LK 1.2 Eksplorasi Masalah PPG Daljab Bahasa Indonesia K1 2023
Nama : Andina Sopandi N
NPK :
2952040007096
Satuan Kerja : MTs Negeri 1 Garut
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
|
No. |
Masalah
yang telah diidentifikasi |
Hasil
eksplorasi penyebab masalah |
Analisis
eksplorasi penyebab masalah |
|
1. |
Siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam
menganalisis unsur-unsur teks cerita
pendek di kelas IX. |
1.
(Sri Indra Maiyanti, 2021) peningkatan
kompetensi guru masih kurang optimal dalam adaptasi teknologi dalam
pemanfaatan gawai (ponsel, laptop, dan tablet) untuk mendukung proses dan
evaluasi pembelajaran, baik pembelajaran secara daring maupun luring. Guru belum menggunakan media
pembelajaran berbasis teknologi yang bervariatif 2.
(Aminuddin, 1991:15)
mengatakan Upaya pemahaman unsur-unsur dalam bacaan sastra tidak dapat
dilepaskan dari masalah membaca. Guru belum menumbuhkan minat
membaca siswa pada teks sastra. 3.
Feby Inggriyani, dkk (2020)
berpendapat bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih
monoton. Hal
ini terjadi karena
sebagian guru belum
mampu merancang perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model pembelajaran inovatif. Guru belum menggunakan model pembelajaran yang
inovatif. Hasil Wawancara Kamad Narasumber: Drs. H. Rusdi Saleh, M.Pd. Jabatan: Kepala
MTs Negeri 1 Garut Hari,
Tanggal: Senin,
11 September 2023 pukul 08.10 Penggunaan
teknologi dalam pembelajaran belum dilaksanakan secara menyeluruh oleh guru-guru karena
terbatasnya kompetensi guru dalam menggunakan teknologi dalam menyusun media
pembelajaran. Salah satu yang menghambat guru menggunakan media
berbasis teknologi karena faktor usia yang membuat beberapa guru belum mahir
menguasai teknologi juga fasilitas sekolah yang belum memadai. Hasil Wawancara Ketua MGMP Narasumber: Imas Winayawarti, S.Pd. Jabatan: Guru
Bahasa Indonesia MTsN
1 Garut Hari,
Tanggal: Minggu,
10 September 2023 pukul 16.10 (Via WhatsApp) 1)
Belum semua guru menggunakan media teknologi yang bervariatif dalam
proses pembelajaran teks cerita pendek karena belum terampil
menggunakan teknologi sehingga media yang digunakan tidak bervariatif. 2)
Kendala yang dialami saat
menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran adalah terbatasnya fasilitas
sekolah seperti proyektor yang hanya bisa digunakan oleh beberapa guru saja. Hasil Wawancara Pakar Narasumber: Wina Wiwaha, M.Pd. Jabatan: Fasilitator
Daerah Bahasa Indonesia Kab. Garut Hari,
Tanggal: Senin,
12 September 2023 pukul 09.24 1. Belum semua guru memiliki
wawasan tentang model-model pembelajaran yang inovatif. 2.
Guru sering menggunakan model yang sama dalam
setiap proses pembelajaran karena dianggap nyaman dengan gaya mengajar
tertentu contohnya metode ceramah. 3.
Guru belum menggunakan model
pembelajaran yang inovatif dalam pembelajaran unsur-unsur intrinsik teks
cerita pendek sehingga siswa merasa bosan, pembelajaran monoton dan tujuan
pembelajaran belum tercapai. Hasil Wawancara Pakar Narasumber: Wulandari, M.Hum Jabatan: Dosen
Linguistik di IAIN Syekh Nurjati Hari,
Tanggal: Senin,
12 September 2023 pukul 11.30 (Via WhatsApp) 1.
Tidak semua guru di sekolah
terampil memanfaatkan teknologi dalam media pembelajaran, sehingga siswa
belum memahami materi unsur-unsur teks cerita pendek. 2.
Siswa secara komprehensif belum
memahami unsur-unsur teks cerita pendek dalam bahasa Indonesia disebabkan
oleh kurangnya pembiasaan literasi yang dilakukan siswa serta guru belum
menerapkan model-model pembelajaran inovatif yang menunjang proses pembelajaran. 3. Guru belum menumbuhkan minat
membaca siswa pada teks sastra |
1.
Penggunaan media pembelajaran yang digunakan
oleh guru belum bervariatif. Guru
seringnya memberikan media teks sastra, tanpa adanya visual atau audiovisual
yang menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Kurangnya
keterampilan guru menggunakan teknologi dalam membuat media pembelajaran yang
menarik dan bervariatif itulah yang
menyebabkan siswa
memiliki kemampuan yang rendah dalam menganalisis unsur-unsur pada
teks cerita pendek. (Hadijah, 2018) 2.
Penerapan literasi dalam proses
pembelajaran bahasa Indonesia masih kurang. Guru belum menumbuhkan minat membaca siswa pada teks
sastra. Kurangnya minat membaca siswa berpengaruh pada sedikitnya kosa
kata yang dimiliki, sehingga kesulitan dalam memahami kata/kalimat dalam teks
sastra. Hal itu karena guru belum
membiasakan siswa untuk membaca teks sastra sehingga siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam
menganalisis unsur-unsur teks cerita pendek. (Hadijah Handayani, 2018) 3.
