LK 1.2 Eksplorasi Masalah PPG Daljab Bahasa Indonesia K1 2023

 

Nama                          : Andina Sopandi N

NPK                           : 2952040007096

Satuan Kerja : MTs Negeri 1 Garut

LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah

 

No.

Masalah yang telah  diidentifikasi

 

Hasil eksplorasi penyebab masalah

Analisis eksplorasi penyebab masalah

 

1.

Siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam menganalisis unsur-unsur teks cerita pendek di kelas IX.

 

1.      (Sri Indra Maiyanti, 2021)

peningkatan kompetensi guru masih kurang optimal dalam adaptasi teknologi dalam pemanfaatan gawai (ponsel, laptop, dan tablet) untuk mendukung proses dan evaluasi pembelajaran, baik pembelajaran secara daring maupun luring.

Guru belum menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi yang bervariatif

 

 

 

 

2.       (Aminuddin, 1991:15) mengatakan Upaya pemahaman unsur-unsur dalam bacaan sastra tidak dapat dilepaskan dari masalah membaca.

Guru belum menumbuhkan minat membaca  siswa pada teks sastra.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.      Feby Inggriyani, dkk (2020) berpendapat bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih monoton. Hal ini terjadi karena sebagian guru belum mampu merancang perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model pembelajaran inovatif.

Guru belum menggunakan model pembelajaran yang inovatif.

 

 

 

 

 

 

Hasil Wawancara Kamad

Narasumber:

Drs. H. Rusdi Saleh, M.Pd.

Jabatan:

Kepala MTs Negeri 1 Garut

Hari, Tanggal:

Senin, 11 September 2023 pukul 08.10

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran belum dilaksanakan secara menyeluruh oleh guru-guru karena terbatasnya kompetensi guru dalam menggunakan teknologi dalam menyusun media pembelajaran. Salah satu yang menghambat guru menggunakan media berbasis teknologi karena faktor usia yang membuat beberapa guru belum mahir menguasai teknologi juga fasilitas sekolah yang belum memadai.

 

Hasil Wawancara Ketua MGMP

Narasumber:

Imas Winayawarti, S.Pd.

Jabatan:

Guru Bahasa Indonesia

MTsN 1 Garut

Hari, Tanggal:

Minggu, 10 September 2023 pukul 16.10 (Via WhatsApp)

1)     Belum semua guru menggunakan media teknologi yang bervariatif dalam proses pembelajaran teks cerita pendek karena belum terampil menggunakan teknologi sehingga media yang digunakan tidak bervariatif.

2)     Kendala yang dialami saat menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran adalah terbatasnya fasilitas sekolah seperti proyektor yang hanya bisa digunakan oleh beberapa guru saja.

 

 

 

Hasil Wawancara Pakar

Narasumber:

Wina Wiwaha, M.Pd.

Jabatan:

Fasilitator Daerah Bahasa Indonesia Kab. Garut

Hari, Tanggal:

Senin, 12 September 2023 pukul 09.24

1.      Belum semua guru memiliki wawasan tentang model-model pembelajaran yang inovatif.

2.      Guru sering menggunakan model yang sama dalam setiap proses pembelajaran karena dianggap nyaman dengan gaya mengajar tertentu contohnya metode ceramah.

3.      Guru belum menggunakan model pembelajaran yang inovatif dalam pembelajaran unsur-unsur intrinsik teks cerita pendek sehingga siswa merasa bosan, pembelajaran monoton dan tujuan pembelajaran belum tercapai.

 

 

 

Hasil Wawancara Pakar

Narasumber:

Wulandari, M.Hum

Jabatan:

Dosen Linguistik di IAIN Syekh Nurjati

Hari, Tanggal:

Senin, 12 September 2023 pukul 11.30 (Via WhatsApp)

1.      Tidak semua guru di sekolah terampil memanfaatkan teknologi dalam media pembelajaran, sehingga siswa belum memahami materi unsur-unsur teks cerita pendek.

2.      Siswa secara komprehensif belum memahami unsur-unsur teks cerita pendek dalam bahasa Indonesia disebabkan oleh kurangnya pembiasaan literasi yang dilakukan siswa serta guru belum menerapkan model-model pembelajaran inovatif yang menunjang proses pembelajaran.

3.      Guru belum menumbuhkan minat membaca siswa pada teks sastra

 

1.      Penggunaan media pembelajaran yang digunakan oleh guru belum bervariatif. Guru seringnya memberikan media teks sastra, tanpa adanya visual atau audiovisual yang menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Kurangnya keterampilan guru menggunakan teknologi dalam membuat media pembelajaran yang menarik dan bervariatif itulah yang  menyebabkan siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam menganalisis unsur-unsur pada teks cerita pendek. (Hadijah, 2018)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.    Penerapan literasi dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia masih kurang. Guru belum menumbuhkan minat membaca siswa pada teks sastra. Kurangnya minat membaca siswa berpengaruh pada sedikitnya kosa kata yang dimiliki, sehingga kesulitan dalam memahami kata/kalimat dalam teks sastra.  Hal itu karena guru belum membiasakan siswa untuk membaca teks sastra sehingga siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam menganalisis unsur-unsur teks cerita pendek. (Hadijah Handayani, 2018)

