Ketika bunga tak bermekar lagi

Ketika Bunga Tak Bermekar Lagi
“Aku : Ciyee nungguin Kak Opik yah? (Godaku pada Rini).”
“Rini : Ih ngga kok, ngapain aku nungguin dia! (dengan muka jutek).”
“Sinta : Masa sih? Dari tadi kamu ngeliatin jalanan terus.”
“Rini : Engga, engga!! Udah ah aku mau masuk kelas aja.”
            Aku dan Sinta menyusul sambil terus menggodanya di dalam kelas, muka Rini sudah seperti kepiting rebus hihi. Aku, Rini, Sinta, dan Siti menjadi sahabat ketika memasuki sekolah yang sama, ya! Kami bersekolah di MTs Al-Andina.
***
Setelah lulus dari SDN 1 Ciengang aku ingin sekali melanjutkan sekolah menengah pertamaku di kota, aku bosan tinggal di Kampung Ciengang. Bapakku tidak menyetujui keinginanku sekolah di sana dan menjanjikan aku sekolah di kota ketika SMA nanti karena jika aku sekolah di kota sekarang, teman-temanku yang masuk di sekolah bapak pasti akan keluar lagi. Di kampung kami, bapak mendirikan sebuah yayasan yang mengambil nama dari nama depanku. Yayasan Pendidikan Islam Al-Andina yang di bawahnya terdapat MTs Al-Andina, SMK Al-Andina, dan STAI Al-Andina. Keinginan bapak mendirikan yayasan memang sedikit nekad, dengan biaya yang seadanya bapak membangun gedung di daerah Jalan Baldes Ciengang Kecamatan Gegerbitung. Gedung berlantai satu ini memiliki tiga ruang kelas serta satu ruang guru dengan dinding putih menghadap ke jalan kecil. Gedung ini terletak di bawah gedung Balai Desa Ciengang, dengan halaman berumput hijau yang cukup luas dan dekat dengan sungai bersih yang digunakan masyarakat lingkungan ini. Di belakang gedung ini terdapat rumah kecil berdinding bilik, biasa kami sebut kobong. Kobong ini digunakan sebagai tempat istirahat para santri yang mengaji dan sekolah di MTs maupun SMK Al-Andina.
***
Bel sekolah telah berbunyi, menandakan waktunya untuk pulang. Kami bergegas ke luar kelas dengan muka yang riang. Rini masih celingukan mencari seseorang yang ia harapkan ada di depan matanya hari ini. Sebenarnya aku juga rindu ingin melihat dia, hari ini tak terlihat batang hidungnya, ke mana perginya mereka? Fiuuuuhh aku menghela nafas dan berjalan menuju rumah. Kami berpisah di depan rumahku, mereka melanjutkan perjalanan pulang, karena jarak rumah mereka ke sekolah lebih jauh daripada aku. “Asalamualaikum” ucapku saat mengetuk pintu rumah, namun tak ada satu orang pun yang menjawab. Hmm aku lupa bahwa rumah ini sudah sepi setelah adik-adikku sekolah di Cikarang, mama dan bapak juga ikut menemani mereka di sana dan meninggalkan aku sendirian di rumah. Aku mengambil kunci di atas pintu dan memasuki rumah, kurebahkan badan di atas kasur untuk mengusir rasa lelah hari ini. Aku mendekati jendela, membuka handphone berharap ada pesan dari dia. Sinyal di rumahku memang jelek, hanya ada di jendela saja. Kudapati beberapa pesan dari mama, “Jangan lupa mengunci pintu, periksa jendela, matikan kompor, cabut kabel tv jika sudah selesai digunakan, jaga kesehatan dan ajak nini atau apih untuk menemani tidur mala mini, mama pulang seminggu lagi, jangan lupa makan.” Tak terasa pipiku sudah basah membaca pesan mama, aku rindu mereka aku bosan tinggal sendirian di rumah L.