Penerapan satu model yang sering
dilakukan oleh guru sehingga proses pembelajaran monoton seperti
ceramah. Hal itu terjadi karena kurangnya pengetahuan
guru dalam menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif. Model
pembelajaran yang sering dilakukan kurang membuat siswa berpartisipasi aktif
dalam pembelajaran, atau pembelajaran masih berpusat pada guru. Pembelajaran
yang dilakukan kurang menarik, sehingga menyebabkan siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam
menganalisis unsur-unsur teks cerita pendek. (Mohamad Yakob, 2018) 4.
Kurangnya keterampilan guru dalam
menggunakan media pembelajaran berbasis IT 5.
Guru belum menggunakan media yang
bervariatif berbasis teknologi 6.
Belum semua guru memiliki wawasan
tentang model pembelajaran inovatif 7.
Guru masih menggunakan satu gaya
mengajar yang sama 8.
Guru belum menumbuhkan minat
membaca siswa pada teks sastra DAFTAR
PUSTAKA Inggriyani,
Feby, dkk. (2020). Pendampingan Model Pembelajaran Inovatif menggunakan Kahoot
sebagai Digital Game Based
Learning di KKG
Sekolah Dasar. Jurnal Publikasi Pendidikan. Volume 10 Nomor
1, Februari 2020. (59). http://ojs.unm.ac.id/index.php/pubpend. Aminuddin. 1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra.
Bandung: Sinar Baru. Maiyanti, Sri dkk2021. Pemanfaatan Gawai Pada Adaptasi Teknologi Untuk Media Pembelajaran Bagi Guru SDN 9 Tanjung Batu Di Desa Limbang Jaya Kabupaten Ogan Ilir. Jurnal
Iptek. https://www.researchgate.net/publication/ diunduh pada Jumat, 8 September 2023
pukul 08.10 Sibua, Hadijah. 2018. Pengembangan Media Interaktif
Pembelajaran Memahami Cerpen Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Simpang Empat. Prosiding seminar
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
2018. http://digilib.unimed.ac.id diunduh pada Rabu, 13
September 2023 pukul 08.20 Yakob, Mohamad. 2018. PENERAPAN METODE DISCOVERY LEARNING
PADA MATERI AJAR UNSUR INTRINSIK CERPEN. ol. 1, No. 2, 2018 http://ejurnalunsam.id/index.php/JSB Diunduh pada Rabu, 13 September
2023, pukul 09.20 |
|
2 |
Kemampuan menulis paragraf pada siswa dalam
pembelajaran Teks Deskrispi di kelas VII masih rendah (Dwi Nurwahyudi) |
Guna mencermati
eksplorasi penyebab masalah, ada dua referensi yang digunakan sebagai bahan
penunjang yaitu kajian literatur dan wawancara Rohmadi, Setiawan
(2020:70) menjelaskan bahwa kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam
menulis karangan deskripsi yaitu kesulitan untuk mengemukakan ide gagasan,
mengembangkan kata menjadi kalimat, menentukan ejaan yang baik dan benar; dan
konsentrasi dalam pembelajaran. Hasil eksplorasi Guru Menurut Feby
Inggriani, Dkk, (2021: 16). Dalam menulis karangan deskripsi, guru
mengakui bahwa terdapat kendala yang biasanya dihadapi peserta didik. Mereka
kesulitan menuangkan ide yang dimilikinya ke dalam bentuk kata dan menyusun
menjadi kalimat. Guru pun merasa kesulitan membuka pemikiran peserta didik
untuk menuangkan ide yang sudah ada pada pikiran peserta didik menjadi bentuk
kata/kalimat. Hal ini menyebabkan minimnya kata-kata yang disusun menjadi sebuah
karangan. Dengan demikian, guru dituntut untuk dapat mengatasi rendahnya
minta membaca yaitu memberikan wacana yang menarik sehingga peserta didik
termotivasi untuk gemar membaca, dan peserta didik untuk membiasakan latihan
dengan bersungguh dalam membuat karangan agar mampu menyusun kata-kata dan
mengembangkan kalimat. . (Hasil Wawancara dengan Kepala
Madrasah, Guru, Rekan Sejawat, dan Pakar .) Untuk
mengetahui faktor penyebab rendahnya minat menulis siswa
dalam pembelajaran Teks Deskrispi di kelas VII, maka perlu disajikan penguat
