Sesaat

Sesaat
*Disebuah  pedesaan yang lumayan jauh dari keramaian kota.
            Pada suatu hari pemuda-pemudi bermotor jalan-jalan ke Kebun Teh, sebelum Kebun Teh terdapat sekolah menengah pertama yang sepi karena hari libur. Para pemuda itu beristirahat sejenak di sekolah tersebut, dengan memarkirkan motornya di depan halaman sekolah. Salah satu dari mereka memerhatikan rumah yang berada di bawah, ada seorang perempuan yang sedang duduk di halaman rumah itu. Lelaki itu bernama Rizki, lelaki berkulit putih dengan postur tubuh tidak terlalu tinggi. Meskipun hanya melihat dari jauh, Rizki tertarik kepada wanita yang duduk di depan halaman tersebut.
*Malam hari
            Vina seorang gadis desa berkulit putih, dengan postur tubuh yang mungil. Vina yang tadi sore duduk di depan halaman rumahnya, tidak menyadari ada lelaki yang memerhatikannya dari jauh. Saat ini ia tinggal di rumah Ibunya karena sekolah sedang libur. Telepon genggam Vina bergetar menandakan ada pesan masuk. Pesan itu dari Lulu, sahabatnya dari kecil yang sebaya dengannya. Lulu meminta izin pada Vina karena ada lelaki yang meminta nomor Vina. Vina meminta Lulu memberikan nomor Ibunya, karena Vina takut ketahuan oleh Damar jika berkomunikasi dengan lelaki lain. Vina memang telah menjalin hubungan yang cukup lama dengan Damar, teman sekolahnya. Akhirnya telepon genggam Ibu Vina bergetar menandakan ada pesan masuk. Ternyata itu adalah pesan dari Rizki, Vina membalasnya dan mereka mengobrol melalui pesan singkat meskipun Vina belum mengetahui Rizki secara langsung. Setelah dua bulan  mereka pendekatan melalui pesan singkat, Rizki mengajak Vina untuk bertemu. Mereka janji untuk bertemu sore hari di Kebun Teh, namun Vina tidak membawa telepon genggam Ibunya karena sedang dipakai. Tepatnya pukul 17.00 WIB  Vina dan Lulu sedang menikmati pemandangan di sekitar Kebun Teh. Kemudian mereka melihat dari jauh ada motor ninja merah yang ditumpangi oleh dua orang pria, Vina lupa kalau ia memiliki janji untuk bertemu dengan Rizki. Mereka mengobrol dan sesekali melihat dua orang pria yang sedang gelisah memainkan telepon genggamnya tetapi Lulu dan Vina tidak mempedulikan kedua pria tersebut.
Karena hari sudah gelap, mereka berjalan untuk pulang. Dari kejauhan kedua pria tersebut mengalihkan pandangannya kepada Lulu dan Vina yang membuat mereka sedikit salah tingkah. Tepat mereka berjalan di depan kedua pria tersebut, tiba-tiba ada seorang pria yang memanggil “Vina, Vina” seru salah seorang pria. Akhirnya Vina menoleh ke arah mereka dan menghampiri mereka berdua, Lulu bergegas pulang dan meninggalkan mereka. Ternyata itu adalah Rizki dan Doni (temannya). Meraka mengobrol dan bercanda tawa, keduanya saling melempar senyuman yang indah dan memandang dengan penuh ketulusan. Obrolan mereka pun berjalan singkat, sesingkat waktu yang harus memisahkan mereka karena hari semakin larut.
            Rizki memberikan tawaran kepada Vina untuk mengantarnya pulang, karena Rizki khawatir jalan dari Kebun Teh ke Rumah Vina cukup jauh dan melewati jalanan yang tidak banyak penduduknya. Akhirnya Rizki mengantar Vina pulang, di jalan mereka bertemu Lulu yang sedang berjalan menuju rumahnya, Vina meminta Rizki untuk berhenti. Sebelum Rizki kembali menjemput temannya yang masih di Kebun Teh, Vina meminta Rizki untuk mengantarkannya ke kota esok hari. Rizki menyanggupi permintaan Vina dan ia bergegas untuk pulang ke rumahnya.