 

3.      Penerapan satu model yang sering dilakukan oleh guru sehingga proses pembelajaran monoton seperti ceramah.  Hal itu terjadi karena kurangnya pengetahuan guru dalam menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif. Model pembelajaran yang sering dilakukan kurang membuat siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, atau pembelajaran masih berpusat pada guru. Pembelajaran yang dilakukan kurang menarik, sehingga menyebabkan siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam menganalisis unsur-unsur teks cerita pendek. (Mohamad Yakob, 2018)

 

 

 

 

 

 

 

 

4.      Kurangnya keterampilan guru dalam menggunakan media pembelajaran berbasis IT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.      Guru belum menggunakan media yang bervariatif berbasis teknologi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.      Belum semua guru memiliki wawasan tentang model pembelajaran inovatif

7.      Guru masih menggunakan satu gaya mengajar yang sama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8.      Guru belum menumbuhkan minat membaca siswa pada teks sastra

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  Inggriyani, Feby, dkk. (2020). Pendampingan Model Pembelajaran Inovatif menggunakan Kahoot sebagai Digital Game Based Learning di KKG Sekolah Dasar. Jurnal Publikasi Pendidikan. Volume 10 Nomor 1, Februari 2020. (59). http://ojs.unm.ac.id/index.php/pubpend.

Aminuddin. 1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.

Maiyanti, Sri dkk2021. Pemanfaatan

           Gawai Pada Adaptasi Teknologi

           Untuk Media Pembelajaran Bagi

          Guru SDN 9 Tanjung Batu Di

          Desa Limbang Jaya Kabupaten

         Ogan Ilir. Jurnal Iptek. https://www.researchgate.net/publication/ diunduh pada Jumat, 8 September

          2023 pukul 08.10

Sibua, Hadijah. 2018. Pengembangan Media Interaktif Pembelajaran Memahami Cerpen Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Simpang Empat. Prosiding seminar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2018. http://digilib.unimed.ac.id diunduh pada Rabu, 13 September 2023 pukul 08.20

Yakob, Mohamad. 2018. PENERAPAN METODE DISCOVERY LEARNING PADA MATERI AJAR UNSUR INTRINSIK CERPEN. ol. 1, No. 2, 2018 http://ejurnalunsam.id/index.php/JSB

              Diunduh pada Rabu, 13 September 2023, pukul 09.20

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Kemampuan menulis paragraf pada siswa dalam pembelajaran Teks Deskrispi di kelas VII masih rendah

 

(Dwi Nurwahyudi)

 

Guna mencermati eksplorasi penyebab masalah, ada dua referensi yang digunakan sebagai bahan penunjang yaitu kajian literatur dan wawancara

 

 

 

Rohmadi, Setiawan (2020:70) menjelaskan bahwa kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam menulis karangan deskripsi yaitu kesulitan untuk mengemukakan ide gagasan, mengembangkan kata menjadi kalimat, menentukan ejaan yang baik dan benar; dan konsentrasi dalam pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil eksplorasi Guru

Menurut Feby Inggriani, Dkk, (2021: 16). Dalam menulis karangan deskripsi, guru mengakui bahwa terdapat kendala yang biasanya dihadapi peserta didik. Mereka kesulitan menuangkan ide yang dimilikinya ke dalam bentuk kata dan menyusun menjadi kalimat. Guru pun merasa kesulitan membuka pemikiran peserta didik untuk menuangkan ide yang sudah ada pada pikiran peserta didik menjadi bentuk kata/kalimat. Hal ini menyebabkan minimnya kata-kata yang disusun menjadi sebuah karangan. Dengan demikian, guru dituntut untuk dapat mengatasi rendahnya minta membaca yaitu memberikan wacana yang menarik sehingga peserta didik termotivasi untuk gemar membaca, dan peserta didik untuk membiasakan latihan dengan bersungguh dalam membuat karangan agar mampu menyusun kata-kata dan mengembangkan kalimat.

.

 

 

 

 

(Hasil Wawancara dengan Kepala Madrasah, Guru, Rekan Sejawat, dan Pakar .)

Untuk mengetahui faktor penyebab rendahnya minat menulis siswa dalam pembelajaran Teks Deskrispi di kelas VII, maka perlu disajikan penguat berupa data. Maka,  dilakukan wawancara dengan beberapa narasumber.

Berikut hasil wawancara dengan beberapa narasumber tersebut :

 

 

Narasumber:  Jejen, S. Pd. I.

Jabatan: Wakil Kepala Bidang Kurikulum

Hari, Tanggal:

Senin, 11 September 2023. Pukul : 10.00WIB)

 

Menurut pendapat Bapak Jejen, S. Pd. I selaku Wakil Kepala  MTsN 3 Pandegalng faktor yang menjadi peyebab rendahnya minat menulis siswa dalam pembelajaran Teks Deskrispi di kelas VII adalah :

3)      Pelajaran Bahasa Indonesia membuat ngantuk karena banyak bacaan;

4)      Guru belum maksimal dalam membina siswa agar terampil menulis;

5)      Siswa mengalami kesulitan menulis dari jenjang kelas sebelumnya.