***
Hari ini adalah Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolahku,  semua siswa MTs dan SMK Al-Andina dikumpulkan di lapang sekolah. Alhamdulillah muridnya tidak terlalu sedikit, meskipun dekat dari sekolah kami ada SMPN 2 Gegerbitung yang muridnya bejibun. Aku berbaris paling depan, menggunakan seragam putih merah dengan tali rapia merah di kerudungku. Memakai sepatu hitam, dan keresek hitam bertalikan rapia yang menjadi tasku. Siswa-siswi di sekolah bapak kebanyakan bukan orang asli daerah ini, ada yang dari Cileguk, Cikeuyeup, Cijember, Cigaluga dan masih banyak lagi. Kulihat barisan anak SMK, siswa yang datang dari daerah Cijember ganteng-ganteng hihi, meskipun aku masih kecil tapi sudah tahu mana cowok ganteng :D.
Semua siswa berbaris rapi, dibagi kelompok sesuai dengan barisannya. Setiap kelompok mengirimkan satu orang untuk mengambil koin di buah jeruk yang sudah dilumuri kecap, lomba makan kerupuk, dan balap karung. Meski kelompok kami tidak juara, tetap seruuu! Acara selanjutnya yaitu lintas alam menyusuri hutan dengan melewati tantangan dari lima pos. mukaku penuh blao dengan pakaian yang sudah kotor karena tiarap di tanah dan basah karena jatuh di sungai. Sungguh perjuangan sekali! Setiap siswa diberikan waktu istirahat untuk mengganti pakaian. Sorenya seluruh siswa dikumpulkan kembali di lapangan, persiapan untuk api unggun nanti malam. Aku sudah tidak sabar menantikan keseruannya.
***
“Na bangun, geura salat….” Terdengar suara serak nini di depan pintu kamarku. Perlahan kubuka kelopak mata ini walau berat melawan rasa kantuk. Kuhampiri nini yang dari tadi sudah berada di rumah, kulirik jam dinding Astagfirullah ternyata sudah pukul 14.30 sedangkan aku belum salat Zuhur. Segera aku melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudlu dan salat. Malam ini aku tidur di kamar bersama nini.
Matahari menyelonong masuk lewat gorden menyilaukan mataku yang masih tertutup rapat, rupanya sudah pagi. Aku bersiap-siap berangkat sekolah, dan menyiapkan sarapan pagi untukku dan nini. Ketika sedang sarapan kulihat ada rombongan motor yang lewat ke arah sekolah, kulihat satu per satu dari mereka, ya aku menemukannya! Hihi hari ini dia sekolah, aku semakin bersemangat untuk belajar hari ini. Rini dan Sinta belum lewat depan rumahku, tapi aku akan berangkat sendiri, aku rindu melihat senyumnya J.
Aku berjalan di lorong sekolah, ternyata masih sepi lalu ke mana perginya mereka? Kudengar suara tawa anak-anak Cijember, aku masuk ke salah satu ruangan yang bisa melihat jelas ke kobong. Kulihat mereka sedang bercanda tawa sambil merapikan kobong. Ingin sekali aku menyapanya, namun aku tak berani menyusuri kobong sendiri. Aku duduk di kelas menunggu Sinta, Rini, dan Siti. Yee mereka datang juga, aku ceritakan kedatangan anak-anak Cijember kepada mereka. Ketika sedang asyik mengobrol tiba-tiba ada  kedua orang pria yang nyelonong membuka pintu kelasku. Cowok kurus berpostur tinggi, memiliki kulit putih dan wajah semanis Kiki Farel namanya Dasep, dan yang satu lagi namanya Ganjar biasa dipanggil Dawil. Kak Dawil orangnya berkulit hitam, tinggi namun agak bungkuk (bungkuk udang) wajahnya manis dengan rambut lurus hitamnya. Kedua cowok itu kerjaannya menggodaku ketika sela-sela istirahat atau pagi sebelum pembelajaran dimulai. Saat ini aku kelas VII di MTs, Kak Dawil dan Kak Dasep kelas X SMK.