*Malam hari*
Vina tidak bisa tidur, setiap ia memejamkan mata hanya bayangan wajah Rizki yang selalu ada dibenaknya. Vina semakin gelisah mengapa bayangan wajah Rizki tidak bisa hilang dari pikirannya dan membuatnya susah tidur. Jantungnya berdebar begitu kencang saat mengingat kejadian tadi sore, membuatnya senyum-senyum sendiri di tengah malam. Namun ia merasa bersalah terhadap Damar.
*Keesokan harinya*
 Rizki telah berada di halaman Rumah Vina, dengan menggunakan sandal gunung, celana panjang dan kaos hitam yang ditutupi jaket kulit coklat dengan aroma minyak wangi yang membuat lelaki itu semakin keren dimata Vina. Mereka berangkat menuju terminal Cibaraja, karena Lulu dan pacarnya telah menunggu di sana. Di perjalanan, Vina dan Rizki menceritakan dirinya masing-masing. Vina tak mengira bahwa ternyata mereka adalah saudara jauh,  Kakek Vina dan Neneknya Rizki merupakan kakak-adik. Namun mereka berdua tidak menghiraukan entah saudara atau bukan jika hati mereka telah merasakan getaran yang begitu dahsyat yang tak bisa mereka pungkiri ada cinta dalam hati. Setelah sampai terminal, Lulu dan Vina melanjutkan perjalanan mereka menggunakan angkutan umum.
            Selama Vina sekolah di kota, ia tinggal bersama bibi dari ayahnya. Setelah sampai di rumah bibi Vina, mereka beristirahat karena lelah. Tiba-tiba telepon genggam Vina bergetar “Aku sudah sampai rumah, hati-hati di jalan yah J” pesan dari Ibunya. Vina menyadari bahwa itu pesan dari Rizki, karena Vina belum memberitahukan nomor teleponnya, Vina takut ketahuan Damar. Empat  hari yang lalu Damar memutuskan hubungan mereka karena alasan yang sangat sepele. Kemudian tiga hari yang lalu mereka balikan lagi tepatnya sehari sebelum Vina bertemu dengan Rizki. Vina memang sudah tak tahan dengan sikap Damar, namun entah mengapa Vina sulit untuk benar-benar lepas dari Damar. Malam ini Damar memang telah berjanji akan ke rumah bibi  Vina untuk bertemu. Namun setelah Vina sampai rumah, Damar tiba-tiba membatalkannya dengan alasan ibunya sendiri di rumah. Vina sangat kesal dengan Damar, mereka bertengkar.
*Keesokan hari*
Hari Minggu ini Vina dan Lulu pergi ke Lapang Merdeka untuk berolahraga. Karena banyaknya pengunjung yang datang, tempat itu sudah tidak seperti lapangan yang digunakan untuk berolahraga melainkan tempat berjualan, bisa dibilang sudah mirip pasar. Karena Vina merasa bersalah belum membalas pesan Rizki kemarin, akhirnya Vina mengirim pesan kepadanya juga memberitahu nomor ia yang sebenarnya.
            Setelah mereka puas berbelanja akhirnya mereka pulang. Sesampainya di rumah, Vina termenung memikirkan perasaannya kepada Rizki dan status hubungannya sebagai pacar Damar. Vina dan Damar telah menjalin hubungan selama 17 bulan tetapi putus nyambung. Vina menceritakan semua kegelisahan hatinya kepada Lulu dan bibinya. Namun Vina tak menemukan jawaban yang diharapkannya. Vina memang lebih jauh mengenal Damar, dibandingkan dengan Rizki yang baru beberapa hari ini dekat dengannya. Dalam hati kecilnya Vina sangat bahagia ketika bertemu dengan Rizki, karena Rizki cinta pandangan pertamanya. Belum pernah ia merasakan cinta yang begitu hebat selain kepada Rizki.
            Malam harinya, telepon Vina bergetar.
 R : “Hai lagi ngapain? Udah shalat belum? J
V :  “Lagi dengerin musik aja nih, kamu lagi apa? Udah dong shalat ma ga ketinggalan :D”
R: “Aku lagi nonton tv aja hehe, eh lupa ada yang belum aku tanyain sama kamu, kamu udah punya pacar belum?”
