Samar-samar


“Padahal ceweknya baik, kasihan yah..”
Terdengar dua orang temanku yang sedang mengobrol ketika upacara, aku tak mengerti tentang apa dan siapa yang mereka perbincangkan tetapi ada rasa “teeeg…’ ketika aku mendengarnya, semoga bukan aku!
Rara, teman sebangkuku menggandeng tanganku ketika upacara telah selesai. Ia menceritakan hal yang satu kata pun tak ingin aku dengar, Ra please berhenti aku tak sanggup lagi.
***
          Singkat memang, dua bulan aku mengenalnya tanpa pendekatan yang serius, aku mulai menjalin hubungan dengannya. Ya, 02 Februari 2011! Tiang depan kelasku menjadi saksi bisu pernyataan cintanya. Aku bahagia sekali, akhirnya orang yang selama ini aku sukai juga menyukaiku dan kami berpacaran. Setelah kami resmi berpacaran, ia juga meresmikan hubungan kami dalam jejaring sosial facebook.
Konfirmasi yah permintaan hubungannya J” ujarnya sambil melangkahkan kaki ke kelas. Tanpa basa-basi aku membuka akun facebook-ku dan mengkonfirmasi permintaan hubungan berpacaran dengannya.
          Sosial media menjadi ramai, teman-temannya banyak yang mengomentari hubungan kami, mengucapkan selamat, dan lain-lain. Hubungan kami seru, meski belum secara langsung mengobrol tetapi obrolan kami melalui pesan teks, dinding facebook, chatting dan lain sebagainya terasa hangat dan akrab. Aku nyaman dengannya, dia adalah lelaki dingin yang pernah aku temui. Meski kami satu sekolahan, satu angkatan, bahkan kelas kami pun berdampingan, tetapi kami jarang bertemu dan berkomunikasi sesering yang biasa pasangan lain lakukan.
          Komunikasiku dengannya seperti sudah terjadwal, dia hanya mengabariku sekali dalam satu hari. Entah karena alasan apa, atau sifatnya yang sangat dingin sehingga ia seperti itu. Bada Maghrib adalah waktu yang aku tunggu-tunggu, karena itulah jadwalnya mengirim pesan kepadaku.
“Syg q gembil lagi apa… wkwkkw”
Itulah panggilannya kepadaku, mungkin saat ini kami masih alay. Saat smsan pun dia tidak sesigap aku membalasnya, butuh beberapa belas, atau puluhan menit aku menunggu balasan darinya. Tapi kamu tahu? Aku tak pernah lelah menunggu dan menuntutnya untuk melakukan apa yang aku lakukan, karena aku menyayanginya.
***
          Detak jantungku berdegup tak beraturan, bukan! Ini bukan karena aku sedang jatuh cinta. Perutku mules tak karuan, inikah reaksi dari sebuah rasa? Bukan hanya hati yang luka, tapi seluruh badan pun peka akan semua rangsangan ini. Perjalanan hari ini masih panjang, tapi aku tak sanggup mengikuti pelajaran sampai akhir. Hatiku mengacaukan pikiranku juga! Ah sial, kenapa aku harus jatuh terlalu dalam pada sebuah rasa yang seharusnya hanya aku persembahkan untuk Sang Pencipta. Ya Allah, hanya perasaan cinta kepada-Mu lah yang tak ada celah untuk menyakiti hati manusia. Kupandangi taman sekolah, diam mematung tanpa siapa, kumatikan handphone agar ia tak bisa menghubungi dan mencariku. Hah? Memangnya ada orang yang mencariku?
          Aku selalu menjadi yang terpinggirkan, selalu ada dia, dia, dia, dan dia yang lain. Kadang aku selalu berkhayal, andaikan aku jadi orang lain bahagiakah aku? Mendapatkan apa yang aku mau, dan selalu menjadi pujaan setiap orang. Tersisih? Jelas, jika orang-orang membandingkan pasti lebih memilih dia!