berupa data. Maka, dilakukan wawancara dengan beberapa narasumber. Berikut hasil wawancara dengan beberapa
narasumber tersebut : Narasumber: Jejen, S. Pd. I. Jabatan: Wakil Kepala Bidang Kurikulum Hari, Tanggal: Senin, 11 September
2023. Pukul : 10.00WIB) Menurut pendapat Bapak Jejen,
S. Pd. I selaku
Wakil Kepala MTsN 3 Pandegalng faktor yang
menjadi peyebab rendahnya minat menulis siswa
dalam pembelajaran Teks Deskrispi di kelas VII adalah : 3) Pelajaran Bahasa
Indonesia membuat ngantuk karena banyak bacaan; 4) Guru belum maksimal
dalam membina siswa agar terampil menulis; 5) Siswa mengalami
kesulitan menulis dari jenjang kelas sebelumnya. (Narasumber: Hendri Pradiyanto, S. Pd. Jabatan: Guru Bahasa
Indonesia Kelas IX) Hari, Tanggal: Senin, 11 September
2023. Pukul : 07.30WIB) Menurut pendapat pak
Hendri guru bahasa Indonesia kelas IX/Fasda MGMP Bahasa Indonesia, yang menjadi peyebab rendahnya
minat menulis siswa
dalam pembelajaran Teks Deskrispi di kelas VII adalah : 1) Pembelajaran yang
monoton; 2) Terbatasnya sumber
atau refrensi pembelajaran; Minat belajar peserta didik rendah. |
Berdasarkan hasil kajian literatur dan wawancara,
ditemukan bahwa siswa masih kesulitan dalam menulis paragraf teks deskripsi. Menurut Slameto (2015) mengemukakan bahwa
permasalahan yang menyebabkan rendahhnya kemampuan menulis peserta didik juga
diakibatkan oleh dua faktor yakni internal dan eksternal. a) Faktor internal Faktor dari dalam (internal) adalah faktor yang
berasal dari dalam diri individu dan faktor yang mempengaruhinya seperti: 1) Kesehatan Kesehatan tidak hanya bebas dari penyakit tapi sehat
secara fisik, mental dan sosial yang utuh. Kesehatan memiliki dampak yang
besar pada kegiatan belajar peserta didik. Apabila peserta didik tidak sehat, ia akan tidak
bersemagat pada semua kegiatannya dan peserta didik akan merasa lebih cepat
lelah, pusing dan mengantuk. 2) Minat Minat adalah memiliki rasa cinta dan ketertarikan
terhadap sesuatu dan aktivitas tanpa mengatakan atau menerima hubungan antara
diri sendiri dan apa pun selain diri sendiri. Minat adalah kecenderungan
terus-menerus untuk terlibat dalam kegiatan. Minat berpengaruh besar pada
kemampuan menulis siswa. 3) Motivasi Motivasi didefinisikan sebagai dorongan, dorongan
untuk melakukan, dan dorongan adalah gerak jiwa dan tindakan manusia. Selama
proses belajar, perhatian harus diberikan pada apa yang dapat memotivasi anak
untuk memperoleh kemampuan yang berbeda. Lebih lanjut, menurut (Suparno dan Muhamad,
2007:14). Menulis adalah kegiatan
yang produktif yang
memberikan beberapa
manfaat diantaranya untuk
meningkatkan kecerdasan, mengembangkan inisiatif dan kreatifitas, menumbuhkan
keberanian anak, untuk
mendorong kemauan dan keterampilan dalam mengumpulkan
informasi. Menurut Hartati (2006) ada macam-macam bentuk
latihan menulis yang bisa dilaksanakan oleh peserta didik kelas rendah,
khususnya kelas satu, antara lain : a) Berlatih pegang alat tulis dan duduk di posisi
yang benar untuk latihan menulis; b) Berlatih menimpa tulisan yang ada untuk meniru
dan menebalkan tulisan; c) Berlatih menghubungkan titik-titik untuk membuat
tulisan yang terdapat dalam sebuah buku yang menyediakan latihan menulis; d) Berlatih menyalin teks dari buku pembelajaran
ataupun tulisan guru yang ada di papan tulis; e) Latihan mendikte; f) Berlatih menatap tulisan. Daftar Pustaka Feby Inggriani, Dkk, 2021, Analisis Kesulitan
Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Peserta Didik Di Sekolah Dasar,
Jurnal Ilmiah PGSD Stkip Subang, 7 (1), Hal. 16 Slameto. (2015). Belajar Dan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi (ke-6). PT Rineka Cipta Suparno.Yunuf.Muhamad(2007).
