Best Practice PPL 1 Menganalisis Unsur Cerita Fantasi melalui Model PBL dan Media Video Animasi
BEST PRACTICES PPL RENCANA AKSI 1
Menganalisis Unsur-Unsur
Cerita Fantasi melalui Penerapan Model Problem
Based Learning dan Penggunaan Media Video Animasi

Disusun Oleh:
Andina Sopandi N
PENDIDIKAN
PROFESI GURU
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MALANG
2023
LK 3.1 Menyusun Best Practices
Menyusun Cerita
Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan,
Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)
Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa
Dalam Pembelajaran
Nama: Andina Sopandi N
|
Lokasi |
MTs Negeri 1 Garut Jalan Terusan Pembangunan No. 4, Desa Jayaraga, Kec. Tarogong Kidul,
Kab. Garut, Jawa Barat |
|
Lingkup
Pendidikan |
Instansi pendidikan : MTsN 1 Garut Kelas / Fase
: VII 1 / D Jumlah peserta didik : 31
Siswa Tahun Ajaran :
2023/2024 |
|
Tujuan yang
ingin dicapai |
Melalui penerapan model Problem
Based Learning, peserta didik mampu menganalisis unsur-unsur intrinsik
cerita fantasi melalui video animasi dengan tepat. |
|
Penulis |
Andina Sopandi N |
|
Tanggal |
Selasa, 17 Oktober 2023 Pertemuan I: 13.00 s.d. 14.10 Pertemuan II: 14.20 s.d. 15.30 |
|
Situasi: Kondisi yang
menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan,
apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini. |
Kondisi
yang menjadi Latar Belakang Masalah Pembelajaran
bahasa Indonesia memiliki beberapa aspek yang harus dikuasai, yaitu menyimak,
membaca, berbicara dan menulis. Menyimak adalah suatu kegiatan atau
keterampilan seseorang dalam mendengarkan, memperhatikan, dan memahami
lambang-lambang bahasa lisan atau ujaran yang diterima melalui pendengaran
untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna
komunikasi disampaikan oleh pembicara. Hal yang menjadi fokus peneliti adalah
rendahnya kemampuan siswa dalam menganalisis unsur-unsur intrinsik pada
cerita fantasi. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan, kesulitan yang
dialami peserta didik kelas VII 1 di MTsN 1 Garut ini terjadi disebabkan
beberapa hal berikut: A. Guru belum menerapkan model pembelajaran yang inovatif sehingga
pembelajaran cenderung monoton. B. Guru belum menggunakan media pembelajaran yang berbasis teknologi
sehingga peserta didik kurang termotivasi untuk belajar. C. Kurangnya minat dan motivasi peserta didik dalam membaca. D. Peserta didik kurang menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia karena
biasanya menyajikan teks dengan jumlah kata yang banyak. Mengapa
praktik ini penting untuk dibagikan Berdasarkan permasalahan di atas,
praktik baik (best practice) perlu dilakukan untuk mengatasi
permasalahan pembelajaran dengan menggunakan model dan media pembelajaran
yang tepat sehingga pembelajaran inovatif dapat tercapai dengan baik. Oleh
karena itu, dari hasil kajian literatur dan wawancara, peneliti yang berperan
sebagai guru mendesain pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kemampuan
menyimak peserta didik dalam menganalisis unsur-unsur intrinsik teks cerita
fantasi melalui penerapan model Problem
Based Learning dan penggunaan media video animasi. Hal ini dibagikan
sebagai rujukan Bapak/Ibu guru yang lain dalam menerapkan pembelajaran abad
21, TPACK, inovatif dan menarik. Model dan media ini dapat diterapkan di
materi pembelajaran yan lain, disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan. Model
atau metode efektif dalam PBM A. Peneliti menggunakan model Problem
Based Learning, model ini dianggap efektif dalam pembelajaran
menganalisis unsur-unsur intrinsik teks cerita fantasi. Langkah-langkah Problem Based Learning: 1)
Mengorientasi
peserta didik pada masalah. 2)
Mengorganisasi
peserta didik untuk belajar secara berkelompok. 3)
Membimbing
penyelidikan 4)
Menyajikan
hasil solusi 5)
Menganalisis
hasil dan evaluasi Penerapan model Problem Based Learning dalam pembelajaran menganalisis
unsur-unsur teks cerita fantasi memang sangat tepat karena model ini
mendorong siswa untuk memecahkan masalah kontekstual yaitu menganalisis
unsur-unsur teks cerita fantasi secara berkelompok. Dengan model ini siswa
dapat bekerja sama dengan temannya untuk mencari sumber belajar yang bervariatif,
serta meningkatkan kemandirian siswa dalam memecahkan permasalahan yang
dibahas. B.
Penggunaan media video animasi
dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis unsur-unsur teks cerita
fantasi. Penggunaan media ini dapat menarik perhatian siswa karena adanya
unsur audio dan visual yang bergerak. Siswa menjadi mudah memahami cerita
yang disajikan melalui video animasi. Media ini pun menyuguhkan objek-objek
yang menarik menyerupai objek yang nyata. Pembelajaran menjadi menyenangkan,
sehingga kemampuan siswa meningkat dalam menganalisis unsur-unsur teks cerita
fantasi. Peran
dan tanggung jawab saya dalam praktik ini sebagai guru/fasilitator Guru sangat berperan penting dalam penelitian ini. Dimulai dari
mengidentifikasi permasalahan yang ada di sekolah, menyusun solusi dari
permasalahan yang ada lalu menyusun solusi tersebut menjadi modul ajar. Dalam
modul ajar memuat perencanaan pelaksanaan proses pembelajaran secara rinci
dan jelas dilengkapi dengan evaluasi pembelajaran. Guru juga berperan sebagai
fasilitator yang membimbing peserta didik selama proses pembelajaran. Guru
bertanggung jawab atas segala kejadian yang terjadi dalam proses
pembelajaran. Guru harus merencanakan pembelajaran melalui modul ajar,
melaksanakan modul ajar yang telah disusun, dan menilai/mengevaluasi proses
dan hasil belajar siswa. |
|
Tantangan : Apa saja yang
menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat, |
Tantangan
saat PPL 1 Berdasarkan
hasil pengamatan kajian literatur dan wawancara dengan guru sejawat serta
kepala madrasah, pelaksanaan pembelajaran menggunakan model problem based
learning dan media video animasi memiliki beberapa tantangan. Adapun
tantangan dalam pembelajaran model problem based learning dan media
video animasi dalam aksi ini adalah sebagai berikut: 1. Penggunaan media video animasi memerlukan beberapa alat yang
mendukung, yaitu laptop, LCD Proyektor,
ruang kelas yang memadai aliran listrik, handphone,
stop kontak depan belakang, pengeras suara, LKPD, printer untuk mencetak LKPD dan jaringan internet/wifi/hotspot
yang memadai. 2. Smartphone yang digunakan peserta untuk mengakses video animasi perlu diawasi
dengan ketat. Hal itu karena memungkinkan kecenderungan peserta didik
mengakses aplikasi/browser lain selain apa yang diintruksikan oleh guru.
Beberapa peserta didik yang tidak membawa handphone
karena beberapa hal, ada yang tidak difasilitasi handphone oleh orang tua, ada peserta didik yang tidak
membaca WhatsApp Group imbauan
membawa HP sehingga pada saat pelaksanaan rencana aksi 1 masih ada satu/dua
siswa yang tidak membawa handphone. Beberapa peserta didik belum mengunduh aplikasi canva. 3. Pada saat guru membagikan QR code berisi link video animasi, ada
beberapa gawai yang belum mendukung untuk scan QR code. 4. Peserta didik tidak kondusif ketika kelompok penyaji sedang
presentasi, peserta didik hanya berfokus pada kelompoknya dan tidak menyimak
presentasi kelompok temannya dengan baik. Untuk mengatasi tantangan tersebut,
guru melakukan tindakan sebagai berikut: 1. Guru melakukan beberapa
persiapan, diantaranya menggunakan fasilitas printer
sekolah untuk mencetak LKPD, meminjam LCD projector dan speaker aktif untuk mendukung media PPT dan audiovisual yang
telah disiapkan, menyiapkan WIFI/hotspot pribadi, mengarahkan peserta didik
untuk mengunduh canva sebelum pembelajaran dimulai serta memberi arahan
kepada siswa untuk mempersiapkan diri melalui WA grup sebelum pelaksanaan
aksi 2. 2. Guru menciptakan suasana kelas yang kondusif dan
menyenangkan, contohnya memberikan icebreaking senam dreamer di saat siswa sudah terlihat bosan untuk
belajar dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi. Untuk mengatasi waktu yang lama, guru menyediakan LKPD yang
praktis dengan petunjuk yang mudah dikerjakan oleh peserta didik, sesuai
dengan materi yang dipelajari terkait dalam menganalisis unsur cerita
fantasi. Guru melakukan pengawasan yang ketat dalam penggunaan handphone di kelas. Ketika menganalisis unsur cerita
fantasi melalui video animasi, guru hanya memperbolehkan satu handphone yang digunakan, handphone anggota lainnya dimasukkan
ke dalam tas. Bagi peserta didik yang tidak membawa handphone, ketika kerja kelompok peserta didik dapat menggunakan handphone teman anggota kelompok.
Ketika evaluasi pembelajaran peserta didik yang tidak membawa handphone dapat menuliskan jawaban di
kertas/menggunakan handphone temannya
yang sudah selesai mengerjakan evaluasi. 3. Guru mengintruksikan
peserta didik yang gawainya tidak menudkung scan QR code untuk mengakses
video animasi melalu link yang ada di bawah QR code, sehingga setiap kelompok
dapat mengakses video animasi yang sudah disajikan oleh guru. 4. Guru meminta kelompok lain
untuk menanggapi/memberi pertanyaan ketika penyaji tampil sehingga kelompok
lain dapat menyimak dengan baik presentasi temannya. Guru menyajikan hasil
poster yang telah dibuat sebelum penyaji mempresentasikan hasil diskusinya
agar peserta didik yang lain kembali fokus pada pembelajaran. Yang terlibat dalam
tantangan ini adalah: 1.
Kepala sekolah sebagai pimpinan yang
memberikan izin dan mendukung pelaksanaan PPL. 2.
Peserta didik sebagai sentral pada
proses pembelajaran. 3.
Dosen dan guru pamong sebagai observer
dalam pelaksanaan PPL 1. 4.
Mahasiswa PPG sebagai observer PPL 1. 5.
Rekan sejawat 1. Berperan
sebagai juru kamera/videografer. 2. Berperan
membantu menyiapkan perlengkapan seperti tripod, handphone, laptop, dan proyektor. |
|
Aksi : Langkah-langkah
apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang
digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber
daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini |
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi
tantangan tersebut: 1)
Menerapkan
model project based learning. 2)
Menggunakan
media video animasi dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi. 3)
Melakukan
persiapan alat dan media pembelajaran yang dibutuhkan ketika pelaksanaan PPL rencana
aksi 1. 4)
Menginformasikan
kepada peserta didik untuk membawa handphone. 5)
Menyiapkan
ice breaking senam dreamer agar siswa tidak jenuh pada
proses pembelajaran. 6)
Menyiapkan
LKPD yang sesuai dengan indikator dan menarik bagi peserta didik. A.
Strategi yang digunakan Menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL)
karena model PBL ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik dan
membiasakan peserta didik untuk melatih keterampilannya dalam berdiskusi.
Sehingga akan meningkatkan keaktifan belajar peserta didik. Langkah dalam
aksi praktik baik ini menggunakan model pembelajaran problem based
learning dan media video animasi dengan
langkah kegiatan sebagai berikut: a. Orientasi Masalah 1. Peserta didik menyimak tayangan video
animasi yang disajikan oleh guru melalui media proyektor dan pengeras suara.