 Mereka duduk di hadapanku, menggodaku seperti biasanya. Aku tak kuasa menahan detak jantung yang semakin tak beraturan, mengapa ia menatapku terlalu dalam aku tak bisa terus larut dalam rasa yang aku anggap salah ini. Mereka mengajakku mengobrol dan kami bercanda tawa bersama. Tak diduga, bapak pulang dari Cikarang dan langsung ke sekolah. Bapak memang over protektif kepadaku, dia tak ingin satu orang lelaki pun mendekatiku katanya aku belum cukup umur untuk mengerti tentang lelaki. Bapak membuka pintu kelasku, didapatinya aku yang sedang asyik mengobrol dengan mereka. Muka bapak merah, bapak menyuruh mereka ke luar dan memarahi mereka karena telah berani mendekati anaknya. Aku jengkel sekali dengan bapak--.
Waktunya istirahat, aku dan kedua sahabatku jajan di depan sekolah karena bapak menyediakan warung kecil yang dijaga oleh Kak Rivan, siswa kelas XII SMK yang berasal dari Cikarang. Kalo aku sih ga perlu bayar, karena memang ini warung bapakku seenaknya saja aku mengambil apa yang aku mau hehe. Kulihat bapak ke luar dari kelas, aku langsung menghampirinya untuk meminta uang. Bapak mengatakan bahwa sore ini bapak akan kembali ke Cikarang.
***
Malam yang ditunggu pun tiba, Pak Wahyu guru muda yang menjadi Pembina OSIS ini membuka acara camping di sekolah pukul 19.30. di pinggir lapang ada dua tenda sedang untuk siswi, dan siswa tidur di kelas. Acara selanjutnya bernyanyi diiringi dengan gitar dan cahaya dari api unggun. Alangkah indahnya jika ada yang menyatakan cinta kepadaku saat ini :D, namun sayangnya itu hanya khayalanku saja. Pukul 22.00 bapak menjemputku untuk tidur di rumah, aku sangat kesal kenapa bapak tidak pernah percaya padaku untuk tidur satu malam saja di tenda bersama teman-teman. Aku menangis namun bapak tidak peduli, bapak tetap membawaku pulang ke rumah. Malam puncak api unggun kulewatkan begitu saja L.
Subuhnya aku dibangunkan untuk ke sekolah lagi, mengikuti senam dan olahraga bersama untuk penutupan rangkaian acara MOS angkatan 2006. Meski aku tak mengikuti acara seutuhnya, aku merasakan kebahagiaan yang anak-anak lain rasakan. Akhirnya besok pagi aku sudah bisa menggunakan seragam MTs-ku. Setelah upacara penutupan selesai, seluruh siswa dibolehkan pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.
Sang surya telah menyinari dunia, hari baruku di sekolah menengah ini hihi. Aku bersiap-siap berangkat karena sahabat-sahabatku telah menunggu depan rumah. Seragam putih gading ini menjadi seragamku selama tiga tahun ke depan, apapun yang terjadi aku harus menikmati sekolah baruku. Di sekolah aku mulai akrab dengan kakak kelas maupun teman sekelasku. Sayang sekali mereka semua sudah tahu aku ini anak pemiliki yayasan, bagaimana mereka tidak tahu jika namaku yang dipakai untuk nama yayasan –
Hanya ada empat orang yang berasal dari sekolah yang sama denganku, yaitu Rini, Siti, Sinta dan aku. Sinta memiliki postur tinggi, berkulit putih, suaranya bagus dan cantik mirip Marshanda. Rini juga berpostur tinggi, kulit sawo matang, mukanya manis dan memiliki lesung pipi, mirip  Dea Imut. Siti memiliki tinggi yang standar, kulit sawo matang dan manis. Sedangkan aku, cewek berpostur standar, berkulit putih, muka bulet tembem dengan mata sayu yang membuatku terlihat seperti orang Cina, tak ada yang menarik dariku tetapi teman-temanku bilang wajahku lucu.
Mereka bertiga memiliki cowok yang disukai, Sinta telah berpacaran dengan Sakri teman sekelas kami. Rini menyukai Kak Opik, cowok lucu mirip Rian D’Massiv ini meluluhkan hatinya meskipun mereka belum berani mengakui perasaannya masing-masing. Siti menyukai Kak Rendy, cowok tampan ini memang menjadi idola cewek-cewek di lingkungan kami, mungkin masih rasa suka sendirian. Aku belum tahu menyimpan hati untuk siapa, semua masih samar aku rasakan. Aku takut jatuh di hati yang salah, karena seluruh kekuranganku menutupi keinginanku untuk memiliki pacar, ya aku minder sekali!