Keterampilan Dasar Menulis, Jakarta: Universitas terbuka Sri Sanita ,Sri., Marta
Rusdial., Nurhaswinda(2020), Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi
dengan Metode Pembelajaran Field Triep, JOURNAL ON TEACHER EDUCATION, 2 (1),
Hal. 241 |
|
3 |
Rendahnya kemampuan menulis peserta didik dalam Menulis
Cerita fantasi/narasi (Nuning Rohmaningsih) |
1. Sumber
Kajian Literatur Astuti (2018) Menyatakan bahwa kemampuan
menulis teks narasi siswa masih rendah. Menurut penemuannya ada beberapa faktor yang mempengaruhi yakni: 1) penerapan model pembelajaran untuk menunjang
pembelajaran yang inovatif masih kurang, 2) kualitas proses pembelajaran yang masih rendah, 3) guru belum menggunakan media pembelajaran yang mampu
membuat siswa tertarik dengan materi yang disampaikan, dan 4) minimnya penguasaan kosa kata yang dikuasai oleh siswa. Daftar Pustaka: Astuti, Wiwin (2018).Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Narasi Melalui
Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) pada Siswa Kelas
VII SMPN 1 Madapangga. Skripsi: Universitas Muhammadiyah. https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/6441-Full_Text.pdf
Diakses 12 September 2023 Hasil Wawancara a. Guru/Teman
Sejawat (Tarmini, S.Pd. Guru Bahasa Indonesia) Penyebab rendahnya
keterampilan menulis peserta didik dalam menulis cerita fantasi/narasi adalah
sebagai berikut: 1.Aspek keterampilan berbahasa siswa dimulai dari kemampuan dia menyimak,
berbicara, membaca, tingkatan akhirnya adalah menulis. 2.Kemampuan anak didik berbeda beda. Tidak semua rata menguasai komponen 4
keterampilan berbahasa. Mungkin solusinya dapat di pilah antara siswa yang
minat tulis nya tinggi. 3.Pendidikan kesulitan menemukan metode pembelajaran menulis yang
sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa. 4.semua model pembelajaran itu baik tapi untuk pembelajaran menulis bisa
diterapkan model pembelajaran discovery b. Kepala MTsN 4 Bandung Barat (Ali Mursid, M.M.Pd.) Penyebab rendahnya
keterampilan menulis peserta didik dalam menulis cerita fantasi/narasi adalah
sebagai berikut: 1. kurangnya fasilitas perpustakaan yang berhubungan dengan buku-buku fiksi dan
nonfiksi di perpustakaan; 2. Kurangnya minat baca siswa sehingga membatasi penguasaan kosakata; 3. Pendidik kurang memanfaatkan perpustakaan untuk kegiatan pembelajaran
bahasa; 4. Pendidik tidak memberi motivasi siswa untuk menulis cerita. c. Pakar (Iman
Ruhimat, S.Pd. – Fasda Bahasa Indonesia) Penyebab rendahnya
keterampilan menulis peserta didik dalam menulis cerita fantasi/narasi adalah
sebagai berikut: 1. Peserta didik masih lemah dalam merangkai kalimat yang efektif ; 2. Peserta didik masih kurang percaya diri mengungkapkan ide atau
gagasannya. 3. Rendahnya kemampuan literasi siswa terutama membaca karya sastra. 4. Pendidik tidak membiasakan memberi keterampilan menulis cerita. Pendidik harus mencoba
menggunakan model pembelajaran yang inovatif contohnya penggunaan media
visual/gambar. |
Setelah dilakukan analisis
terhadap hasil kajian literatur serta wawancara dapat diketahui bahwa: 1. Pendidik kurang berinovatif
dalam mengunakan model pembelajaran. Pendidik masih menggunakan model lama
yaitu ceramah dan tanya jawab. Jika model pembelajaran kurang inovatif maka
materi yang disampaikan pun kurang menarik, salah satunya materi cerita
fantasi terkesan monoton dan membosankan. Hal ini sejalan dengan hasil kajian
literatur bahwa pemilihan model
pembelajaran yang kurang inovatif
menjadi faktor penyebab kemampuan menulis teks narasi siswa masih
rendah (Astuti, 2018). 2. Pemilihan metode
pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik materi dan kondisi siswa.
Sedangkan pendidik sendiri mengalami kesulitan dalam menentukan metode
pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa.
Akhirnya, pendidik terjebak pada metode yang sama. Hal inilah yang
menyebabkan rendahnya kemampuan menulis peserta didik dalam Menulis Cerita
fantasi/narasi. Sejalan dengan
pernyataan yang disampaikan oleh Anggraeni (2020) menjelaskan bahwa ada 4
faktor yang mempengaruhi rendahnya keterampilan menulis siswa salah satunya
yaitu, pendidik kesulitan menemukan metode pembelajaran menulis yang sesuai
dengan kondisi dan kemampuan siswa. 3. Kegiatan pembelajaran
masih berlangsung di kelas. Situasi dan kondisi ini membuat peserta didik
jenuh dan bosan. Mereka hanya berganti guru dan mata pelajaran. Sedangkan
siswa memerlukan suasana baru untuk menciptakan ide dan gagasan dalam
menulis. Namun kenyataannya guru terutama guru bahasa belum memanfaatkan
perpustakaan sebagai sarana belajar siswa. Hal ini bisa menjadi penyebab
rendahnya kemampuan menulis peserta didik dalam menulis cerita
fantasi/narasi. Sejalan dengan pernyataan bahwa perpustakaan sekolah
berfungsi sebagai penunjang belajar bagi para siswa juga membantu siswa dan
guru dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah (Rosalin, 2008:
50) 4. Dalam pembelajaran
terkadang pendidik terus menerus menggunakan metode yang sama yaitu, ceramah
dan penugasan. Pendidik hanya mentrasfer ilmunya memalui materi yang
diajarkan salah satunya di materi menulis cerita fantasi. Pendidik tidak
memberikan tugas yang terstruktur berkaitan dengan keterampilan menulis.
