12 Juli 2009
12 Juli 2009
“Asalamualaikum,
abdi ngadeg didieu bade emmmm…
wasalamualaikum.”
Aku tertawa sekaligus malu menyaksikan
kedua adikku sedang lesengan (ceramah
dengan cepat) di perpisahan sekolah
agama. Mereka turun dengan muka tanpa dosa dan menghampiriku untuk meminta uang
jajan, lalu mereka pergi bersama teman-temannya. Aku pergi dari keramaian,
kulangkahkan kedua kakiku masuk ke rumah bibi. Kudapati bapak terbaring lemas
di atas sofa merah marun dan di kelilingi oleh saudara-saudaraku. Aku berlari
menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi dengan bapak. “Bapak pingsan,
mungkin karena kecapean.” Ujar Bi Endeh. Kata-kata itu sedikit menenangkanku,
kuharap tidak terjadi sesuatu yang besar kepada bapak. Di dapur kulihat mama
sedang menangis dan mengacak-acak lemari perabotan, entah apa yang dicarinya.
Lalu mama mengambil handphone bapak
dari tumpukan gelas-gelas, mama memeriksa handphone
bapak dan menemukan sesuatu yang janggal dan membuatnya menangis tiada
hentinya. Bapak yang sedang tidak sadarkan diri, tiba-tiba beranjak dari sofa
dan mengambil handphone dari tangan
mama, lalu pergi ke luar entah ke mana. Beberapa menit kemudian, bapak kembali
ke rumah. Mama langsung menerkam tubuh bapak dengan mencakar kedua tangannya.
Mama melampiaskan amarahnya secara fisik. Aku belum pernah melihat mama semarah
itu kepada bapak, menanyakan siapa yang
baru saja bapak hubungi namun bapak tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mama
terus berkoar hingga akhirnya bapak terpancing dan mengeluarkan kata-kata yang
tak ingin aku dengar, bahkan dalam mimpi pun aku tak mau mendengarnya. Aku tak
mengerti apa yang sedang terjadi pada keluargaku ini, aku hanya bisa
menyaksikan tanpa berbuat apa-apa. Aku beranjak pergi dari tempat yang semakin
membuat telingaku panas, darahku mengalir begitu cepat dan air mata yang tak
berkompromi terus membasahi pipiku.
Aku
termenung di sudut kota, tempat yang masih asing dalam ingatanku. Kepalaku
benar-benar berat, aku tak tahu harus pergi ke mana, tak ada tempat nyaman yang
bisa aku singgahi. Banyak kendaraan hilir mudik, orang-orang berlalu-lalang,
apakah beban mereka lebih dariku? Aku belum mengerti cara menjalani kehidupan.
Sebentar lagi umurku 14 tahun, ini kado yang mereka berikan kepadaku? Esok adalah
hari pertamaku di SMAN 5 Sukabumi, dan hari ini aku harus mempersiapkan segala
sesuatu untuk masa orientasi esok. Akhirnya aku pulang ke rumah bibi untuk
menyiapkan keperluan besok, namun tak kurasakan hawa manusia di dalam-nya.
Kemana adik-adikku, bapak, dan mama? Aku hanya melihat bibi yang sedang
merapikan kitab-kitab di rak. “Bi, naha
teu aya sasaha? Kamarana?” kataku. “Mama Ena, Ari sareng Farhan ka Teh Mira
di Bayangkara, Bapak Ena duka ka mana.”
Ujar Bibi. “nitipkeun icis kanggo Ena
teu? Pan enjing Ena mulai sakola Bi. Teu acan meser seragam sareng alat tulis.”
“Henteu
nitipkeun nanaon Na, kedah sabar we nya insya Allah aya jalan. Kedah cakeut ka Allah, selama Ena sakola mah didieu we rencangan bibi.”
Ujar Bibi. Aku tak mampu berucap apa-apa lagi, tubuhku semakin melemas. Aku
memaksakan kakiku untuk melangkah masuk kamar, terbaring dengan pipi yang
basah.
**
Bada
salat Subuh bibi sudah pergi mencarikan ojek untuk mengantarkanku pergi ke
sekolah. Aku pamitan pada bibi, jarak dari rumah ke sekolah baruku lumayan jauh
sekitar 10 km. Aku berhenti tepat di depan gerbang pertama sekolah, pagar besi putih
yang dijaga oleh seorang satpam yang biasa dipanggil Babeh. Hari ini semua
siswa harus membawa balon gas, entah kebetulan atau sengaja di depan sekolah
banyak sekali yang menjual balon gas. Aku membeli satu dari sekian banyak balon
gas yang lucu-lucu. Pembukaan masa orientasi ini sangat menyenangkan, seakan-akan
aku tidak memiliki beban yang memikulku. Semua murid baru menggunakan seragam
biru putih, hanya aku satu-satunya yang berbeda dari mereka. Karena aku sekolah
di MTs, jadi seragamku bukan biru putih, melainkan gading (cokelat
kehijau-hijauan) putih.
Seminggu
sudah dilalui, dengan begitu berakhir pula masa orientasiku. Esok aku sudah
mulai belajar di sekolah baruku dan harus menggunakan seragam putih abu-abu,
namun aku belum mendapatkan kabar dari bapak. Sulit sekali aku menghubunginya,
sedangkan penagih utang silih berganti mengetuk pintu rumah kami. Selembar uang
kertas merah yang membuatku bertahan seminggu ini. Dengan rasa malu, aku
berangkat sekolah menggunakan seragam MTs-ku. Aku diejek oleh teman-teman
sekelas, karena hanya aku yang belum menggunakan seragam putih abu-abu.