Beragam karakter siswa dari berbagai daerah ada di sini, membuatku betah. Hari-hari kujalani dengan penuh senyuman, bertemu sahabat dan menjelajahi sesuatu yang belum aku rasakan sebelumnya. Ya! Aku ingin tahu apa itu cinta? Memang waktu sd aku pernah berhubungan dengan cowok, namun belum mengerti makna dari cinta.
***
Bel berbunyi, yeeee!! Sorak anak-anak cowok yang dari tadi memang ingin segera pulang, pada waktu istirahat mereka akan bolos namun ketahuan ketahuan guru. Kami berempat ke luar kelas menuju jalan raya, Siti rumahnya dekat sekali dengan sekolah, sehingga kami berjalan bertiga. Kami berjalan ke atas, melewati lapang bola  depan Baldes Ciengang yang sangat luas dan gersang. Di belakang kami ada Sakri membawa motor untuk mengantar Sinta pulang, disusul Kak Opik sepertinya mengantar Rini pulang namun tidak mau kelihatan olehku.
“Duluan aja Rin, aku gapapa ko sendiri.” Kataku.
“Duluan ke mana? Dari tadi aku kan nemenin kamu na.”
“Udah deh ga usah pura-pura Kak Opik nunggu tuh di belakang kita, samperin gih kasian kepanasan. J
“Biarin aja, memangnya Kak Opik nunggu aku. Siapa tau nunggu cewek lain, masa aku ninggalin kamu jalan sendirian sih.”
“Aku gapapa ko, rumah aku kan deket. Kamu bareng dia aja panas-panas gini apalagi jauh juga kan.”
“Yaudah Na, kamu hati-hati yaa awas ada yang nyulik :D”
Rini menghampiri Kak Opik, dan meninggalkanku. Angin yang membawa tanah merah ini menempel di mukaku semakin menambah hawa panas badan dan hatiku. Dengan muka ditekuk aku berjalan pelan, berharap ada seseorang yang mengantarku pulang. “Tid…..tid….” bunyi klakson motor di belakangku, lalu kutengok siapa orang itu.
***
            Sudah dua tahun di sini masih belum ada perubahan dalam kisah cintaku. Aku masih saja sendiri, menunggu cowok ganteng yang kena musibah dapet cewek seperti aku huhu. Sinta tetap setia dan semakin romantis dengan Sakri. Siti sudah memiliki pacar, meski tidak satu sekolahan dengan kami, Rini makin lengket dengan Kak Opik meski aku ga tau sampai saat ini mereka sudah pacaran apa belum.
            Baru-baru ini ada dua orang cowok yang selalu mendekatiku, Kak Dasep dan Kak Dawil.
***
            Motor Honda Vega biru, cowok ini menggunakan seragam putih abu, jelas ia adalah siswa SMK. Tapi siapa? Dia membuka helmnya, kutatap kulitnya yang putih seperti bule dengan pipi merah karena kepanasan. Oyaa! Itu Kak Sandy, teman sekelas Kak Rendy. Dia menyimpan helmnya dan menghampiriku.
“Hayu pulang bareng kakak aja, kakak sekalian lewat, mau pulang dulu ke rumah soalnya minta uang buat biaya di kobong.”
“Emmm gapapa kak, sok aja duluan aku bisa jalan sendiri ko J.”
“Panas banget ini, nanti kulit kamu terbakar jadi item loh? :p udah ayoo naik aja jangan jaim!”
Dengan muka merah aku ikut dengannya, tak sepatah kata pun terucap sampai aku depan rumah. Hanya ucapan terima kasih yang mengakhiri perjumpaan kami. Aku masuk rumah, dan masih terkejut kenapa Kak Sandy mau mengantarku pulang. Ah memang benar dia kan mau pulang ke rumahnya, sekalian lewat saja dia hanya kasihan padaku ingat itu Na! aku ambil hp untuk mengetik permintaan maaf pada Kak Dawil yang sudah dimarahi bapak tadi pagi.