Pendidik hanya memberikan tugas tanpa ada pembahasan atau refleksi terhadap
tugas yang dilakukan oleh peserta didik. Bahkan masih ada pendidik yang tidak
memberikan tugas menulis cerita. Hal ini juga bisa menjadi faktor penyebab
rendahnya kemampuan menulis peserta didik dalam menulis cerita
fantasi/narasi. Sesuai dengan pernyataan bahwa Metode pemberian tugas
diterapkan secara maksimal dan bermakna sebagaimana yang dikatakan oleh
Hastuti (1998: 13) dalam Undugia (2009) |
|
4. |
Kesulitan siswa dalam memahami isi atau informasi
yang terdapat pada Teks Berita. (Herlina Wisari) |
Hasil eksplorasi penyebab masalah yang
diidentifikasi diperoleh dengan memperhatikan kajian literature dan wawancara
dengan beberapa narasumber. Kajian Literature Bebarapa faktor penyebab siswa mengalami
kesulitan dalam memahami isi atau informasi yang terdapat pada Teks Berita diantaranya,
adalah : 1.
Ketidaktepatan pemilihan pendekatan pembelajaran (Ali dalam Dwike Awdya Yunanda, dkk 2022) 2.
Kurangnya pemanfaatan teknologi (audio visual) pada pembelajaran Teks Berita.
(Miarso, Yusufhadi : 2004) 3.
Kurangnya motivasi belajar siswa, khususnya pada materi memahami isi atau informasi
yang terdapat pada Teks berita (Bambang, Putranto,
2015) 4.
Rendahnya
budaya literasi siswa (Tarigan : 2018) Hasil Wawancara dengan Kepala Madrasah, Guru,
Rekan Sejawat, dan Pakar . Untuk mengetahui faktor penyebab kesulitan siswa
memahami isi atau informasi yang terdapat pada Teks Berita, peneliti juga melakukan
wawancara dengan beberapa narasumber. Berikut hasil wawancara peniliti dengan beberapa
narasumber tersebut: Nama :
Muliyadi, M.Pd Hari : Senin, 11 September 2023 Pukul : 08.30
WIB Menurut pendapat Bapak Muliyadi, M.Pd. selaku
Kepala MTs.N.1 Mukomuko faktor yang menjadi peyebab kesulitan siswa memahami
isi informasi yang terdapat pada teks berita
diantaranya adalah : 1)
Literasi siswa
yang masih rendah, umumnya siswa tidak sabar dalam membaca teks berita yang
disajikan dalam bentuk yang panjang, ketidaksabaran itulah yang membuat siswa
tergesa-gesa dalam membaca sehingga tidak dapat menangkap atau memahami
informasi yang terdapat pada teks yang dibaca. 2)
Kurangnya
minat dan motivasi belajar siswa. Minimnya
dorongan untuk belajar menyebabkan siswa tidak adak keinginan untuk
memahami apa yang dipelajarinya. Guru seharusnya berperan aktif dalam upaya
menumbuhkan motivasi kepada siswa dengan menyampaikan tujuan dan manfaat dari
materi yang dipelajari dengan mengaitkannya manfaat secara kontekstual. 3)
Guru kurang
variatif dalam mengaplikasikan model dan media pembelajaran. Sebagian guru
masih berkutat pada pembelajaran konvesional yang menekankan pada metode
pembelajaran ceramah yang berpusat pada guru. Nama : Siska
Eka Putri, S.Pd Hari :
Jum’at 8 September 2023 Pukul : 08.30
WIB Menurut pendapat Ibu Siska yang menjadi peyebab
siswa kesulitan dalam memahami isi informasi Teks Berita diantaranya adalah : 1)
Minat dan
motivasi belajar siswa yang masih rendah. 2)
Pemanfaatan
teknologi dalam pembelajaran kurang diaplikasikan sehingga anak merasa bosan
ketika belajar hanya disajikan secara konvesional, 3)
Budaya
literasi siswa yang masih rendah, siswa tidak tebiasa membaca atau
kemampuannya dalam membaca kosakata yang yang belum maksimal yang menyebabkan
siswa merasa jenuh dan malas ketika harus membaca teks dalam bentuk yang
panjang. Nama :
Tabrani, M.Pd. Hari : Selasa,
12 September 2023 Pukul : 09.30
WIB Menurut Bapak Tabrani, M.Pd. (Pengawas MTs. N.1
Mukomuko) penyebab kesulitan siswa
dalam memahami isi informasi Teks Berita, adalah sebagai berikut : 1)
Sebagian
guru belum memanfatkan teknologi untuk
inovasi pembelajaran. Metode dan model pembelajaran konvesional yang
diterapkan di kelas membuat kegiatan pembelajaran menjadi kurang menarik dan
agak membosankan. 2)
Budaya
literasi siswa yang masih minim. Siswa tidak terbiasa membaca teks yang
panjang. 3)
Minat dan
motivasi belajar siswa yang masih rendah, sehingga tidak ada keinginan dalam
diri siswa untuk berusaha memahami teks yang dibaca. 4)
Sikap yang kurang
positif pada pembelajaran Teks Berita |
Analisis eksplorasi penyebab
masalah, berdasarkan kajian litearasi dan
hasil wawancara dengan beberapa narasumber adalah sebagai berikut : 1. Ketidaktepatan seorang guru dalam memilih pendekatan pembelajaran
akan berdampak pada berhasil atau tidaknya ketercapaian tujuan pembelajaran
di kelas. Pendekatan pembelajaran
merupakan jalan atau cara yang akan ditempuh dan digunakan oleh pendidik
untuk memungkinkan siswa belajar sesuai dengan tujuan tertentu (Rahmawati,
2011:74). Pemilihan pendekatan yang
tidak tepat akan memberikan kesulitan pada siswa dalam memahami materi yang
disamapaikan. Selama ini pendekatan yang
digunakan oleh guru masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan
sehingga Pendekatan Teacher Centered menjadi pilihan utama dalam pembelajaran
tersebut. Padahal seorang guru dapat menggunakan Pendekatan Student Centered
yang mendorong siswa untuk mengerjakan sesuatu sebagai pengalaman praktik dan
membangun makna atas pengalaman yang diperolehnya. Pusat pembelajaran
diserahkan langsung ke peserta didik dengan supervisi dari Guru. Pendekatan pembelajaran yang
berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran seperti discovery
learning dan inquiry (penyingkapan atau penyelidikan). Implementasi
pendekatan yang berpusat pada siswa akan membuat proses belajar menjadi lebih menarik, menyenangkan, dan berkesan (Ali dalam Dwike
Awdya Yunanda, dkk 2022) 2. Banyak faktor yang berpengaruh atau mendukung terwujudnya
proses pembelajaran yang berkualitas dalam upaya mencapai tujuan pendidikan.