***
          Aku masih menebak-nebak soal rasa yang ia katakan kepadaku, sebulan berlalu pun kami hanya menghiasi senyum di kala pertemuan tak sengaja. Kami belum pernah menghabiskan waktu berdua, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Meski hubunganku dengannya dipublikasikan di jejaring sosial, tetap saja orang-orang yang sering melihatku tak menyadari jika aku memiliki kekasih. Karena itulah, beberapa kakak kelasku menyatakan cinta kepadaku di kala aku berpacaran dengannya. Padahal sudah aku tegaskan, aku memiliki kekasih hati namun tetap saja mereka menyangkal itu akal-akalanku saja. Aku juga menceritakan mereka pada Krishna, pacarku. Namun tak ada reaksi cemburu darinya, hm sungguh sia-sia.
          Hubungan kami baik-baik saja tak terasa dua bulan telah kami lewati, dan esok adalah monthsarry kami yang ke-2. Aaaaahh aku bahagia, kamu tahu? Ia tak pernah lama berpacaran dengan wanita sebelumnya, ia bilang sebulan pun belum pernah. Menjadi wanita pertama yang lama berhubungan dengannya selalu aku dambakan, dengannya aku tak pernah mengharapkan atau membayangkan akan ada lelaki lain di masa depan untukku.
          Setiap monthsarry kami memang selalu mengucapkan doa-doa untuk ke depannya dengan untaian kata sederhana yang bermakna. Ya Allah aku ingin selamanya bersamanya. Komunikasiku dengannya kini tidak hanya seusai salat Maghrib saja, ia selalu mengabariku everytime he had. Namun monthsarry kali ini ada yang berbeda, ada beberapa perbedaan pendapat yang berujung pertengkaran. Ini pertengkaran pertama kami, entah mengapa aku begitu egois kali ini.
***
          Wanita yang tak ingin lagi aku dengar namanya, sebut saja dia Sisil. Sisil dan Krishna kenal karena satu tempat les. Sisil seangkatan dengan kami, hanya saja ia sekolah di SMAN1 (Smansa) sedangkan kami di SMAN5 (Smanli). Sudah beberapa waktu aku mencurigai hal itu, namun aku tutup-tutupi karena aku tak ingin kehilangan dia. Desas-desus dari berbagai pihak telah aku dengar, aku mencoba memantapkan hatiku bahwa ia bukan seseorang yang seperti itu. Jelas ungkapnya bahwa ia menyayangiku dan akan menikahiku kelak… aku percaya padanya, tapi apa orang lain juga? Apa yang harus aku lakukan?
          Bel istirahat berbunyi, ia mencariku lewat jendela kelas. Kulihat ia tak menemukanku, dan membuka saku untuk mengambil handphone. “Hmmm kamu masih bisa bersikap biasa ketika orang yang kamu cari telah kaulukai tanpa kamu sadari.” Desusku dalam hati. Aku hanya memandanginya dari jauh, gelisah? Tentu! Hubunganku dengannya sedang berjalan enam bulan, inikah ujian dalam sebuah percintaan? Aku tak bisa berpikiran jernih saat ini, mungkin menghindarinya dan membiarkanku larut dalam kesendirian bisa menenangkan kemelut pikiranku.
          Biasanya sekarang aku sedang memilih makanan di luar gerbang sekolah, makaroni basah, lumpia basah, mie ayam, cilok goreng, roti bakar, cilung, es jelly, rujak, cilok aci, dan bakso gurihnya Mas Waluyo. Aaaaaaah cacing dalam perutku memanggil satu per satu makanan yang biasa aku makan. Pikiranku tak sejalan dengan perutku, aku hilang selera apalagi setelah melihatnya rasa mual semakin menjadi.
          Aku selalu berharap ini hanya pandangan mereka, mereka yang iri dan tak suka dengan hubunganku! Aku memang belum mendengar penjelasan darinya, tapi mengapa instingku mengatakan bahwa hal ini benar dan sakit yang aku rasakan sekarang itu nyata bukan ilusi.