“Kak maaf yah bapak sikapnya seperti itu, kakak juga tahu sendiri kan bapak orangnya gimana? Harap maklum yah jangan dimasukin hati J.”
“Iya gapapa Na, udah ga suka dianggap Prof mah nanti malem kakak sama anak-anak mau main yah ke rumah.”
Aku loncat kegirangan yeyeyeeeeeee!!!~
***
Hariku menjadi lebih berwarna ketika mereka selalu memperhatikanku. Suatu hari kelas mereka tidak ada guru, sedangkan aku sedang mengikuti pelajaran IPS. Mereka melihatku dari jendela kelas, dan mengacung-ngacungkan hp berkamera. Namun aku tidak mengambil kesimpulan mereka sedang memotretku, yang jelas mereka tersenyum padaku J. Aaa aku jadi tidak konsentrasi belajar, detak jantungku tak karuan. Mereka tak berhenti menatapku, sementara aku berpura-pura memegang pensil dan menuliskan sesuatu mengusir kecanggunganku diperhatikan mereka. Setelah pelajaran IPS selesai, aku berbincang-bincang dengan teman-temanku.
“Na, Rin, maaf yah kemarin aku ninggalin kalian gitu aja habisnya ga enak sama Sakri udah janji mau main ke rumahku.” Ujar Sinta.
“Ga apa-apa ko kalian ga usah minta maaf lagi, lagian kemarin aku juga ada yang anter pulang dong hehe.” Kataku.
“Ko kalian? Emang si Rini pulang duluan sama siapa?”
“Biasa tuh kecengannnya, makin lengket aja mereka.”
“Aku cuma ade kakak doing ko sama dia, eh Na siapa yang nganterin kamu? Kak Dawil apa Kak Dasep?
“Bukan keduanya!”
“Terus siapa?” Rini dan Sinta bersamaan.
“Kak Sandy, aneh banget deh kemarin dia tiba-tiba muncul setelah kalian tinggalin aku.”
“Hah yang bener? Kak Sandy kan orangnya pendiem, diajak bercanda aja susah ko bisa dia ngajak pulang bareng?” Ujar Rini.
“Yaelah dia kasian aja sama aku pulang sendiri, kebetulan dia mau pulang ke rumahnya juga. Udah yah dia cuma kasihan sama aku!”
Tanpa sadar ternyata Kak Dawil dan Kak Dasep masih memperhatikanku, kudengar suara kamera terus berbunyi. Oh tidaaak mereka mencuri foto wajahku! Aku langsung menutupi wajahku, tapi mereka tetap tak berhenti memotret dan mereka masuk kelas mendekati wajahku. Aku sangat malu –
“Na, kamu imut banget suka deh.” Ujar Kak Dawil.
“Heem Na, kakak juga suka sama Ena, cuma takut sama Pak Daden.” Ujar Kak Dasep.
“Kalian tuh apa-apaan sih, nyuri-nyuri foto aku, terus bercanda kaya gini ga lucu tau ngga!”
“Ciyeee Na hayo pilih yang mana?” haha Ujar Rini dan Sinta.
“Kakak serius sama Ena, tapi saat ini kakak belum pantas buat Ena. Suatu saat kakak bakal buktiin.” Ujar Kak Dawil.
Aku beranjak ke luar dari kelas, mukaku sudah merah. Aku pergi ke sungai untuk mencuci muka dan meninggalkan dua orang yang sudah berbicara hal konyol.
***
            “Asalamualaikum..” aku dan nini yang sedang menonton tv beranjak dari kursi untuk membuka pintu. “Waalaikumsalam..” ternyata Kak Dawil dkk benar-benar ada di depan rumahku, sungguh tak kusangka. Aku malu sekali, aku juga tidak memakai kerudung. Lagi-lagi perasaanku senang tak karuan, kami menghabiskan waktu bercanda tawa sampai tak terasa sudah hampir pukul 22.00. Tak enak dengan tetangga, mereka kusuruh kembali ke kobong, walau sebenarnya aku masih ingin bersamanya. Aku sudah bahagia meskipun sampai saat ini hubunganku dengannya masih tidak jelas. Perasaanku padanya akankah berakhir bahagia?