Salah satu di antara faktor yang dimaksudkan menurut Yusufhadi Miarso adalah
penggunaan atau pemanfaatan teknologi dalam proses pendidikan dan
pembelajaran. Pemanfaatan teknologi dalam
pembelajaran diharapkan dapat mengatasi kesulitan belajar siswa, melalui
pemanfaatan teknologi seperti audio visual dapat membantu merangsang daya
pikir siswa sehingga mudah dan cepat dalam menangkap isi materi yang
disampaikan. Namun pada kenyataannya,
belum semua guru memanfaatkan TIK dalam menyelenggarakan kegiatan
pembelajaran yang diampunya walaupun mereka telah memahami bahwa strategi
pembelajaran yang demikian ini sangat menunjang atau membantu tingkat
penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran. (Miarso, Yusufhadi :
2004) 3. Seorang guru berperan dalam menggali motivasi peserta
didiknya. Motivasi berupa reward atau penghargaan dalam bentuk ucapan atau
pemberian hadiah yang diberikan oleh guru akan memberikan dorongan atau
semangat kepada peserta didik untuk belajar dengan baik. Motivasi peserta didik bisa berasal dari faktor internal, seperti kondisi fisiologis dan
psikologis, serta faktor eksternal seperti keluarga, sekolah dan lingkungan
masyarakat di sekitar peserta didik. Kemampuan guru dalam menumbuhkan
semangat dan motivasi belajar peserta didik akan memberikan korelasi yang
positif pada tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan (Bambang
Putranto, 2015). 4. Rendahnya budaya literasi atau minat baca siswa
menyebabkan siswa mengalami kesulitan ketika diharuskan membaca teks yang
panjang, umumnya mereka merasa bosan ketika harus membaca Teks Berita yang
sebagian besar disajikan dalam bentuk atau pola paragraf yang panjang.
Kurangnya minat baca, juga berpengaruh pada sedikitnya kosakata yang dimiliki
atau dikuasai oleh siswa sehingga siswa kesulitan dalam memahami kata
/kalimat dalam bentuk teks. Budaya
literasi perlu ditingkatkan mengingat pembelajaran bahasa Indonesia yang
banyak menggunakan pendekatan berbasis teks. Melatih atau membiasakan membaca
kepada siswa akan membantu siswa dalam proses pembelajaran guna tercapainya
tujuan yang diharapkan (Tarigan, 2018).
2) Selain motivasi belajar yang
masih rendah, minat belajar pun yang masih minim menjadi salah satu faktor
pemicu siswa mengalami kesulitan dalam memahami isi atau informasi yang
terdapat pada Teks Berita. Umumnya para siswa belum mengenal apa yang menjadi
minat dan bakatnya oleh karena itu orang tua dan guru berperan dalam
mengarahkan siswa untuk mengenal apa yang menjadi minat dan bakatnya.
Pemahaman siswa terhadap minat dan bakatnya akan membantu siswa untuk
menumbuhkan semangat belajarnya (Bambang, Putranto, 2015) 3) Model pembelajaran inovatif
mempunyai peranan penting untuk memberikan kontribusi kepada siswa dalam
membangun dan mengembangkan pengetahuan menuju perubahan yang lebih baik.