 

(Narasumber: Hendri Pradiyanto, S. Pd.

Jabatan:

Guru Bahasa Indonesia Kelas IX)

Hari, Tanggal:

Senin, 11 September 2023. Pukul : 07.30WIB)

 

Menurut pendapat pak Hendri guru bahasa Indonesia kelas IX/Fasda MGMP Bahasa Indonesia, yang menjadi peyebab rendahnya minat menulis siswa dalam pembelajaran Teks Deskrispi di kelas VII adalah :

1)      Pembelajaran yang monoton;

 

2)      Terbatasnya sumber atau refrensi pembelajaran;

Minat belajar peserta didik rendah.

Berdasarkan hasil kajian literatur dan wawancara, ditemukan bahwa siswa masih kesulitan dalam menulis paragraf teks deskripsi.

 

 

 

 

 

 

Menurut Slameto (2015) mengemukakan bahwa permasalahan yang menyebabkan rendahhnya kemampuan menulis peserta didik juga diakibatkan oleh dua faktor yakni internal dan eksternal.

a) Faktor internal

Faktor dari dalam (internal) adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu dan faktor yang mempengaruhinya seperti:

1) Kesehatan

Kesehatan tidak hanya bebas dari penyakit tapi sehat secara fisik, mental dan sosial yang utuh. Kesehatan memiliki dampak yang besar pada kegiatan belajar peserta didik.

Apabila peserta didik tidak sehat, ia akan tidak bersemagat pada semua kegiatannya dan peserta didik akan merasa lebih cepat lelah, pusing dan mengantuk.

2) Minat

Minat adalah memiliki rasa cinta dan ketertarikan terhadap sesuatu dan aktivitas tanpa mengatakan atau menerima hubungan antara diri sendiri dan apa pun selain diri sendiri. Minat adalah kecenderungan terus-menerus untuk terlibat dalam kegiatan. Minat berpengaruh besar pada kemampuan menulis siswa.

3) Motivasi

Motivasi didefinisikan sebagai dorongan, dorongan untuk melakukan, dan dorongan adalah gerak jiwa dan tindakan manusia. Selama proses belajar, perhatian harus diberikan pada apa yang dapat memotivasi anak untuk memperoleh kemampuan yang berbeda.

 

Lebih lanjut, menurut (Suparno dan Muhamad, 2007:14). Menulis   adalah   kegiatan   yang   produktif   yang   memberikan   beberapa manfaat  diantaranya  untuk  meningkatkan  kecerdasan,  mengembangkan  inisiatif dan  kreatifitas,  menumbuhkan  keberanian  anak,  untuk  mendorong  kemauan  dan keterampilan dalam mengumpulkan informasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Hartati (2006) ada macam-macam bentuk latihan menulis yang bisa dilaksanakan oleh peserta didik kelas rendah, khususnya kelas satu, antara lain :

a) Berlatih pegang alat tulis dan duduk di posisi yang benar untuk latihan menulis;

b) Berlatih menimpa tulisan yang ada untuk meniru dan menebalkan tulisan;

c) Berlatih menghubungkan titik-titik untuk membuat tulisan yang terdapat dalam sebuah

buku yang menyediakan latihan menulis;

d) Berlatih menyalin teks dari buku pembelajaran ataupun tulisan guru yang ada di papan

tulis;

e) Latihan mendikte;

f) Berlatih menatap tulisan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Feby Inggriani, Dkk, 2021, Analisis Kesulitan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Peserta Didik Di Sekolah Dasar, Jurnal Ilmiah PGSD Stkip Subang, 7 (1), Hal. 16

 

Slameto. (2015). Belajar Dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi (ke-6). PT Rineka Cipta

 

Suparno.Yunuf.Muhamad(2007). Keterampilan Dasar Menulis, Jakarta: Universitas terbuka

 

Sri Sanita ,Sri., Marta Rusdial., Nurhaswinda(2020), Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi dengan Metode Pembelajaran Field Triep, JOURNAL ON TEACHER EDUCATION, 2 (1), Hal. 241

 

 

3

Rendahnya kemampuan menulis peserta didik dalam Menulis Cerita fantasi/narasi

(Nuning Rohmaningsih)

 

 

1.    Sumber Kajian Literatur

 

Astuti (2018) Menyatakan bahwa kemampuan menulis teks narasi siswa masih rendah. Menurut penemuannya ada beberapa faktor yang mempengaruhi yakni:

1) penerapan model pembelajaran untuk menunjang pembelajaran  yang inovatif masih kurang,

2) kualitas proses pembelajaran yang masih rendah,

3) guru belum menggunakan media pembelajaran yang mampu membuat siswa tertarik dengan materi yang disampaikan, dan

4) minimnya penguasaan kosa kata yang dikuasai oleh siswa.