Seketika Vina bingung harus menjawab apa, dia tidak mau kehilangan Rizki karena dia terlanjur cinta dan terbuai akan indahnya kebersamaan yang akan mereka lalui nantinya. Tapi di sisi lain jika dia berbohong, suatu saat akan ketahuan juga dan mungkin Vina kehilangan dua-duanya. Akhirnya Vina memiliki keberanian untuk berterus-terang kepada Rizki tentang hubungannya dengan Damar, meski berat ia harus melakukannya karena segala sesuatu yang diawali dengan kebohongan tidak akan berjalan dengan baik. Akhirnya Vina memberitahukan bahwa ia telah berpacaran selama 17 bulan, namun sehari sebelum bertemu dengan Rizki, Vina putus dengan pacarnya. Vina mengungkapkan penyesalannya telah kembali lagi pada pacarnya yang sekarang.
Rizki pun tak membalas lagi pesan Vina, seketika airmatanya tak bisa dibendung lagi merasakan kebahagiaan yang ia dambakan yang tak ia dapatkan dari Damar menghilang begitu saja. Semua yang pergi seakan tak kembali lagi. Dalam hati, Vina selalu menyesali mengapa ia harus terjatuh ke lubang yang sama dan tidak sabar menunggu orang yang benar-benar bisa membuat dia bahagia. Bahkan Vina tidak bisa tidur memikirkan kepergian Rizki begitu saja, meninggalkan sejuta harapan yang ingin ia lalui bersama Rizki. Vina membuka akun twitternya mengecek akun Rizki, namun tak sepatah katapun ia mencurahkan perasaannya sehingga membuat Vina bingung dan membuat ia berkicau di twitter. Setelah itu dia melihat akun Damar yang ternyata dipenuhi percakapannya dengan wanita lain, air mata Vina semakin deras berjatuhan dan tak dapat dibendung lagi. Vina benar-benar merasa kebahagiaannya sudah hilang, Damar yang selama ini mengekang Vina untuk tidak berhubungan dalam bentuk apapun dengan lelaki, tetapi dari dulu dia juga yang melakukannya.
 Setelah lama kemudian Rizki membalas Vina.
R : “Nyesek juga yah ....”
V: “Nyesek kenapa? Aku juga nyesek nih hidup serasa hampa :’) ”
R: “Nyesek karena aku suka sama orang, tapi orang itu udah punya pacar. Kamu nyesek kenapa? Udah punya pacar mah seneng dong J
V: “Ngga setiap punya pacar itu seneng ko, aku nyesek karena bakal kehilangan orang yang aku suka :’)”
R: “siapa emang? Lebih nyesek mana sama aku? Menyukai tanpa bisa memiliki.”
Vina tak tau harus membalas apa kemudian ia tertidur.
*Esok hari*
Lulu pagi-pagi pulang karena dia ada rencana main sama pacarnya, sedangkan Vina masih bingung pulang atau engga karena tak ada yang menjemputnya :’). Dia menghubungi Rizki, Rizki siap untuk menjemput Vina di Gerbi meskipun dia tau kalo Vina telah memiliki pacar.  Akhirnya Vina pulang dengan hati yang gembira karena akan bertemu lagi dengan Rizki. Tiba di depan sebuah minimarket Rizki telah menunggu. Diperjalanan menuju rumah mereka bercanda ria, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Rizki menggoda Vina dengan senyuman manja. Akhirnya mereka tiba juga di depan rumah Vina, namun Rizki tidak ikut turun karena dia mengatakan sore akan menemui Vina lagi. Di depan rumah, Vina memandang kepergian Rizki, Rizki tersenyum lebar, penuh arti cinta dan ketulusan.
Pikiran Vina makin kacau, dia benar-benar mencintai Rizki tetapi dia terikat dengan Damar. Vina bercerita semuanya kepada ibunya, dan ibunya memberi nasihat “Jika ada di antara dua pilihan lebih baik lepaskan dua-duanya.” Lina merenung, sampai saat ini hubungan Vina dengan Damar sudah tidak baik lagi untuk dipertahankan. Vina memutuskan hubungannya dengan Damar meski Damar tak mau, Vina juga meminta Rizki untuk tidak menghubunginya dulu karena ia ingin istirahat dan tidak memikirkan lelaki. Rizki menyanggupinya, namun sore harinya Rizki mengirim pesan terhadap Vina.
R: “Ngga mudah yah ngelupain orang yang kita suka tuh :’)”
V: “Mudah ko jika kamu mau berusaha melupakannya :’)”
            Mereka melanjutkan percakapannya yang membuat mereka semakin dekat. Dua minggu berjalan mereka semakin sering bertemu, main dan menghabiskan waktu berdua. Perasaan Vina bahagia sekali karena Allah telah mempertemukannya dengan Rizki. Sore hari, mereka janji bertemu di Kebun Teh. Akhirnya Rizki menyatakan perasaan yang sesungguhnya kepada Vina.