***
          Dari beberapa hal yang tak kusuka darinya, inilah satu-satunya yang tak bisa aku tolerir. Aku memutuskan hubunganku dengannya malam ini lewat pesan singkat, semua terjadi begitu saja. Keegoisanku muncul kembali, padahal aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak memutuskan hubungan sepihak lagi. Memang ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan di dunia ini. Aku memutuskan hubungan ini dengan rasa yang belum usai, ini belum usai! Aku merasa bodoh telah melontarkan kata-kata yang menyakiti hatiku dan hatinya. Kamu tahu? Ia merelakanku pergi dengan untaian kata yang menyayat hati, aku tak rela ini benar-benar terjadi, tetapi jika semua sudah usai apa yang bisa aku lakukan?
          Kebodohanku berlanjut, ketika ia menganggap semua sudah usai, aku memohon-mohon padanya untuk memaafkan dan kembali merajut kasih denganku. Saat ini dadaku sesak, malam yang sunyi ditemani jangkrik yang tak henti berbunyi. Sungguh aku sulit bernapas, air mata ini tiada henti mengalir, ini yang namanya cinta? Sungguh menyakitkan ketika ia akan pergi dari hidupku. Aku mengeluarkan semua kata-kata yang bisa membuatnya kembali dengan nafas terengah di sudut telepon genggam, ia mendengar suara isak tangis kesungguhan rasaku. Ia luluh dan memaafkanku.
          Semenjak dua bulanan itulah, ia semakin dekat denganku. Ia percaya denganku semua akan lebih indah, karena memiliki kekasih baik yang sangat mencintainya. Aku pun bahagia, ia tak sedingin dulu, ia menunjukkan kepada semua orang bahwa aku adalah kekasih yang ia banggakan dan sayangi. Rasa sayangku padanya tak pernah berkurang, bahkan levelnya selalu naik. Haha aku tak bisa mengutarakan apa-apa lagi, karena bagiku ia sempurna J.
          Ia orangnya sangat pencemburu, handphone, akun jejaring sosial milikku selalu ia periksa, bahkan kami pernah tukeran kartu handphone dan password akun facebook untuk memastikan tidak ada orang lain yang mengganggu hubungan kami. Pernah kudapati pesan dari beberapa wanita di facebook yang menyatakan kekecewaannya karena telah berpacaran denganku, juga beberapa lelaki yang mengajaknya berantem haha mereka yang pernah dekat denganku.
          Setiap istirahat kuhabiskan waktu untuk jajan dan makan bersama dengannya, dunia seperti milik berdua terserah orang mau memandang kami apa, yang penting kami bahagia! Putus-nyambung sering kami alami, pertengkaran-pertengkaran sepele yang masih memancing emosi kami untuk melontarkan kata-kata sejenis putus. Tapi itulah yang membuat kami semakin yakin, tanpanya aku bukan apa-apa. Hihi banyak sekali perbincangan kami mengenai masa depan, kurasa kutemukan cinta sejatiku.
***
          Seminggu berlalu, aku masih petak umpet dengannya. Biarlah hatiku masih tak tenang, meskipun aku sudah mendapatkan beberapa informasi mengenai ia dan Sisil, tapi aku belum yakin untuk menanyakan langsung padanya.
Bel istirahat berbunyi~
 Kali ini aku tak bisa menghindar lagi, ia sudah ada di depan kelasku, dengan sangat terpaksa aku menghampirinya. Kurasa ini akan menjadi polemik yang berkepanjangan jika tidak diakhiri saat ini juga.
Mukanya merah, gurat kecewa tertulis jelas di raut mukanya. Sudah biasa bagiku menghadapinya, ia memang kasar dalam berbicara ketika sedang marah. Tapi kamu tahu? Aku selalu memakluminya, seolah aku mau saja dikatai olehnya, sungguh cinta ini membodohkan!