Hari-hariku
jalani dengan canda tawa bersama teman-teman baruku, di sekolah aku melupakan
segala bebanku. Tak terasa beberapa hari lagi menjelang UAS semester I, aku
harus membuktikan kepada semua orang dengan keadaan keluargaku yang berantakan,
aku bisa mendapatkan prestasi. Aku akan belajar semaksimal mungkin, aku tahu
mama dan bapak yang entah berada di mana saat ini pasti selalu mendoakan yang
terbaik untukku.
Hari-hari
terasa berat aku jalani
Aku
rindu pagi
Pagi
saat bapak membangunkanku salat Subuh
Pagi
saat mama beradu dengan bumbu-bumbu di dapur
Pagi
dengan nakalnya kedua adikku
Pagi
dengan aroma semangat keluarga kecilku
Ya
Allah semoga rinduku tidak berakhir pilu
***
Hari yang ditunggu pun tiba, pembagian
raport! Wali kelasku meminta orang tua yang mengambilnya, lalu bagaimana
denganku? Biarlah aku akan mengambilnya sendiri, ada ko beberapa dari siswa
lain yang tidak diambil orang tuanya. Bismilahirahmanirahim, Bu Ikeu, wali
kelasku mengumumkan 10 besar di kelas kami. Aku berharap ada di antara sepuluh
itu, namun sampai rangking 2 tetap saja tidak ada namaku, rangking 1? Rasanya
tak mungkin bagiku. Sudahlah aku tak sebanding dengan mereka yang lulusan kota,
cara berpikir dan pelajaran yang mereka dapatkan dulu pasti berbeda jauh
dariku. Rangking 1 Andina Sopandi, hah? Itu namaku? Yang benar saja, aku pura-pura
tidak mendengar, aku malu jika mereka menertawakan khayalanku itu. Namun Bu
Ikeu mengulang lagi, dan itu benar namaku, Andina Sopandi! Terima kasih ya
Allah, akan kuberitahu bapak dan mama di sanaJ.
Pembagian raport selesai dilaksanakan,
teman-teman memberikan selamat kepadaku. Lalu aku beranjak untuk pulang, aku
mencoba menghubungi bapak dan kebetulan sekali handphone-nya aktif. Bapak mengajakku bertemu di depan Ramayana.
Ternyata bapak sudah menunggu di sana, aku rindu sekali dengan bapak. Kulihat
wajahnya penuh dengan kemelut kehidupan yang sedang dialami, badannya kurus
pakaiannya pun tak terawat. Aku memeluk bapak, air mata tak terbendung lagi
membasahi pakaian bapak. Betapa pun jahatnya bapak kepada mama, sungguh aku
tidak pernah membencinya sekali pun! Aku menyayanginya dengan segala kekurangan
yang bapak miliki. “Pak Ena Rangking 1.” Ucapku, namun bapak hanya tersenyum sambil
melihat hasil raportku. Bapak memberiku dua lembar uang kertas merah, dan pergi
meninggalkanku entah ke mana. Ya! Bagi bapak itu memang bukan hal luar biasa,
sejak MI sampai kuliah bapak selalu menjadi yang pertama dan terbaik. Benar,
tak ada yang patut aku banggakan. Hanya saja aku bersyukur ujian yang aku alami
tidak mengubahku menjadi anak yang tanda
kutip. Aku bersyukur pada bibi dan semua keluarga yang selalu
mengingatkanku untuk dekat pada Allah.
Jika tidak ada telinga yang dapat
menampung, coretan tinta di kertas putih bisa menjadi saksi sejarah hidupku dan
selalu ada sejadah yang terbuka untukku bersujud di hadapan-Nya. Satu tahun aku
belajar di SMA, setiap hari di waktu pertemuanku dengan Sang Pemilik Kalbu
kucurahkan segala resah, gundah, dan benang kusut yang sedang aku rasakan. Aku
tahu Allah punya cara yang indah dalam mengabulkan segala permintaanku, Allah
sayang semua umatnya tanpa terkecuali aku. Waktu pasti menjawab semuanya, saat
ini aku hanya harus melakukan yang terbaik semampuku dan berjalan di atas jalan
yang telah ditentukan. Mama, bapak, dan kedua adikku pasti mendoakanku di luar
sana, meski kita saat ini tak bersama namun kita masih satu keluarga. Hanya
jarak yang saat ini sedang menguji kita, aku tahu saat ini doaku sedang beradu
dengan doa mama, mungkinkah mereka berjalan beriringan? Semoga saja! Aku juga
yakin bapak sedang merindukan kami, meski bapak bersama orang yang bapak
inginkan tapi rasa sayang bapak kepada kami melebihi sayangnya pada orang itu.
Suatu saat nanti bapak pasti berubah pikiran dan akan mencari kami, aku yakin
sekali akan hal itu! Aku tak perlu menyesali yang sudah terjadi, kunikmati rasa
sakit, perih, kecewa, malu, dan segala hal yang tak pernah seorang manusia pun
ingin rasakan. Namun ini adalah jalan hidup yang harus aku tempuh seterjal
apapun aku tak bisa berjalan di atas arah orang lain, inilah hidupku!
Sampai ketemu di
chapter berikutnya!~
Komentar
Posting Komentar