***
            Aku masih menerka apa tujuan mereka mendekatiku. Bukannya aku tak senang didekati dua lelaki manis itu, namun aku takut ada maksud dari semua ini. Aku berpikir dari segi mana mereka bisa menyukaiku? Jika dibandingkan dengan Sinta, Rini, Siti, dan perempuan cantik lainnya aku bukan apa-apa. Mungkinkah Kak Dawil menyukai Sinta, jelas Sinta itu cantik, pintar dan masih banyak lagi yang membuat kaum adam tidak alasan untuk tidak jatuh cinta padanya. Apa mungkin dia mendekatiku karena ingin dekat dengan Sinta, lalu nanti aku ia abaikan begitu saja. Aku yakin dia tidak benar-benar menyukaiku, aku juga pernah melihat mereka berbincang terlihat akrab sekali. Ya! Bisa saja aku menjadi jembatan untuk cintanya. Atau bisa juga dia ingin mendapatkan nilai yang bagus dari bapakku jadi dia mendapatkan hati anaknya? Ah! Mengapa aku mudah sekali memberikan hati kepada lelaki itu, yang jelas-jelas banyak dikerumuni wanita cantik. Tapi kenapa jantungku selalu berdegup kencang ketika ia di dekatku, apakah ini artinya cintaku bertepuk sebelah tangan?
***
            Setelah pulang sekolah, aku duduk di kursi depan untuk menghirup udara segar karena terlalu pengap dan takut diam di dalam rumah sendirian. Kulihat jalanan yang sepi, lalu terdengar suara dua orang yang mengobrol dari arah sekolahanku. Aku tak mempedulikannya, aku hanya mengotak-ngatik hp-ku mencari gelombang radio yang menyetel lagu-lagu kesukaanku. Semakin dekat suara itu semakin akrab di telingaku, aku semakin penasaran siapa yang akan lewat depan rumahku ini. Kulihat postur tinggi yang bungkuk udang itu membawa tabung gas, berjalan bersama cewek yang aku kenal. Ya! Mereka adalah Kak Dawil dan Lastri teman SD-ku. Aku memang pernah mendengar gossip kalau mereka sedang dekat, dan sekarang aku melihat mereka langsung berbincang dengan tatapan yang biasa Ia lakukan kepadaku. Aku tak kuasa menahan sakit di dada, kubantingkan badan di atas kasur kututupi muka dengan kedua tangan mencoba menahan segala rasa sakit. Angan-anganku untuk menjadi kekasihnya sirna sudah, lalu apa artinya aku selama ini? ia mengucapkan cinta tapi mengapa mereka berdua terlihat mesra? Lagu-lagu sedih menemaniku, menyadarkanku bahwa selama ini memang benar dia hanya ingin mempermainkanku bukan benar-benar menyukaiku.
Apa salahku kaubuat begini, kau tarik ulur hatiku hingga sakit yang kurasa
Apa memang ini yang kamu inginkan tak ada sedikit pun niat tuk serius kepadaku
 Satu bulan lagi aku UN, setelah itu aku akan pergi meninggalkan kampung halamanku dan membuka lembaran baru.
***
            Kak Sandy akhir-akhir ini sering menghubungiku melalui pesan singkat, menanyakan kabarku, kesehatanku dan lain-lain. Dia selalu perhatian kepadaku, bahkan sering menelponku ketika ia pulang ke rumah. Ketika aku ceritakan kedekatanku dengan dia kepada sahabat-sahabatku, mereka meledekku dan mengatakan bahwa Kak Sandy menyukaiku. Terlebih lagi Kak Opik yang saat ini backstreet dengan Rini juga mengatakan bahwa Kak Sandy benar menyukaiku dan menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaanya itu. Aku masih tak percaya dengan semua itu. Kak Dawil dan Kak Dasep masih sering memperhatikanku namun tak sesering dulu. Apa mungkin semua firasatku tentangnya benar? Kak Dawil juga sepertinya mengetahui kedekatanku dengan Kak Sandy dan suka mengejekku pacaran dengan Kak Sandy, apa maksudnya sih? Rumor tentang Kak Dawil yang playboy pun sampai pada telingaku, entah percaya atau tidak aku selalu berharap itu tak pernah terjadi karena aku terlanjur menyukainya.