“Hebat yah bisa ngilang gitu sampe seminggu! Ke mana aja kamu hah! Aku nyariin kamu ke mana-mana. kamu tahu? Aku hubungi kamu susah banget, selingkuh kamu teh HAH?!!!”
“Santai aja, udah lama ga ketemu ga ada kangen-kangennya kamu?” godaku sambil tertawa, mencoba mengalihkan seolah tak pernah terjadi suatu hal.
“Aku kangen banget sama kamu, aku bisa stress kamu buat kaya gini terus, mau kamu apaaaa?!!!!!”
“Mau aku? Kita udahan aja yah.”
“Ai kamu Gila apa ga waras? Setelah menghilang, kamu bikin aku kebingungan, frustasi dan sampe aku sakit! Kamu ga tahu? Dan ga pernah mau tahu!! Sekarang kamu tiba-tiba datang dan bilang udahan, punya hati ga sih?”
Suaranya semakin keras, kugenggam tangannya dan kubawa ke taman. Karena di depan kelas sudah banyak anak-anak lain yang memerhatikan kami.
“Aku melakukan ini atas berbagai pertimbangan, aku sudah tahu kamu dan Sisil. Sudahlah mereka sudah mengatakannya padaku, kalau kamu memang menyukainya kenapa masih bertahan sama aku?”
“Mereka siapa? Kamu jangan gampang percaya sama orang dong! Kamu pacar aku apa mereka? Siapa yang lebih tahu aku, jelas itu aku bukan mereka! Sekarang kamu dengerin dulu penjelasan aku sekali ini aja aku mohoon setelah ini kamu ubah pikiran kamu yang pengen udahan itu…”
“Silahkan…”                         
“Temanku, namanya Dodi menyukai Sisil jadi dia menyuruhku untuk menyomblangkan mereka. Wajar saja aku jadi deket sama dia, aku ga pernah punya rasa sama dia, udah sebatas itu doang.”
“Aku tahu kalian deket, seseorang juga bilang kalian saling suka dan sedang PDKT. Aku tau kalian pernah jalan dan lain lain, aku tau semuanya Krish, aku ga nyangka kamu bakal boongin aku dengan cara ini. kalau emang kamu suka sama dia, kejar dia jangan biarkan dia pergi. Aku rela jika itu bisa buat kamu bahagia, aku gamau jadi benalu buat hubungan kamu dengan dia selanjutnya.. jadi biarkan aku pergi.”
Suaraku semakin lirih diiringi tangisan yang membasahi pipi, aku pergi meninggalkannya aku tak ingin lagi mendengar segala hal tentang mereka, aku harus pergi!

Keep Moving Forward
Itulah kata-kata yang aku tuliskan dalam status facebook-ku.
Seminggu menjelang hari ulang tahunku, aku berpisah dengannya seorang yang aku harapkan memberi warna baru, kejutan baru di hari kelahiranku. Namun apa daya? Rasa itu tak bisa dipaksakan, jika memang ia menyukai wanita itu untuk apa adanya aku? Sampai saat ini dia tetap menghubungiku, meyakinkanku, namun aku tak mampu merajut kembali kasih yang sudah putus karena orang lain. Sebenarnya masih banyak hal yang tak aku ketahui antara ia dan Sisil, namun saat ini aku harus berhenti mencari tahu segala hal itu.

Kamu tahu? Saat menjalin kasih, semua pasangan bisa mengatakan segala hal terindah yang kamu dambakan, namun ketika semuanya usai rangkaian kata tetap menjadi rangkaian kata tidak akan menjadi nyata. Usai percintaan usai juga asa yang selalu diimpikan, tak ada harapan bersama ketika kita telah memilih jalan masing-masing.

Komentar

  1. Coba bikin 7-10 cerpen, nanti dibantu editor, layout dan menjadi buku scra gratis .. brani coba ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer