Kampung Antah Berantah
Asalamualaikum..
Hallo dear!
Belakangan ini banyak ketemu orang yg bikin aku berpikir "Oh gitu.." "Oh seperti itu.."
Jadi aku mau nyeritain tentang Kampung Antah Berantah, (soalnya bingung mau ngasih nama apa :p)
Di kampung yg antah berantah ini mayoritas Muslim dengan kegiatan pengajian yg bejubel,keren! Pertahankan yah. Pengajiannya dibedakan dua, yaitu pengajian ibu-ibu dan pengajian bapak-bapak. Kalau misalnya ibu-ibu biasanya pengajiannya sore hari, kecuali bulan Ramadan dipindah waktunya ke Subuh dan untuk yang ibu-ibu penceramahnya selalu Ustad bukan Ustadzah. Beda halnya dengan yang bapak-bapak, pengajiannya selalu malam hari dan setiap Malam Jumat diadakan Tawasulan.
Aku tinggal di lingkungan ini karena berbagai alasan, salah satu yang terpenting adalah karena memang keluargaku sudah terpecah menjadi dua dan aku harus tetap berkarier akhirnya aku tidak bisa ikut bapak atau pun mama. Mungkin tentang dimana aku tinggal sudah pernah aku bahas sebelumnya di satu cerpen.
Memang di setiap wilayah ada yang mayoritas dan minoritas. di kampung ini mayoritas sudah jelas muslim. Sudah sangat jelas dengan banyaknya pengajian yang ada dapat dikategorikan kental dengan agama yang dianutnya. Namun setelah diamati beberapa tahun, lingkungan ini cukup mengerikan bagiku. Bagaimana tidak? kejahatan lebih menggila dari sekadar kampung yg tidak terlalu kental agama, seolah toa-toa masjid hanya sebagai hiasan agar kampung ini tidak sepi. Banyak agen narkoba berkeliaran mendekati ababil (ABG LABIL) dan orang-orang itu sudah masuk daftar buronan polisi. Dengan berbagai cara mereka untuk mendekatinya.
Di kampung ini juga selalu berlomba-lomba dalam hal duniawi, contohnya anak si A yang cantik jelita calon menantunya Dokter setiap main ke rumahnya membawa mobil, anak s B calonnya hanya seorang buruh, dll. Setiap orang tua yang memiliki anak perempuan akan selalu merasa bangga dan membanding-bandingkan dengan anak yang lain. Dalam hal riba pun di sini banyak sekali berkeliaran Bangke (Bank Keliling) bisa dibilang rentenir yang setiap hari berkeliaran. Secara kasar sih ibadah jalan maksiat jalan.
Sangat disayangkan juga ketika orang 'yang merasa' dirinya paling taat pada Allah senang sekali men-judge kesalahan orang lain, mengagungkan dirinya, seolah hanya dia yg dekat dengan Allah, orang yang tidak sependapat dengannya bisa dianggap org 'syiah'. Sumpah geleng-geleng kepala kalo tau kaya gini.
Dan lebih hebatnya lagi mereka 'yang merasa alim itu' tidak pernah berkaca pada dirinya sendiri karena dia adalah mahamanusia yg tau segalanya dan paling baik di mata Allah. Terus sebagai makhluk Allah yg masih awam? Saya cuma bisa diam, dengan "Oh seperti itu"
Padahal sudah jelas dengan agama Islam yg baik, Allah mengajarkan hubungan yg baik, Habluminallah, Habluminannas bahkan Allah pun mengajarkan kita berhubungan baik dengan alam sekitar.
Jadi ketika merasa Habluminallah sudah baik, namun pincang Habluminannas dan hubungan dengan lingkungan sekitar bagaimana? Allah yg maha tau segala hal. Bahkan seorang hakim pun hanya memutuskan segala perkara di pengadilan dengan segala data atau fakta yg jelas. Bagaimana dengan kehidupan? Sungguh Allah satu-satunya Dzat yg berhak menilai segala amal baik dan buruknya manusia.
Mengingat cerita penzina yg memberi minum anjing saja bisa masuk Surga. Lalu bagaimana dengan memberi makan orang yg sedang khilaf dan berproses menuju hal baik? Tidakkah Allah juga mencatathal itu.
Masih banyak cerita tentang kampung antah berantah ini.
Semoga kita selalu berproses menjadi lebih baik, lebih baik lagi dalam menyampaikan.
Juga memahami agama lebih dalam, sehingga kita akan lebih tahu bahwa Islam agama yg indah dan damai.
Selamat malam~
Wasalamualaikum
Hallo dear!
Belakangan ini banyak ketemu orang yg bikin aku berpikir "Oh gitu.." "Oh seperti itu.."
Jadi aku mau nyeritain tentang Kampung Antah Berantah, (soalnya bingung mau ngasih nama apa :p)
Di kampung yg antah berantah ini mayoritas Muslim dengan kegiatan pengajian yg bejubel,keren! Pertahankan yah. Pengajiannya dibedakan dua, yaitu pengajian ibu-ibu dan pengajian bapak-bapak. Kalau misalnya ibu-ibu biasanya pengajiannya sore hari, kecuali bulan Ramadan dipindah waktunya ke Subuh dan untuk yang ibu-ibu penceramahnya selalu Ustad bukan Ustadzah. Beda halnya dengan yang bapak-bapak, pengajiannya selalu malam hari dan setiap Malam Jumat diadakan Tawasulan.
Aku tinggal di lingkungan ini karena berbagai alasan, salah satu yang terpenting adalah karena memang keluargaku sudah terpecah menjadi dua dan aku harus tetap berkarier akhirnya aku tidak bisa ikut bapak atau pun mama. Mungkin tentang dimana aku tinggal sudah pernah aku bahas sebelumnya di satu cerpen.
Memang di setiap wilayah ada yang mayoritas dan minoritas. di kampung ini mayoritas sudah jelas muslim. Sudah sangat jelas dengan banyaknya pengajian yang ada dapat dikategorikan kental dengan agama yang dianutnya. Namun setelah diamati beberapa tahun, lingkungan ini cukup mengerikan bagiku. Bagaimana tidak? kejahatan lebih menggila dari sekadar kampung yg tidak terlalu kental agama, seolah toa-toa masjid hanya sebagai hiasan agar kampung ini tidak sepi. Banyak agen narkoba berkeliaran mendekati ababil (ABG LABIL) dan orang-orang itu sudah masuk daftar buronan polisi. Dengan berbagai cara mereka untuk mendekatinya.
Di kampung ini juga selalu berlomba-lomba dalam hal duniawi, contohnya anak si A yang cantik jelita calon menantunya Dokter setiap main ke rumahnya membawa mobil, anak s B calonnya hanya seorang buruh, dll. Setiap orang tua yang memiliki anak perempuan akan selalu merasa bangga dan membanding-bandingkan dengan anak yang lain. Dalam hal riba pun di sini banyak sekali berkeliaran Bangke (Bank Keliling) bisa dibilang rentenir yang setiap hari berkeliaran. Secara kasar sih ibadah jalan maksiat jalan.
Sangat disayangkan juga ketika orang 'yang merasa' dirinya paling taat pada Allah senang sekali men-judge kesalahan orang lain, mengagungkan dirinya, seolah hanya dia yg dekat dengan Allah, orang yang tidak sependapat dengannya bisa dianggap org 'syiah'. Sumpah geleng-geleng kepala kalo tau kaya gini.
Dan lebih hebatnya lagi mereka 'yang merasa alim itu' tidak pernah berkaca pada dirinya sendiri karena dia adalah mahamanusia yg tau segalanya dan paling baik di mata Allah. Terus sebagai makhluk Allah yg masih awam? Saya cuma bisa diam, dengan "Oh seperti itu"
Padahal sudah jelas dengan agama Islam yg baik, Allah mengajarkan hubungan yg baik, Habluminallah, Habluminannas bahkan Allah pun mengajarkan kita berhubungan baik dengan alam sekitar.
Jadi ketika merasa Habluminallah sudah baik, namun pincang Habluminannas dan hubungan dengan lingkungan sekitar bagaimana? Allah yg maha tau segala hal. Bahkan seorang hakim pun hanya memutuskan segala perkara di pengadilan dengan segala data atau fakta yg jelas. Bagaimana dengan kehidupan? Sungguh Allah satu-satunya Dzat yg berhak menilai segala amal baik dan buruknya manusia.
Mengingat cerita penzina yg memberi minum anjing saja bisa masuk Surga. Lalu bagaimana dengan memberi makan orang yg sedang khilaf dan berproses menuju hal baik? Tidakkah Allah juga mencatathal itu.
Masih banyak cerita tentang kampung antah berantah ini.
Semoga kita selalu berproses menjadi lebih baik, lebih baik lagi dalam menyampaikan.
Juga memahami agama lebih dalam, sehingga kita akan lebih tahu bahwa Islam agama yg indah dan damai.
Selamat malam~
Wasalamualaikum
Komentar
Posting Komentar