            Alunan musik merusak kesunyian malam ini, nyanyian merdu juga menghangatkan suasana yang dingin ini. Suara itu terasa semakin dekat dari rumahku, kubuka sedikit gorden untuk melihat darimana asal bunyi suara itu. Kulihat tepat depan rumah Kak Opik memainkan gitar mengiringi Kak Sandy yang menyanyikan “Laguku” karya Ungu. Kubuka pintu rumah, dan Kak Sandy sudah berdiri membawa bunga mawar putih kesukaanku.
***
            Keadaannya sudah begini, mau diapakan lagi? Orang-orang terdekatnya pun sudah memberitahuku bahwa dia memang sudah berpacaran dengan Lastri. Sudah cukup aku mengetahuinya, dan membuat hatiku semakin teriris. Pertemuan kami di sekolah sudah seperti orang asing, dia tak pernah berani menatapku lagi, dia selalu menghindari berpapasan muka denganku. Sebenarnya aku tak mengerti kita tak pernah ada hubungan apa-apa, kenapa dia selalu bersikap seperti itu di depanku? Aku sabar melalui rasa sakit, kecewa, cemburu ini hingga akhirnya sebulan berlalu. Aku sudah menyelesaikan studiku di sini. Saatnya aku pergi untuk melanjutkan sekolah di SMA. Aku akan tinggal bersama bibiku di Cikarang, dan aku yakin kebahagiaan akan aku raih di sana. Aku harus melupakan dia dan segala rasa yang ada. Begitu pula luka yang aku tinggalkan pada seseorang.
***
            Alunan nyanyian itu membelai telingaku, mencoba merasuki tubuh dan menjamah hatiku. Rona bahagia terpancar dari mukanya yang lembut, hangat dengan tebaran senyuman di bibirnya, jika aku dapat membolak-balikan hati aku ingin menempatkan Ia dalam ruang kalbu. Malam ini Kak Sandy pergi membawa lara, menyimpan luka dalam hati. Aku tak bisa memaksakan rasa ini, bagiku saat ini perasaan lebih penting daripada sekadar menjalin hubungan karena kasihan atau karena dia baik. Ada rasa sakit ketika aku memperlakukannya seperti itu, tetapi hati ini masih saja berpihak padanya. Aku masih berharap ia akan menjadi seseorang yang menjaga hatiku kelak. Malam ini aku tidak bisa tidur, membayangkan perasaan Kak Sandy bergejolak tak tentu dan semakin mengiris kalbu. Aku yakin Kak Sandy pasti mendapatkan yang 1800 jauh lebih baik dibandingkan denganku. Aku harus bertahan melawan rasa sesal ini. aku harus bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, aku yakin hati tak pernah salah.
***
            Baru saja kemarin aku menjalani MOPD di SMAN5, sekarang sudah setahun saja aku sekolah di sini. Di sini aku juga banyak mengenal lawan jenis, namun kenanganku di MTs memang tidak pernah hilang dalam ingatanku. Seperti biasa sore ini aku membantu bibi mengajar ngaji di rumah dari anak SD sampai SMA. Kudengar seseorang mengucapkan salam depan rumah ini, aku tak menghiraukannya dan fokus membimbing anak-anak mengaji. Pintu rumah terbuka sehingga orang itu langsung masuk dan duduk di ruang tamu. Mataku masih tak ingin melirik orang itu, namun sepertinya orang itu terus memperhatikanku sehingga membuatku sedikit salah tingkah. Pengajian selesai dan aku merapikan Al-Quran dan Juz amma di atas meja. Kuhampiri orang itu, ingin melihatnya lebih dekat karena dari jauh saja postur tubuh itu sepertinya selalu ada dalam ingatanku, semua terasa akrab dan dekat. Ternyata benar, dia adalah Kak Dawil. Dia memandangku memberikan senyuman manisnya yang tulus, dia terlihat lebih tampan dari sebelumnya hmm aku merindukannya. Kami berbincang mengenai pengalaman masing-masing, saat ini dia sedang kuliah mengambil jurusan PJKR. Aku turut senang mendengarnya. Lalu dia membawa ingatanku pergi ke masa itu, masa-masa aku jatuh cinta padanya dan luka yang Ia berikan padaku.