Dalam kegiatan pembelajaran apabila guru kurang variatif dalam memilih model
/ media pembelajaran dan hanya berkutat pada satu jenis model / media saja, maka akan menimbulkan kebosanan dalam
diri siswa dan berimbas pada ketidaktercapaian tujuan pembelajaran yang
diharapkan. Kurikulum Abad 21 menuntut guru untuk mampu mengaplikasikan
berbagai model dan media pembelajaran untuk menciptakan suasana belajar yang
lebih menarik bagi peserta didik
(Conny dalam Kenedi, 2017). 4) Sikap yang kurang positif
terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia bisa memberikan dampak yang kurang
baik bagi peserta didik. Anggapan Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang
sulit dan agak menjenuhkan akan membuat peserta didik seakan memberikan
penolakan pada saat ada penyampaian materi pelajaran yang berkaitan dengan
Bahasa Indonesia. Sudah Seyogyanya perasaan kurang positif terhadap pelajaran
Bahasa Indonesia itu harus dihilangkan guna memberi ruang penerimaan pada
saat materi pelajaran Bahasa Indonesia disampaikan. Selalu bersikap positif
terhadap pelajaran yang diajarkan akan membantu siswa untuk mudah dalam
memahami materi pembelajaran (Yanti, 2016) Daftar Pustaka Kenedi. 2017.
Pengembangan Keativitas Siswa dalam Proses Pembelajaran di Kelas II SMP Negeri 3 Rokan IV Koto. Suara Guru :
Jurnal Ilmu Pendidikan Sosial, Sains, dan Humaniora Vol.3 https://ejournal.uinsuska.ac.id/index.php/suaraguru/article/viewFile/3610/2131 (diakses Rabu, 13 September 2023) Miarso, Y. 2004, Menyemai Benih
Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana. Mulyani, Sri. 2015:
Kendala Guru Memanfaatkan Media IT dalam Pembelajaran. https://jim.uskac.id > pgsd> article>
viewFile. Diakses pada tanggal 11, September 2023. Putranto, Bambang.
2018. Tips Menangani Siswa yang Membutuhkan Perhatian Khusus.Yogyakarta: Diva Press. Tarigan, N. T. (2018). Pengembangan Buku Cerita Bergambar Untuk
Meningkatkan Minat Baca
Siswa Kelas Iv Sekolah Dasar. Jurnal Curere, 2(2), 2597–9515. Rahmawati, Fitriana. (2011). Pengaruh
pembelajaran Geometri dengan Pendekatan Induktif. Edumatica. Vol. 01. No. 02, hal. 74-75. Yunanda,
Dwike Awdya, dkk. 2022 “ Peran Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Pada
Pembelajaran Keterampilan Menulis Siswa”. Jurnal
Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol.7 Nomor 3 Desember 2022 https://jurnal.unimor.ac.id/index.php/JBI/article/download/3847/1212 (diakses Rabu, 13 september 2023) |
|
5. |
Siswa belum memiliki kemampuan dalam menulis teks resensi (Khoirul Ummah |
Kajian Literatur Feby Inggriyani, dkk (2020)
berpendapat bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih monoton. Hal ini
terjadi karena sebagian guru belum mampu merancang perangkat pembelajaran
yang berorientasi pada model pembelajaran inovatif. Menurut Sri Lestari (2019)
Kendala pemanfaatan TIK oleh guru adalah tidak adanya akses, tidak adaanya
sarana TIK, pembelajaran tidak mengintegrasikan TIK, guru tidak memiliki
pengetahuan tentang TIK, dan tidak adanya kemauan guru untuk memanfaatkan
TIK. Hasil wawancara dengan
Kepala sekolah, guru, dan wakil kurikulum 1. Bapak Drs.H.AT saepuloh (Kepala MAN Bandung Barat) Senin, 11 September pukul
09.00 WIB Bapak H AT Saepuloh
mengatakan bahwa pembelajaran menulis masih belum optimal karena guru masih
ada di zona nyaman, tidak mau berinovasi, terutama guru-guru yang sudah tua,
dan tidak membimbing dengan serius dengan mengecek perkembangan tulisan siswa
secara berkala. Guru banyak yang belum menguasai IT dan belum banyak guru
yang mengikuti pelatihan IT, cara mengajar, model-model pembelajaran 2. Ibu Elisa Yustina (waka kurikulum MAN Bandung Barat) Senin, 11 September pukul
09.00 WIB Ibu Elisa selaku waka kurikulum
menyebutkan bahwa guru belum menguasai model-model pembelajaran. Guru belum
membimbing secara intens menulis, terutama dalam menulis hasil penelitian
untuk persiapan myres, padahal madrasah ini madrasah riset. Guru pun belum
memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran sehingga proses
belajar mengajar monoton bagi siswa. 3. Ibu Reni dewi Maharani (guru bahasa Indonesia) Senin, 11 September pukul
08.00 WIB Ibu Reni menyatakan bahwa
kemampuan siswa dalam menulis masih sebatas tulisan sederhana. Hal ini
dikarenakan siswa tidak suka membaca sedangkan kemampuan menulis erat
kaitannya dengan membaca. Semakin banyak membaca, pembendaharaan katanya
semakin banyak. Siswa yang kurang literasi akan susah untuk memilih kata dan
menyusun kalimat dalam menulis. Kesalahan guru biasanya langsung memberi
penugasan menulis tanpa ada arahan dalam proses penulisannya. Guru masih
mengandalkan metode ceramah dalam menyampaikan materi dan memberikan contoh