R : “Apakah kamu masih sayang sama cowok itu?”
 Tak sepatah kata yang terucap dari bibir Vina, ia hanya diam dengan muka ditekuk mendengar pertanyaan Rizki.
R : “Aku suka sama kamu, apakah kamu mau jadi pacar aku?  Dengan keadaan aku seperti ini dan semua yang aku bawa ini bukanlah milikku, melainkan hanya fasilitas dari orang tua.”
Vina tetap tidak menjawab dia hanya menggoda Rizki kenapa dia suka sama Vina. Karena hari sudah sore Rizki mengajak Vina pulang, tanpa jawaban yang ia dapatkan dari Vina. Di perjalanan Vina menjawab pertanyaan Rizki “yaa aku mau :D” ujar Vina, namun Rizki pura-pura tidak mengerti dan balik menggoda Vina sepanjang perjalanan. Ya 12 Juli 2012 adalah hari paling bahagia bagi mereka karena akhirnya mereka memiliki ikatan yang jelas untuk menyatukan cinta mereka yang semakin tumbuh.
            Dua hari menjelang puasa, Vina mengajak Rizki papajar (makan bersama sebelum bulan puasa) dirumahnya. Vina mengajak teman-temannya yaitu Lulu dan Rini. Rizki dan Vina pergi mencari penjual ikan, meskipun mereka tak tahu tempat yang passti di mana tetap saja mereka pergi (namanya juga orang lagi kasmaran sejauh apapun pasti akan mereka cari). Akhirnya mereka menemukan penjualnya dan membeli ikan secukupnya. Sesampainya di rumah Vina, Rizki, Lulu, Rini dan juga Ari (adiknya Vina yang masih sekolah SD) ikut pergi ke sungai untuk membuang sisik ikan dan memebersihkannya. Di sana Vina, Ari dan Rizki bercanda tawa betapa bahagianya mereka, juga Vina karena jarang ada teman lelaki yang akur dengan adiknya yang satu itu. Mereka selesai memasak dan makan bersama-sama di depan rumah Vina. Karena hari sudah sore, Rizki, Lulu, dan Rini bergegas pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Vina mengecek teleponnya, banyak panggilan tak terjawab dari Damar. Vina mengirim pesan kepada Damar bahwa tadi ia sedang membantu ibunya memasak. Mereka berkomunikasi lagi lewat telepon genggam, hal yang membuat Vina semakin goyah menjalani hubungan dengan Rizki. Sejauh ini Damar tidak mengetahui hubungan Vina dan Rizki.
            Awal puasa, sungguh keberkahan yang dirasakan Vina karena dia merasa sebahagia sekarang karena telah menyatukan hatinya bersama orang yang benar-benar ia cintai. Keesokan harinya ia terkejut karena dapat telepon dari Damar, ia telah mengetahui bahwa Vina telah memliki kekasih baru, Damar mengetahuinya karena ia membuka akun facebooknya Vina dan membaca obrolan Vina dengan Rizki. Saat itu Vina hanya bisa menangis, ia tidak mau kehilangan Rizki. Dia baru saja menikmati kebahagiaan itu. Damar mengancam Vina untuk memutuskan hubungan Vina dengan Rizki dan kembali kepadanya, hati kecil Vina tak mau melakukan itu namun terkadang bayangan masa lalu muncul dan mengingat hubungan mereka yang telah lama dibina membuat Vina tak tau harus berbuat apalagi menghadapi semua ini. Dia menanyakan beberapa sahabatnya, adik-adiknya, bahkan ibunya. Dia bingung harus memilih yang mana antara cinta dan hubungan yang lama. Vina pun meminta Damar memberi waktu untuk menjawabnya selama dua minggu namun Damar tetap bersikeras agar Vina segera memutuskan hubungannya dengan Rizki. Damar memberikan waktu sampai hari ulang tahun Vina untuk memutuskan memilih kembali padanya dan memutuskan Rizki, atau dia yang akan pergi selama-lamanya dari hidup Vina. Memang salah Vina berpacaran dengan lelaki lain, ketika ia belum benar-benar melupakan masa lalunya.
