah

 

Nama                          : Andina Sopandi N

NPK                           : 2952040007096

Satuan Kerja : MTs Negeri 1 Garut

LK 1.3 Penentuan Penyebab Masalah

 

No.

Hasil eksplorasi penyebab masalah

Akar penyebab masalah

Analisis akar penyebab masalah

1.

Siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam menganalisis unsur-unsur instrinsik teks cerita fantasi, berdasarkan kajian literatur dan hasil wawancara eksplorasi masalah yang ditemukan adalah:                         

1)           Guru belum menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.      Guru belum mahir menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi.

2.      Guru belum berinisiatif mengikuti pelatihan (diklat/seminar) secara luring/daring.

3.      Fasilitas wifi dan proyektor yang belum memadai.

4.      Guru melarang siswa membawa gawai ke sekolah.

5.      Guru masih sering menggunakan media manual, seperti papan tulis dan spidol.

 

 

 

 

Media pembelajaran dijadikan sebagai alat yang digunakan untuk menyampaikan materi  bisa media cetak, audio, visula, ataupun audiovisual. Namun tak semua guru menggunakan media pembelajaran yang sesuai dalam menyampaikan materi pembelajaran, salah satunya materi unsur intrinsik teks cerita pendek. Penyebab siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam menganalisis unsur-unsur intrinsik teks cerita pendek karena guru belum mahir memanfaatkan teknologi dalam media pembelajaran. Sementara itu, sekolah belum  memiliki fasilitas wifi dan proyektor yang memadai untuk menunjang proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Selain itu,  Guru belum berinisiatif mengikuti  pelatihan-pelatihan teknologi secara luring/daring. Hal ini menyebabkan media yang sering digunakan guru kurang menarik bagi siswa. Sejalan dengan hal itu guru juga belum memanfaatkan gawai pribadi/siswa dalam proses pembelajaran karena siswa tidak diperbolehkan membawa gawai ke sekolah. Saat ini guru masih sering menggunakan media manual seperti papan tulis dan spidol sehingga pembelajaran kurang menarik dan tujuan pembelajaran belum tercapai.

2.

2)       2) Guru belum menumbuhkan minat siswa dalam membaca teks sastra.

1.                  Siswa kurang memiliki ketertarikan pada buku bacaan.

2.                  Siswa hanya membaca apa yang diintruksikan oleh guru.

3.                  Guru belum melakukan bimbingan terarah agar siswa terbiasa membaca buku.

4.                  Siswa jarang berkunjung ke perpustakaan.

5.                  Siswa lebih tertarik memainkan gawai untuk bermain game online atau berselancar di media sosial.

3)        

Membaca merupakan kegiatan mengeja atau mengeja sebuah goresan pena untuk mendapatkan informasi. Kegiatan membaca ini merupakan salah keterampilan reseptif dalam berbahasa. Namun kenyataannya pada masa kini, siswa kurang memiliki ketertarikan dalam membaca buku, sehingga seringkali siswa kesulitan memahami berbagai materi dalam Bahasa Indonesia, salah satunya kemampuan siswa yang rendah dalam menganalisis unsur-unsur intrinsik teks cerita pendek. Biasanya siswa hanya membaca teks yang diintruksikan oleh guru. Di luar pembelajaran siswa lebih tertarik memainkan gawai untuk bermain game online atau berselancar di media sosial. Selain itu, guru juga belum melakukan bimbingan terarah agar siswa terbiasa membaca buku, serta frekuensi siswa melakukan kunjungan ke perpustakaan sangat jarang. Maka dari itu siswa kesulitan memahami kata demi kata, kalimat maupun teks yang lebih dari 100 kata karena tidak terbiasa membaca buku. Siswa memiliki kosakata yang sangat sedikit, sehingga kesulitan menemukan informasi dari setiap teks yang mereka baca. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam menganalisis unsur teks cerita fantasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

3.

4)       3) Guru belum menggunakan model pembelajaran yang bervariatif.

1)Kurangnya wawasan guru mengenai model-model pembelajaran yang inovatif.

 

2)Kurangnya terjalin komunikasi antar MGMP dalam penggunaan model pembelajaran di kelas.

 

3)Guru masih menggunakan metode pembelajaran yang konvensional.

4) Guru belum berinsiatif mengikuti pelatihan tentang model-model pembelajaran inovatif.

Model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian pembelajaran yang berisi tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Namun kenyataannya guru belum menerapkan model-model pembelajaran yang inovatif dalam proses pembelajaran, guru lebih sering memggunakan metode pembelajaran yang konvensional. Hal tersebut menyebabkan siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam menganalisis unsur-unsur teks cerita fantasi. Hal itu disebabkan guru belum memiliki wawasan yang luas tentang model-model pembelajaran inovatif yang bisa digunakan dalam pembelajaran. Selain itu, guru juga belum berinsiatif untuk mengikuti pelatihan (diklat/seminar) secara luring maupun daring mengenai penerapan model-model pembelajaran yan inovatif. Sejalan dengan hal itu, komunikasi guru antar MGMP belum terjalin dengan baik sehingga diskusi dan berbagi pengalaman model pembelajaran yang dilakukan masing-masing guru masih jarang dilakukan sehingga guru nyaman dengan model pembelajaran tertentu. Penggunaan satu model yang sama dalam setiap pembelajaran ini membuat siswa bosan, pembelajaran kurang menyenangkan, siswa belum terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan belum tercapai.

 

 

Komentar

Postingan Populer