 

Daftar Pustaka:

Astuti, Wiwin (2018).Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Narasi Melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) pada Siswa Kelas VII SMPN 1 Madapangga. Skripsi: Universitas Muhammadiyah.  https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/6441-Full_Text.pdf Diakses 12 September 2023

 

 

 

Hasil Wawancara

 

a. Guru/Teman  Sejawat  (Tarmini,  S.Pd. Guru Bahasa Indonesia)

Penyebab rendahnya keterampilan menulis peserta didik dalam menulis cerita fantasi/narasi adalah sebagai berikut:

1.Aspek keterampilan berbahasa siswa dimulai dari kemampuan dia menyimak, berbicara, membaca, tingkatan akhirnya adalah menulis.

2.Kemampuan anak didik berbeda beda. Tidak semua rata menguasai komponen 4 keterampilan berbahasa. Mungkin solusinya dapat di pilah antara siswa yang minat tulis nya tinggi.

3.Pendidikan kesulitan menemukan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa.

4.semua model pembelajaran itu baik tapi untuk pembelajaran menulis bisa diterapkan model pembelajaran discovery

b. Kepala MTsN 4 Bandung Barat (Ali Mursid, M.M.Pd.)

 

Penyebab rendahnya keterampilan menulis peserta didik dalam menulis cerita fantasi/narasi adalah sebagai berikut:

1.  kurangnya fasilitas perpustakaan yang berhubungan dengan buku-buku fiksi dan nonfiksi di perpustakaan;

2.  Kurangnya minat baca siswa sehingga membatasi penguasaan kosakata;

3.  Pendidik kurang memanfaatkan perpustakaan untuk kegiatan pembelajaran bahasa;

4.  Pendidik tidak memberi motivasi siswa untuk menulis cerita.

 

 

 

c. Pakar (Iman Ruhimat, S.Pd. – Fasda Bahasa Indonesia)

Penyebab rendahnya keterampilan menulis peserta didik dalam menulis cerita fantasi/narasi adalah sebagai berikut:

1.  Peserta didik masih lemah dalam merangkai kalimat yang efektif ;

2.  Peserta didik masih kurang percaya diri mengungkapkan ide atau gagasannya.

3.  Rendahnya kemampuan literasi siswa terutama membaca karya sastra.

4.  Pendidik tidak membiasakan memberi keterampilan menulis cerita.

Pendidik harus mencoba menggunakan model pembelajaran yang inovatif contohnya penggunaan media visual/gambar.

Setelah dilakukan analisis terhadap hasil kajian literatur serta wawancara dapat diketahui bahwa:

 

1. Pendidik kurang berinovatif dalam mengunakan model pembelajaran. Pendidik masih menggunakan model lama yaitu ceramah dan tanya jawab. Jika model pembelajaran kurang inovatif maka materi yang disampaikan pun kurang menarik, salah satunya materi cerita fantasi terkesan monoton dan membosankan. Hal ini sejalan dengan hasil kajian literatur bahwa  pemilihan model pembelajaran yang kurang inovatif  menjadi faktor penyebab kemampuan menulis teks narasi siswa masih rendah (Astuti, 2018).

 

2. Pemilihan metode pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik materi dan kondisi siswa. Sedangkan pendidik sendiri mengalami kesulitan dalam menentukan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa. Akhirnya, pendidik terjebak pada metode yang sama. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya kemampuan menulis peserta didik dalam Menulis Cerita fantasi/narasi.  Sejalan dengan pernyataan yang disampaikan oleh Anggraeni (2020) menjelaskan bahwa ada 4 faktor yang mempengaruhi rendahnya keterampilan menulis siswa salah satunya yaitu, pendidik kesulitan menemukan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa.

 

3. Kegiatan pembelajaran masih berlangsung di kelas. Situasi dan kondisi ini membuat peserta didik jenuh dan bosan. Mereka hanya berganti guru dan mata pelajaran. Sedangkan siswa memerlukan suasana baru untuk menciptakan ide dan gagasan dalam menulis. Namun kenyataannya guru terutama guru bahasa belum memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana belajar siswa. Hal ini bisa menjadi penyebab rendahnya kemampuan menulis peserta didik dalam menulis cerita fantasi/narasi. Sejalan dengan pernyataan bahwa perpustakaan sekolah berfungsi sebagai penunjang belajar bagi para siswa juga membantu siswa dan guru dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah (Rosalin, 2008: 50)

 

 

4. Dalam pembelajaran terkadang pendidik terus menerus menggunakan metode yang sama yaitu, ceramah dan penugasan. Pendidik hanya mentrasfer ilmunya memalui materi yang diajarkan salah satunya di materi menulis cerita fantasi. Pendidik tidak memberikan tugas yang terstruktur berkaitan dengan keterampilan menulis. Pendidik hanya memberikan tugas tanpa ada pembahasan atau refleksi terhadap tugas yang dilakukan oleh peserta didik. Bahkan masih ada pendidik yang tidak memberikan tugas menulis cerita. Hal ini juga bisa menjadi faktor penyebab rendahnya kemampuan menulis peserta didik dalam menulis cerita fantasi/narasi. Sesuai dengan pernyataan bahwa Metode pemberian tugas diterapkan secara maksimal dan bermakna sebagaimana yang dikatakan oleh Hastuti (1998: 13) dalam Undugia (2009)

4.