melalui teks yang ada pada buku paket dan LKS. 4. Ibu Elit kurnia (Fasilitator daerah mapel bahasa
Indonesia) Selasa, 12 September pukul
08.20 WIB Ibu Elit mengatakan bahwa
siswa kurang literasi membaca. Siswa juga kurang referensi/contoh bacaan
terkait materi resensi. Guru menggunakan metode yang kurang tepat. Guru tidak
maksimal memanfaatkan media 5. Bapak Drs. Agus Budiono,
M.Ed (Dosen mata kuliah pengembangan kurikulum STAI YAMISA) Selasa, 12 september pukul 10.00 WIB Bapak Agus Budiono
menyampaikan bahwa siswa sulit menuangkan ide/gagasan karena jarang
distimulus untuk bercerita sejak dini sehingga kesulitan saat diberi materi
tentang menulis. Selain itu guru belum mampu menggunakan metode tepat dan
guru tidak memberikan tugas menulis sebagai tugas projek yang bisa dikerjakan
di rumah. |
1. Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis
resensi karena pembelajaran yang dilakukan guru masih monoton dan belum
menggunakan model pembelajaran yang
inovatif. Hal ini membuat siswa kurang semangat dalam mengikuti
pembelajaran, siswa mengantuk, tidak konsentrasi, yang menyebabkan materi
belum diserap dengan baik sehingga saat siswa diminta menulis teks resensi,
siswa belum memiliki kemampuan dalam
menulis teks tersebut. (Inggriyani, dkk:2020) 2. Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis
resensi dikarenakan guru belum menggunakan TIK dalam pembelajaran untuk membatu siswa lebih memahami materi
menulis teks resensi. Guru hanya memberikan contoh resensi lewat satu contoh
teks saja sehingga siswa hanya memiliki satu referensi sebagai contoh tulisan
resensi. Guru tidak memberikan beberapa contoh teks resensi dengan
menggunakan teknologi, misalnya mencari contoh lewat internet, atau guru
memberi contoh per unsur resensi lewat power point dan sebagainya, agar siswa
semakin memahami unsur-unsur resensi dan membuat siswa mudah menulis resensi
(Lestari: 2019) 3. Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis
resensi dikarenakan guru kurang serius mengecek perkembangan tulisan siswa
secara berkala. Guru hanya menandai kata-kata atau tanda baca yang salah
tanpa memberi penjelasan penyebab kesalahannya. Guru juga tidak menuliskan
kekurangan-kekurangan yang ada dalam tulisan tersebut, hanya memberi nilai
saja sehingga siswa belum terpacu untuk memperbaiki tulisan pada saat
ditugaskan untuk membuat tulisan baru. Siswa hanya melaksanakan tugas dari
berdasarkan materi yang guru sampaikan, namun tidak teliti dalam penulisan
kata-kata. Siswa juga hanya melihat nilai yang didapatkan tanpa melihat apa
saja kekurangan yang ada dalam tulisan tersebut. 4. Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis
resensi karena siswa masih sulit dalam membaca sehingga pembendaharaan
katanya sedikit. Hal ini membuat siswa kesulitan untuk memilih kata dan
menyusun kalimat. Pada saat pembelajaran, guru memberikan contoh teks
resensi, kemudian langsung memberi
tugas kepada siswa tanpa ada arahan dalam proses menulis. Guru tidak
menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menulis teks resensi
sehingga siswa pun bingung untuk membuat teks resensi. 5. Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis
resensi karena guru masih kurang memberikan contoh-contoh/referensi dalam
menulis teks resensi. Hal ini membuat siswa hanya terpaku pada contoh resensi
yang diberikan oleh guru dan cenderung mengikuti kata-kata yang ada dalam
contoh resensi, sehingga saat dibenturkan dengan teks cerpen yang harus
diresensinya, siswa kesulitan
menghubungkan kata-kata yang pas sesuai dengan usalan cerpen yang
sbebenarnya. 6. Rendahnya kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis
resensi karena siswa kesulitan menuangkan ide/gagasan karena sejak kecil
jarang distimulus untuk banyak bercerita sehingga ketika ada materi yang
mengharuskan siswa menulis, maka siswa kesulitan dalam menuangkan ide ke
dalam tulisannya. Siswa bingung cara menulis pembukaan resensi, memilih kata
yang sesuai, dan penggunaan tanda baca yang sesuai dalam tulisan resensinya. Daftar Pustaka: Lestari, Sri. (2019).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan TIK oleh Guru. Vol. 3 No. 2, Edisi Desember 2019 :
(121). 2021. Pemanfaatan Gawai Pada
Adaptasi Teknologi Untuk Media Pembelajaran Bagi Guru SDN 9 Tanjung Batu Di Desa
Limbang Jaya Kabupaten Ogan Ilir. Jurnal Iptek.
https://www.researchgate.net/publication/ diunduh pada Jumat, 8 September 2023 pukul 08.10 Inggriyani, Feby, dkk. (2020).
Pendampingan Model Pembelajaran Inovatif menggunakan Kahoot sebagai Digital
Game Based Learning di KKG Sekolah Dasar. Jurnal Publikasi Pendidikan. Volume
10 Nomor 1, Februari 2020. (59). http://ojs.unm.ac.id/index.php/pubpend. |
Komentar
Posting Komentar