“Sudah lama yah kita tak berbincang seperti ini, dulu kan harus bareng anak-anak supaya bisa ngobrol langsung depan kamu. Baru saja setahun tak bertemu, banyak yang berubah dari kamu Na, semakin cantik dan pemikirannya pun bertambah dewasa. Jadi suka inget dulu… hmm” ada kata yang sepertinya masih mengganjal dari ucapannya.
“iya yah kak, dulu kan diomelin si bapak terus hehe tapi sekarang kan bapaknya juga udh ga terus jagain aku gatau deh lagi di mana sekarang. Ah masih gini-gini aja kak dari dulu juga biasa aja jangan ngeledek terus deh, emang inget dulu pas apa?”
“Oh iya kakak juga sudah mendengar banyak dari orang tentang keluarga Ena, meski tak disangka kakak yakin Ena bisa ngelewatin ini, buktinya sekarang lebih tegar dan dewasa J. Wah sekarang bisa terus-terusan deketin ena dong hehe dulu kakak pengen banget jadi pacar Na, tapi sayang Kak Sandy juga menyukai Ena kakak gamau seperti teman makan teman. Kakak sebenarnya ga rela liat kamu deket sama Kak Sandy.”
“Iya kak aku yakin pasti bisa, kenapa bawa-bawa Kak Sandy? Bukannya kakak bilang mau buktiin perasaan kakak? Tapi ga ada tuh, lagian aku sama Kak Sandy ga pernah pacaran! Kakak yang pacaran sama Lastri kenapa masih ngomong kaya gitu.”
“Kakak pacaran sama dia karena sakit hati ngeliat kamu deket Kak Sandy, perasaan kakak ke Ena dulu ga pernah bohong. Kakak sayang sama Ena, kakak menunggu waktu yang tepa           t untuk benar-benar yakinin kamu! Dan kakak pikir saat inilah, Na mau ngga jadi pacar kakak?”
“dulu aku suka atau bisa dibilang jatuh cinta sama kakak, aku menunggu kakak membuktikan apa yang kakak bicarakan, tapi kakak malah pacaran sama Lastri. Kakak ga ngerti perasaan aku itu gimana ke kakak! Aku tak bisa terus-terusan menjaga hati ini sendirian, kini aku telah menemukan hati yang selama ini aku cari.”
            Bagiku cinta itu bukan sesuatu yang datang karena terbiasa, melainkan sesuatu yang datang tiba-tiba dan tak beralasan. Bahagia ketika ia di dekatku, degup jantung tak beraturan dan merasa sepi ketika tak ada ia di sisi. Cinta itu akan selalu tumbuh jika terus dijaga, namun jika aku hanya menjaga cinta ini sendirian layaknya bunga yang sedang mekar pun bisa layu jika tidak disiram. Seperti itulah perasaanku padanya, aku tak bisa menahan rasa ini selalu ada dan melarang rasa ini pergi dari hatiku. Cinta bisa datang dan pergi kapan pun ia mau.

Komentar: 
“keren, cerita yang mengalir, tentu saja sebuah kisah/pengalaman yang begitu mendalam sehingga saat ini dapat saya imajikan “Aku” yg begitu tembem, bulet, kecil, idup lagi :D haha, ya tentunya melalui kata-kata-kata yang tertuang dari ingatan sang penulis.” Sekian~

Dan Satu kalimat untuk cerita ini “sunyi menjadi semakin kuat, menguasaiku, kau tau rasanya apa? Menekan perasaan dan air yang datang dari mata membuat sungai kecil di pipiku~

Komentar

Postingan Populer