Kesulitan siswa dalam memahami isi atau informasi yang terdapat pada Teks Berita.

 

(Herlina Wisari)

 

Hasil eksplorasi penyebab masalah yang diidentifikasi diperoleh dengan memperhatikan kajian literature dan wawancara dengan beberapa narasumber.

Kajian Literature

Bebarapa faktor penyebab siswa mengalami kesulitan dalam memahami isi atau informasi yang terdapat pada Teks Berita diantaranya, adalah :

1.      Ketidaktepatan pemilihan pendekatan pembelajaran (Ali dalam Dwike Awdya Yunanda, dkk 2022)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.      Kurangnya pemanfaatan teknologi (audio visual) pada pembelajaran Teks Berita. (Miarso, Yusufhadi : 2004)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.      Kurangnya motivasi belajar siswa, khususnya pada materi memahami isi atau informasi yang terdapat pada Teks berita (Bambang, Putranto, 2015)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.      Rendahnya budaya literasi siswa (Tarigan : 2018)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Wawancara dengan Kepala Madrasah, Guru, Rekan Sejawat, dan Pakar .

Untuk mengetahui faktor penyebab kesulitan siswa memahami isi atau informasi yang terdapat pada  Teks Berita, peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa narasumber.

Berikut hasil wawancara peniliti dengan beberapa narasumber tersebut:

Nama : Muliyadi, M.Pd

Hari  : Senin, 11 September 2023

Pukul : 08.30 WIB

 

Menurut pendapat Bapak Muliyadi, M.Pd. selaku Kepala MTs.N.1 Mukomuko faktor yang menjadi peyebab kesulitan siswa memahami isi informasi yang terdapat pada teks berita  diantaranya adalah :

1)      Literasi siswa yang masih rendah, umumnya siswa tidak sabar dalam membaca teks berita yang disajikan dalam bentuk yang panjang, ketidaksabaran itulah yang membuat siswa tergesa-gesa dalam membaca sehingga tidak dapat menangkap atau memahami informasi yang terdapat pada teks yang dibaca.

 

 

2)      Kurangnya minat dan motivasi belajar siswa. Minimnya  dorongan untuk belajar menyebabkan siswa tidak adak keinginan untuk memahami apa yang dipelajarinya. Guru seharusnya berperan aktif dalam upaya menumbuhkan motivasi kepada siswa dengan menyampaikan tujuan dan manfaat dari materi yang dipelajari dengan mengaitkannya manfaat secara kontekstual.

 

 

 

3)      Guru kurang variatif dalam mengaplikasikan model dan media pembelajaran. Sebagian guru masih berkutat pada pembelajaran konvesional yang menekankan pada metode pembelajaran ceramah yang berpusat pada guru.

 

 

 

 

 

Nama : Siska Eka Putri, S.Pd

Hari   : Jum’at 8 September 2023

Pukul : 08.30 WIB

 

Menurut pendapat Ibu Siska yang menjadi peyebab siswa kesulitan dalam memahami isi informasi Teks Berita diantaranya adalah :

1)      Minat dan motivasi belajar siswa yang masih rendah.

2)      Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran kurang diaplikasikan sehingga anak merasa bosan ketika belajar hanya disajikan secara konvesional,

3)      Budaya literasi siswa yang masih rendah, siswa tidak tebiasa membaca atau kemampuannya dalam membaca kosakata yang yang belum maksimal yang menyebabkan siswa merasa jenuh dan malas ketika harus membaca teks dalam bentuk yang panjang.

Nama : Tabrani, M.Pd.

Hari : Selasa, 12 September 2023

Pukul : 09.30 WIB

 

Menurut Bapak Tabrani, M.Pd. (Pengawas MTs. N.1 Mukomuko)  penyebab kesulitan siswa dalam memahami isi informasi Teks Berita, adalah sebagai berikut :

1)      Sebagian guru  belum memanfatkan teknologi untuk inovasi pembelajaran. Metode dan model pembelajaran konvesional yang diterapkan di kelas membuat kegiatan pembelajaran menjadi kurang menarik dan agak membosankan.

2)      Budaya literasi siswa yang masih minim. Siswa tidak terbiasa membaca teks yang panjang.

3)      Minat dan motivasi belajar siswa yang masih rendah, sehingga tidak ada keinginan dalam diri siswa untuk berusaha memahami teks yang dibaca.