2. Peserta didik melakukan tanya jawab
dengan guru terkait apa saja unsur
–unsur yang ditemukan pada video tersebut.
3. Peserta didik menceritakan kembali inti
dari video tersebut. 4. Peserta didik mengaitkan penayangan
video animasi dengan materi yang akan dipelajari hari ini.
b. Mengorganisasi Peserta didik 5. Peserta didik langsung berkumpul dengan
kelompok masing-masing dan menyiapkan satu handphone untuk menyimak video animasi.
c. Membimbing Penyelidikan 6. Peserta didik mengambil papan kecil
berisi QR code dan link video
animasi berbeda sejumlah kelompok yang ada dan LKPD untuk menganalisis
unsur-unsur teks cerita fantasi yang sudah disediakan oleh guru. 7. Peserta didik menganalisis unsur-unsur
teks cerita fantasi sesuai dengan video animasi yang disajikan dan
menyimpulkan isi cerita fantasi, lalu menuliskan hasil analisis tersebut di
LKPD yang sudah disajikan oleh guru.
d. Mengembangkan Solusi dan Menyajikan
Hasil 1. Peserta didik secara berkelompok
bergantian menyajikan hasil diskusi analisis unsur-unsur teks cerita fantasi
pada LKPD di depan kelas.
e. Menganalisis Hasil Solusi dan Evaluasi 2. Peserta didik secara bergantian menjelaskan hasil
analisis kelompoknya sebagai kelompok penyaji, kelompok lain bertanya dan
menanggapi setiap kelompok yang tampil.
3. Peserta didik sebagai kelompok penyaji
menyimak apresiasi dan evaluasi yang diberikan oleh guru. 4. Peserta didik melakukan evaluasi
pembelajaran 10 soal PG tentang analisis unsur cerita fantasi yang disiapkan
oleh guru melalui link https://forms.gle/Ucepc253gnoxPbi98
2)
Menggunakan media video animasi dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi. Penulis
dalam proses ini memilih media pembelajaran video animasi, Media
ini pun menyuguhkan objek-objek yang menarik menyerupai objek yang nyata.
Pembelajaran menjadi menyenangkan, sehingga kemampuan siswa meningkat dalam
menganalisis unsur-unsur teks cerita fantasi.
3)
Melakukan persiapan alat dan media pembelajaran yang dibutuhkan ketika pelaksanaan PPL rencana
aksi 1. Laptop, proyektor, pengeras suara, stop kontak, aliran listrik yang
memadai, tripod, handphone, video
animasi, stik es krim berisi QR code dan media PPT. 4)
Menginformasikan kepada peserta didik untuk membawa handphone sebelum pelaksanaan PPL rencana aksi 1. Pendidik
menginformasikan peserta didik untuk membawa handphone pada satu hari sebelum pelaksanaan PPL secara langsung
di depan kelas, dan mengingatkan kembali melalui WhatsApp Group. 5)
Menyiapkan ice breaking senam dreamer agar
siswa tidak jenuh pada proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan
pada siang hari, untuk mengatasi kejenuhan peserta didik dalam proses
pembelajaran, maka pendidik menyiapkan ice
breaking video senam dreamer
untuk meningkatkan motivasi dan minat belajar peserta didik.
6)
Menyiapkan LKPD
yang sesuai yang sesuai dengan indikator dan menarik bagi peserta didik. LKPD
yang disediakan oleh guru harus sesuai dengan indikator pencapaian
pembelajaran yang telah dirumuskan pada modul ajar. Penyusunan LKPD yang
menarik dan terarah membuat peserta didik mudah untuk mengisi LKPD tersebut
sesuai dengan intruksi yang diberikan oleh pendidik.