H-1 Vina berulangtahun, Damar menemui Vina malam-malam di depan rumah bibinya untuk menanyakan jawaban dan memberikan hadiah ulang tahun kepada Vina. Malam itu Vina benar-benar tak tahu harus bagaimana saat berhadapan langsung dengan Damar, karena ia sendiri tau bahwa ia belum sepenuhnya melupakan Damar. Malam itu Damar terus menerus mendesak jawaban Vina, dan Vina memutuskan untuk tetap bertahan dengan Rizki. Damar tetap bersikeras meyakinkan Vina bahwa ia lebih baik dari Rizki. Damar tak pernah bosan untuk berbicara apapun agar keyakinan Vina tergoyah dan akhirnya memutuskan untuk kembali dengannya. Lalu apakah yang dilakukan Vina saat itu?
Dengan berat hati, Vina bertujuan untuk menyambung tali yang memang sudah lama ia jaga, meski ia tahu tali itu tak sekuat pertama ia menggenggamnya meski telah ada tali lain yang lebih kuat. Vina akhirnya menyanggupi permintaan Damar untuk memutuskan Rizki tepat di hari ulang tahunnya :’).  Keesokan harinya, pada saat sahur Vina mengecek telepon genggamnya dan melihat siapa saja yang mengucapkan ulang tahun kepadanya di sweetseventeen ini. Ternyata tak ada satu pesan pun dari Rizki, sedangkan Damar ada di antara orang-orang yang mengucapkan pukul 12 tepat. Pukul 03.30 ia mendapatkan pesan dari Rizki “Happy birthday sayang, semoga kamu makin tambah sayang sama aku. I love you :*”. Vina menangis, hanya sepatah kata saja yang Rizki ucapkan padanya dan juga bukan Rizki orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya, ia sangat kecewa L.
Siangnya Vina pergi untuk mengambil kue pesanannya dan pulang ke rumah mamanya, di perjalanan Vina terus-terusan di telepon Damar. Ia menanyakan apakah Vina sudah memutuskan hubungannya dengan Rizki atau belum. Vina belum sanggup memutuskannya, hatinya tetap mengatakan tidak. Vina menanyakan kepada ibunya, namun ibunya tak membalas pesan Vina. Akhirnya Vina putus asa dan merangkai kata untuk memutuskan Rizki dengan sangat berat hati ia melakukannya. Hatinya terasa terobek-robek, saat itu dia enggan mengirim pesan itu. Vina menyayangi Rizki tapi ia telah membuat kesepakatan dengan Damar untuk melakukannya. Akhirnya Vina memutuskan hubungannya dengan Rizki dengan alasan mereka saudara. Rizki menyanggupi permintaan Vina.
Damar menemui Vina, berniat agar malam ini Vina mau buka bersama untuk merayakan ulang tahunnya. Namun perasaan Vina yang kacau karena telah kehilangan orang yang ia cintai, Vina tetap pada rencana awal untuk pulang ke rumahnya. Tak peduli apapun yang dilakukan dan dikatakan oleh Damar.  Ia merasa bahwa Damar telah merusak sweet seventeen yang ia damba-dambakan akan bahagia bersama Rizki. Damar mengantar Vina sampai terminal Cibaraja, tak sepatah kata pun terucap dari bibir Vina. Sesampainya dirumah Vina hanya menangis atas semua kejadian yang ia rasakan hari ini.
Adzan berkumandang dan waktunya untuk berbuka puasa, harapan Vina sirna semuanya telah hancur. Dia meniup lilin dan memotong kue sendiri dengan bercucuran air mata. Semangat yang selalu menggebu-gebu saat ia bersama Rizki hilang begitu saja, semua terasa berbeda tak akan seindah seperti saat bersama Rizki. Sweet seventeen yang Vina harapkan tak sejalan dengan keinginannya. Seminggu setelah ulang tahun dan putus dengan Rizki, Vina kembali berpacaran dengan Damar.
Di hati Vina tetap ada Rizki, meskipun ia tau tak mungkin bisa menggapainya lagi dan meraih mimpi bersamanya. Vina menyadari bahwa cinta itu bukan tentang waktu, bukan seberapa lama kita mengenal pasangan kita namun seberapa bahagia saat kita disampingnya. Vina menyadari ini adalah pelajaran berharga baginya karena sulit sekali ia melupakan Rizki. Vina menyesali segala keputusannya namun ia tahu bahwa itu tak akan membuat Rizki kembali.
Rizki                                        Vina                            Damar

   

Komentar

Postingan Populer