4)      Sikap yang kurang positif pada pembelajaran Teks Berita

 

Analisis eksplorasi penyebab masalah, berdasarkan kajian litearasi dan  hasil wawancara dengan beberapa narasumber  adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

1.         Ketidaktepatan seorang guru dalam memilih pendekatan pembelajaran akan berdampak pada berhasil atau tidaknya ketercapaian tujuan pembelajaran di kelas.  Pendekatan pembelajaran merupakan jalan atau cara yang akan ditempuh dan digunakan oleh pendidik untuk memungkinkan siswa belajar sesuai dengan tujuan tertentu (Rahmawati, 2011:74).  Pemilihan pendekatan yang tidak tepat akan memberikan kesulitan pada siswa dalam memahami materi yang disamapaikan.

 

Selama ini pendekatan yang digunakan oleh guru masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan sehingga Pendekatan Teacher Centered menjadi pilihan utama dalam pembelajaran tersebut. Padahal seorang guru dapat menggunakan Pendekatan Student Centered yang mendorong siswa untuk mengerjakan sesuatu sebagai pengalaman praktik dan membangun makna atas pengalaman yang diperolehnya. Pusat pembelajaran diserahkan langsung ke peserta didik dengan supervisi dari Guru.

Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran seperti discovery learning dan inquiry (penyingkapan atau penyelidikan). Implementasi pendekatan yang berpusat pada siswa akan membuat proses  belajar menjadi lebih menarik,  menyenangkan, dan berkesan (Ali dalam Dwike Awdya Yunanda, dkk  2022)

 

 

2.         Banyak faktor yang berpengaruh atau mendukung terwujudnya proses pembelajaran yang berkualitas dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Salah satu di antara faktor yang dimaksudkan menurut Yusufhadi Miarso adalah penggunaan atau pemanfaatan teknologi dalam proses pendidikan dan pembelajaran.

Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran diharapkan dapat mengatasi kesulitan belajar siswa, melalui pemanfaatan teknologi seperti audio visual dapat membantu merangsang daya pikir siswa sehingga mudah dan cepat dalam menangkap isi materi yang disampaikan.  Namun pada kenyataannya, belum semua guru memanfaatkan TIK dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang diampunya walaupun mereka telah memahami bahwa strategi pembelajaran yang demikian ini sangat menunjang atau membantu tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran. (Miarso, Yusufhadi : 2004)

 

 

3.         Seorang guru berperan dalam menggali motivasi peserta didiknya. Motivasi berupa reward atau penghargaan dalam bentuk ucapan atau pemberian hadiah yang diberikan oleh guru akan memberikan dorongan atau semangat kepada peserta didik untuk belajar dengan baik.

Motivasi peserta didik  bisa berasal dari faktor  internal, seperti kondisi fisiologis dan psikologis, serta faktor eksternal seperti keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat di sekitar peserta didik.

Kemampuan guru dalam menumbuhkan semangat dan motivasi belajar peserta didik akan memberikan korelasi yang positif pada tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan (Bambang Putranto, 2015).

 

 

 

4.         Rendahnya budaya literasi atau minat baca siswa menyebabkan siswa mengalami kesulitan ketika diharuskan membaca teks yang panjang, umumnya mereka merasa bosan ketika harus membaca Teks Berita yang sebagian besar disajikan dalam bentuk atau pola paragraf yang panjang. Kurangnya minat baca, juga berpengaruh pada sedikitnya kosakata yang dimiliki atau dikuasai oleh siswa sehingga siswa kesulitan dalam memahami kata /kalimat dalam bentuk teks.  Budaya literasi perlu ditingkatkan mengingat pembelajaran bahasa Indonesia yang banyak menggunakan pendekatan berbasis teks. Melatih atau membiasakan membaca kepada siswa akan membantu siswa dalam proses pembelajaran guna tercapainya tujuan yang diharapkan (Tarigan, 2018). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2) Selain motivasi belajar yang masih rendah, minat belajar pun yang masih minim menjadi salah satu faktor pemicu siswa mengalami kesulitan dalam memahami isi atau informasi yang terdapat pada Teks Berita. Umumnya para siswa belum mengenal apa yang menjadi minat dan bakatnya oleh karena itu orang tua dan guru berperan dalam mengarahkan siswa untuk mengenal apa yang menjadi minat dan bakatnya. Pemahaman siswa terhadap minat dan bakatnya akan membantu siswa untuk menumbuhkan semangat belajarnya (Bambang, Putranto, 2015)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3) Model pembelajaran inovatif mempunyai peranan penting untuk memberikan kontribusi kepada siswa dalam membangun dan mengembangkan pengetahuan menuju perubahan yang lebih baik. Dalam kegiatan pembelajaran apabila guru kurang variatif dalam memilih model / media pembelajaran dan hanya berkutat pada satu jenis model / media  saja, maka akan menimbulkan kebosanan dalam diri siswa dan berimbas pada ketidaktercapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kurikulum Abad 21 menuntut guru untuk mampu mengaplikasikan berbagai model dan media pembelajaran untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menarik bagi peserta didik  (Conny dalam Kenedi, 2017).