Siapa saja
yang terlibat: Proses pembelajaran ini melibatkan beberapa pihak yaitu: 1. Kepala
sekolah sebagai pimpinan yang memberikan izin dan mendukung pelaksanaan PPL. 2. Peserta
didik sebagai sentral pada proses pembelajaran. 3. Dosen
dan guru pamong sebagai observer dalam pelaksanaan PPL 1. 4. Mahasiswa
PPG sebagai observer PPL 1. 5. Rekan
sejawat 1. Berperan
sebagai juru kamera/videografer. 2. Berperan
membantu menyiapkan perlengkapan seperti tripod, handphone, laptop, dan proyektor. Sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi aksi 1.
Materi yang disajikan tentang unsur-unsur cerita fantasi di power
point dapat merangsang siswa berpikir kritis dan kreatif. 2.
LKPD dan media scan QR Code yang menarik. 3.
Beberapa video animasi yang menarik motivasi peserta didik. 4.
Video Ice
Breaking senam Dreamer. 5.
Sarana
dan prasarana lainnya seperti LKPD, proyektor, laptop, kamera, speaker, tripod, PPT materi unsur intrinsik cerita
fantasi, dan handphone untuk merekam. |
|
Refleksi Hasil dan dampak Bagaimana
dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya
efektif? Atau tidak efektif? Mengapa?
Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang
menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang
dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut |
Dampak dari
hasil langkah-langkah yang
dilakukan: B.
Dampak
yang dirasakan oleh peserta didik adalah mereka bersemangat dalam mengikuti
pembelajaran hari ini karena diselipi ice
breaking ketika peserta didik sudah mulai lelah dan bosan, lalu peserta
didik menganalisis cerita fantasi ini melalui video animasi yang disajikan,
peserta didik lebih tertarik karena ada tayangan gambar bergerak dan teks
pada video tersebut membuat mereka lebih mudah menganalisis unsur-usnur
cerita fantasi. Hal ini dibuktikan dengan hasil pada lembar refleksi yang
diisi oleh peserta didik. C.
Penggunaan
model problem based learning dan
penggunaan media video animasi meningkatkan minat dan motivasi belajar
peserta didik dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi. D.
Berdasarkan
kegiatan PPL ini menjadikan saya sebagai pendidik menyadari bahwa seorang
pendidik harus selalu mau memperbaiki diri, menambah wawasan, melakukan
sebuah inovasi sekecil apapun itu dalam pembelajaran. Belajar untuk
menjadikan kegiatan pendahuluan menjadi bermakna, menampilkan media yang
menarik pada saat kegiatan awal, menyusun LKPD yang dapat melatih berpikir
peserta didik, memberi bimbingan kelompok dengan memberikan pertanyaan
pemantik, dan memanajemen waktu agar sesuai dengan rencana. Kemudian belajar bagaimanacara merekam, mengedit video dengan aplikasi yang
belum pernah digunakan. E.
Perubahan
tingkah laku peserta didik dimulai dari berdoa sebelum dan sesudah
pembelajaran sudah baik. Peserta didik juga mau untuk terlibat dalam
pembelajaran, terutama saat berdiskusi. F.
Saat berdiskusi kelompok, peserta didik
terlihat sudah mampu bekerja sama, peserta didik yang kemampuannya di atas kemampuan teman lainnya sudah
mau menjelaskan, dan peserta didik yang belum memahami materi
juga sudah mau untuk bertanya. G.
Peserta
didik tertarik dengan media yang digunakan, yaitu handphone untuk menyimak video animasi. Dengan video tersebut
meningkatkan minat peserta didik dalam mengalisis unsur-unsur intrinsik
cerita fantasi. H.
Peserta
didik sudah dapat memberi alasan dan simpulan dengan bahasa sendiri,
menggunakan cara yang menurutnya lebih mudah untuk digunakan dalam penyelesaian masalah meskipun
masih perlu bertukar pendapat dengan temannya. Peserta didik juga sudah mampu
mempresentasikan hasil kerja dengan baik, dan bergantian dengan anggota kelompok
lain. I.
Pada
pertemuan aksi kedua peserta didik sudah mulai terbiasa untuk bekerja dimulai
dari menuliskan informasi penting yang diperoleh dari suatu masalah meskipun masih dibimbing/dibantu. B. Respon
orang lain yang terkait dengan strategi yangdilakukan yaitu: 1. Berdasarkan respon observer/pengamat sesama pendidik mengatakan bahwa
strategi yang dilakukan sudah efektif karena terlihat dari kegiatan
pembelajaran yang tidak monoton, peserta didik yang aktif mengeksplor
pengetahuan dan keterampilannya. Peserta didik saling bertukar pendapat
dengan temannya diarahkan pendidik sebagai pembimbing. 2. Berdasarkan refleksi yang dilakukan melalui lembaran kertas refleksi,
peserta didik menyatakan bahwa pembelajaran yang dilakukan menarik dan
menyenangkan. Adanya ice breaking di
sela pembelajaran meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Selain itu,
penggunaan media video animasi juga menambah pembelajaran menjadi menarik dan
menyenangkan, karena peserta didik dapat menganalisis unsur-unsur cerita
fantasi melalui video animasi yang berisi gambar bergerak dan audio disertai teks yang mudah
dipahami. C. Faktor
yang menjadi keberhasilan/keefektifandari strategi yang dilakukan 1. Adanya peningkatan keaktifan belajar pada peserta didik terlihat dari
pengamatan yang dilakukan pendidik. Peserta didik yang pada awalnya enggan
bertanya, berdiskusi, memperhatikan pendidik dan presentasi teman, sekarang
sudah mau bertanya, berdiskusi kelompok, memperhatikan penjelasan pendidik
dan presentasi temannya. 2. Dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning
(PBL) dan media audiovisual terlihat adanya peningkatan kemampuan pemecahan
masalah peserta didik disetiap indikator kemampuan pemecahan masalah dalam
menganalisis unsur-unsur cerita fantasi melalui video animasi. Peserta didik
terlihat lebih aktif dalam kegiatan diskusi dan presentasi. 3. Adanya peningkatan sikap yang terlihat dari perilaku peserta didik
sudah khusyuk dalam berdoa, bertangggung jawab dengan tugas yang diberikan
selama proses pembelajaran, dan mau bekerja sama dengan teman kelompoknya
saat berdiskusi. Melalui diskusi kelompok peserta didik dapat menambah
tingkat keyakinan dirinya bahwa ia mampu menyelesaikan tugas yang diberikan,
karena dalam belajar sudah dibantu oleh teman kelompoknya dan dapat
menjadikan peserta didik menjadi lebih aktif lagi dalam belajar. D. Pembelajaran
dari keseluruhan proses Secara
keseluruhan proses pembelajaran dengan penerapan model Problem Based Learning sudah efektif dilaksanakan dalam
pembelajaran menganalisis unsur-unsur cerita fantasi. Semua sintaks pada
model PBL sudah dilaksanakan pada pertemuan I dan II. Penggunaan media video
animasi sangat menarik peserta didik sehingga pembelajaran menganalisis unsur-unsur
cerita fantasi lebih mudah dilaksanakan. Hal itu dapat dilihat dari hasil
LKPD kelompok dalam menganalisis unsur-unsur cerita fantasi sudah sesuai
dengan video animasi yang ditayangkan dan disertai bukti pendukung yang
tepat. Pada saat evaluasi melalui google
form, dapat dilihat nilai peserta didik sudah di atas KKM mencapai 88%,
peserta didik yang nilainya 100 berjumlah 4 siswa atau 12,5%, sejumlah 8
siswa atau 25% mendapatkan nilai 90, dan sejumlah 16 siswa atau 50%
mendapatkan nilai 80, selain itu hanya ada 4 peserta didik atau 12,5% yang
nilainya 70 atau pas KKM. Oleh karena itu, pembelajaran sudah sesuai dengan
modul ajar yang disusun dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. |

















Komentar
Posting Komentar