 

 

4) Sikap yang kurang positif terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia bisa memberikan dampak yang kurang baik bagi peserta didik. Anggapan Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang sulit dan agak menjenuhkan akan membuat peserta didik seakan memberikan penolakan pada saat ada penyampaian materi pelajaran yang berkaitan dengan Bahasa Indonesia. Sudah Seyogyanya perasaan kurang positif terhadap pelajaran Bahasa Indonesia itu harus dihilangkan guna memberi ruang penerimaan pada saat materi pelajaran Bahasa Indonesia disampaikan. Selalu bersikap positif terhadap pelajaran yang diajarkan akan membantu siswa untuk mudah dalam memahami materi pembelajaran (Yanti, 2016)

 

 

Daftar Pustaka

 

Kenedi. 2017. Pengembangan Keativitas Siswa dalam Proses Pembelajaran di Kelas II SMP

        Negeri 3 Rokan IV Koto. Suara Guru : Jurnal Ilmu Pendidikan Sosial, Sains, dan

        Humaniora Vol.3

        https://ejournal.uinsuska.ac.id/index.php/suaraguru/article/viewFile/3610/2131

        (diakses Rabu, 13 September 2023)

 

Miarso, Y. 2004, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

 

Mulyani, Sri. 2015: Kendala Guru Memanfaatkan Media IT dalam Pembelajaran.  

        https://jim.uskac.id > pgsd> article> viewFile. Diakses pada tanggal 11, September

        2023.

 

Putranto, Bambang. 2018. Tips Menangani Siswa yang Membutuhkan Perhatian

         Khusus.Yogyakarta: Diva Press.

 

 

Tarigan, N. T. (2018). Pengembangan Buku Cerita Bergambar Untuk Meningkatkan Minat Baca

          Siswa Kelas Iv Sekolah Dasar. Jurnal Curere, 2(2), 2597–9515.

 

 

Rahmawati, Fitriana. (2011). Pengaruh pembelajaran Geometri dengan Pendekatan Induktif.

         Edumatica. Vol. 01. No. 02, hal. 74-75.

 

Yunanda, Dwike Awdya, dkk. 2022 “ Peran Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Pada Pembelajaran 

         Keterampilan Menulis Siswa”. Jurnal Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol.7

         Nomor 3 Desember 2022 https://jurnal.unimor.ac.id/index.php/JBI/article/download/3847/1212

         (diakses Rabu, 13 september 2023)

 

5.

Siswa belum memiliki kemampuan dalam menulis teks resensi

 

(Khoirul Ummah

Kajian Literatur

Feby Inggriyani, dkk (2020) berpendapat bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih monoton. Hal ini terjadi karena sebagian guru belum mampu merancang perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model pembelajaran inovatif.

 

 

 

 

 

 

Menurut Sri Lestari (2019) Kendala pemanfaatan TIK oleh guru adalah tidak adanya akses, tidak adaanya sarana TIK, pembelajaran tidak mengintegrasikan TIK, guru tidak memiliki pengetahuan tentang TIK, dan tidak adanya kemauan guru untuk memanfaatkan TIK.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil wawancara dengan Kepala sekolah, guru, dan wakil kurikulum

1.         Bapak Drs.H.AT saepuloh (Kepala MAN Bandung Barat)

Senin, 11 September pukul 09.00 WIB

Bapak H AT Saepuloh mengatakan bahwa pembelajaran menulis masih belum optimal karena guru masih ada di zona nyaman, tidak mau berinovasi, terutama guru-guru yang sudah tua, dan tidak membimbing dengan serius dengan mengecek perkembangan tulisan siswa secara berkala. Guru banyak yang belum menguasai IT dan belum banyak guru yang mengikuti pelatihan IT, cara mengajar, model-model pembelajaran

 

 

 

2.         Ibu Elisa Yustina (waka kurikulum MAN Bandung Barat)

Senin, 11 September pukul 09.00 WIB

Ibu Elisa selaku waka kurikulum menyebutkan bahwa guru belum menguasai model-model pembelajaran. Guru belum membimbing secara intens menulis, terutama dalam menulis hasil penelitian untuk persiapan myres, padahal madrasah ini madrasah riset. Guru pun belum memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran sehingga proses belajar mengajar monoton bagi siswa.

 

 

 

 

3.         Ibu Reni dewi Maharani (guru bahasa Indonesia)

Senin, 11 September pukul 08.00 WIB

Ibu Reni menyatakan bahwa kemampuan siswa dalam menulis masih sebatas tulisan sederhana. Hal ini dikarenakan siswa tidak suka membaca sedangkan kemampuan menulis erat kaitannya dengan membaca. Semakin banyak membaca, pembendaharaan katanya semakin banyak. Siswa yang kurang literasi akan susah untuk memilih kata dan menyusun kalimat dalam menulis. Kesalahan guru biasanya langsung memberi penugasan menulis tanpa ada arahan dalam proses penulisannya. Guru masih mengandalkan metode ceramah dalam menyampaikan materi dan memberikan contoh melalui teks yang ada pada buku paket dan LKS.

 

 

4.         Ibu Elit kurnia (Fasilitator daerah mapel bahasa Indonesia)

Selasa, 12 September pukul 08.20 WIB

Ibu Elit mengatakan bahwa siswa kurang literasi membaca. Siswa juga kurang referensi/contoh bacaan terkait materi resensi. Guru menggunakan metode yang kurang tepat. Guru tidak maksimal memanfaatkan media

 

 

5.         Bapak Drs. Agus Budiono, M.Ed (Dosen mata kuliah pengembangan kurikulum STAI YAMISA)

Selasa, 12 september pukul 10.00 WIB

Bapak Agus Budiono menyampaikan bahwa siswa sulit menuangkan ide/gagasan karena jarang distimulus untuk bercerita sejak dini sehingga kesulitan saat diberi materi tentang menulis. Selain itu guru belum mampu menggunakan metode tepat dan guru tidak memberikan tugas menulis sebagai tugas projek yang bisa dikerjakan di rumah.

1.         Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis resensi karena pembelajaran yang dilakukan guru masih monoton dan belum menggunakan model pembelajaran yang  inovatif. Hal ini membuat siswa kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran, siswa mengantuk, tidak konsentrasi, yang menyebabkan materi belum diserap dengan baik sehingga saat siswa diminta menulis teks resensi, siswa  belum memiliki kemampuan dalam menulis teks tersebut. (Inggriyani, dkk:2020)

 

 

2.         Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis resensi dikarenakan guru belum menggunakan TIK dalam pembelajaran  untuk membatu siswa lebih memahami materi menulis teks resensi. Guru hanya memberikan contoh resensi lewat satu contoh teks saja sehingga siswa hanya memiliki satu referensi sebagai contoh tulisan resensi. Guru tidak memberikan beberapa contoh teks resensi dengan menggunakan teknologi, misalnya mencari contoh lewat internet, atau guru memberi contoh per unsur resensi lewat power point dan sebagainya, agar siswa semakin memahami unsur-unsur resensi dan membuat siswa mudah menulis resensi (Lestari: 2019)

 

 

 

3.         Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis resensi dikarenakan guru kurang serius mengecek perkembangan tulisan siswa secara berkala. Guru hanya menandai kata-kata atau tanda baca yang salah tanpa memberi penjelasan penyebab kesalahannya. Guru juga tidak menuliskan kekurangan-kekurangan yang ada dalam tulisan tersebut, hanya memberi nilai saja sehingga siswa belum terpacu untuk memperbaiki tulisan pada saat ditugaskan untuk membuat tulisan baru. Siswa hanya melaksanakan tugas dari berdasarkan materi yang guru sampaikan, namun tidak teliti dalam penulisan kata-kata. Siswa juga hanya melihat nilai yang didapatkan tanpa melihat apa saja kekurangan yang ada dalam tulisan tersebut.

 

 

4.         Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis resensi karena siswa masih sulit dalam membaca sehingga pembendaharaan katanya sedikit. Hal ini membuat siswa kesulitan untuk memilih kata dan menyusun kalimat. Pada saat pembelajaran, guru memberikan contoh teks resensi, kemudian  langsung memberi tugas kepada siswa tanpa ada arahan dalam proses menulis. Guru tidak menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menulis teks resensi sehingga siswa pun bingung untuk membuat teks resensi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.         Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis resensi karena guru masih kurang memberikan contoh-contoh/referensi dalam menulis teks resensi. Hal ini membuat siswa hanya terpaku pada contoh resensi yang diberikan oleh guru dan cenderung mengikuti kata-kata yang ada dalam contoh resensi, sehingga saat dibenturkan dengan teks cerpen yang harus diresensinya, siswa kesulitan  menghubungkan kata-kata yang pas sesuai dengan usalan cerpen yang sbebenarnya.

 

6.         Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis resensi karena siswa kesulitan menuangkan ide/gagasan karena sejak kecil jarang distimulus untuk banyak bercerita sehingga ketika ada materi yang mengharuskan siswa menulis, maka siswa kesulitan dalam menuangkan ide ke dalam tulisannya. Siswa bingung cara menulis pembukaan resensi, memilih kata yang sesuai, dan penggunaan tanda baca yang sesuai dalam tulisan resensinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka:

 

Lestari, Sri. (2019). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan TIK oleh Guru. Vol. 3

No. 2, Edisi Desember 2019 : (121).

2021. Pemanfaatan Gawai Pada Adaptasi Teknologi Untuk Media Pembelajaran Bagi

         Guru SDN 9 Tanjung Batu Di Desa Limbang Jaya Kabupaten Ogan Ilir. Jurnal

          Iptek. https://www.researchgate.net/publication/ diunduh pada Jumat, 8 September

          2023 pukul 08.10

Inggriyani, Feby, dkk. (2020). Pendampingan Model Pembelajaran Inovatif menggunakan Kahoot sebagai Digital Game Based Learning di KKG Sekolah Dasar. Jurnal Publikasi Pendidikan. Volume 10 Nomor 1, Februari 2020. (59). http://ojs.unm.ac.id/index.php/pubpend.

 

 

Komentar

Postingan Populer