yang pertama



Nama : Andina Sopandi N
NPM : 032112104
Semester/Kelas : III/C
Karangan Narasi
Tema : Percintaan
Topik : Cinta Segitiga
Judul : Yang Pertama
Tokoh
    Dina      : Mudah jatuh cinta.
             Neneng   : Dewasa.
             Irfan       : Bijaksana.
            Nanda     : Mudah bergaul.
Kronologis           :
Perkenalan         : Dina dan Neneng bersahabat sejak SD, Neneng dan Irfan pernah menjalani cinta monyet.
Pertikaian          : Dina dan Irfan berpacaran saat kelas tiga SMP. Namun ada orang baru yang yang mencuri hati Dina.
Klimaks               : Dina harus memilih Irfan atau Nanda.
Anti Klimaks      : Akhirnya Dina memilih Irfan.
Yang Pertama
           Neneng dan Dina bersahabat sejak mereka masuk sekolah dasar. Dina seorang gadis berkulit putih dengan tubuhnya yang mungil. Neneng seorang gadis manis bergigi gingsul. Mereka tidak pernah bertengkar, dan selalu bersama-sama di sekolah. Di sekolah Dina selalu dibully teman lelaki nya. Dia selalu dibully pendek, jelek dan lain-lain. Lelaki itu bernama Irfan, berkulit putih dengan rambut lurus sedikit gondrong. Pada suatu hari Dina menulis judul lagu di papan tulis, namun Irfan dan teman-temannya memarahi Dina sampai puas dengan alasan yang tidak jelas sampai membuat Dina menangis. Semakin bertambah kebencian Dina kepadanya. Dina selalu memanggil lelaki itu dengan nama Irfan Hakim Bisulan, sesuai dengan perbuatannya. Ketika kelas enam SD Irfan menyukai Neneng dan mereka berpacaran. Dina memang benci terhadap Irfan, namun ia tidak menghalangi kisah cinta mereka. Setelah lulus dari sekolah dasar, Neneng dan Dina harus berpisah karena mereka akan bersekolah di tempat yang berbeda.
          Dina menjalani hari-hari di sekolah barunya dengan riang meskipun tidak bersama sahabat lamanya. Meskipun Neneng dan Dina berbeda sekolah, namun persahabatan mereka tidak akan berakhir. Mereka selalu bercerita semua kegiatan sehari-hari melalui surat, telepon genggam, atau mereka bertemu ketika hari libur tiba. Sebenarnya tempat sekolah Neneng terletak di atas rumah Dina. Namun karena mereka sama-sama sibuk menuntut ilmu, sehingga mereka hanya bisa saling bertemu ketika libur sekolah tiba.
          Pada waktu kelas tiga SMP, Dina mendapat pesan dari Neneng “Ada salam dari orang yang menyukaimu”. Dina penasaran siapa orang yang memberikan salam kepadanya. Neneng selalu mengatakan ada salam kepada Dina setiap mereka bertemu maupun berkomunikasi melalui telepon genggam, namun ia tetap tidak mau memberitahukan siapa orangnya. Pada suatu hari Dina mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal. Orang yang selalu mengirim pesan kepada Dina juga tidak mau memberitahukan siapa dirinya. “Belum saatnya kamu tahu, aku takut kamu akan membenciku,” pesan orang misterius itu.
          Setelah seminggu, akhirnya orang misterius ini mengakui siapa dirinya yang sebenarnya. Ternyata dia adalah Irfan, teman SD Dina yang sangat ia benci. Dina kaget dan tak menyangka orang yang selalu mengirimkan pesan dan salam kepadanya adalah orang yang sangat ia benci. Entah ia harus senang atau kecewa menerima kenyataan yang ada. Dan satu hal yang lebih membuat ia bingung, Irfan pernah berpacaran dengan Neneng, sahabat yang sangat ia sayangi. Namun Neneng sangat mendukung kedekatan mereka, bahkan Neneng rela jika mereka berpacaran. Setelah tiga minggu, mereka semakin dekat dan perasaan cinta itu mulai tumbuh di hati Dina, meskipun mereka belum pernah bertemu lagi setelah lulus SD. Sikap Irfan yang lebih baik daripada waktu SD membuat Dina menyukainya.
          Sebulan berlalu, akhirnya Irfan mengutarakan perasaannya kepada Dina melalui pesan singkat. “Din, sebenarnya dari dulu kamu adalah orang yang aku suka, mengenai dulu aku pernah pacaran atau dekat dengan siapapun itu tidak mengurangi perasaanku padamu bahkan sampai sekarang. Aku mau jadi pacar kamu, aku tunggu jawaban kamu lusa”, pesan dari Irfan. Dina sangat bahagia menerima pesan itu dan tak tahu harus bagaimana, akhirnya Dina bercerita kepada Neneng mengenai pernyataan cinta Irfan. Neneng sangat senang mendengar kabar bahagia itu, karena baginya Irfan hanya masa lalu dan itupun bisa dibilang “cinta monyet”. Neneng meyakinkan Dina untuk berpacaran dengan Irfan, karena mereka memang sudah saling suka. Akhirnya Dina memutuskan untuk menerima cinta Irfan, dan mereka berpacaran.
          Hidup Dina lebih berwarna semenjak Irfan masuk ke dalam kehidupannya. Dia tidak lagi menghabiskan waktu untuk nonton televisi atau tidur, tetapi berbagi suka duka kepada Irfan setiap harinya. Meskipun mereka telah berpacaran selama tiga minggu, mereka belum pernah bertemu. Irfan berjanji seminggu lagi akan menemui Dina dan menyatakan langsung perasaannya.
          Sehari sebelum Ujian Nasional. Pada saat Dina menjemur pakaian, rombongan siswa-siswi yang akan mengikuti UN di sekolah Dina turun tepat di depan rumah Dina. Mereka akan tinggal sementara di rumah Nenek Dina, tepatnya di bawah rumah Dina.
Sore hari, Dina sedang duduk di halaman rumahnya. Ada seorang lelaki manis, memiliki bibir dan hidung yang mirip dengan Rezky Aditya, sayangnya ia memiliki postur tubuh yang kurang tinggi. Lelaki itu tersenyum kepada Dina, akhirnya mereka saling bertatap mata dan tersenyum. Lelaki itu mondar-mandir di depan rumah Dina, akhirnya ia memberanikan diri memperkenalkan dirinya. Namanya Nanda, lelaki manis yang diam-diam mencuri perhatian Dina. Mereka sedikit berbincang menceritakan kehidupannya masing-masing. Karena Nanda orang yang mudah bergaul, jadi mereka terlihat akrab seperti sudah berteman lama.
          Keesokan harinya Nanda membawa teman-temannya,  meminta Dina membawanya ke tempat yang indah. Dina menyanggupi permintaan Nanda, mereka pergi ke kebun teh yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Dina. Kebun teh itu cukup luas, pemandangannya yang indah dan dihirup bersama orang yang disukai membuat Nanda lebih menikmati suasana di sini. Mereka jalan-jalan ke tempat-tempat yang lebih indah lagi dengan bercanda tawa.
          Malamnya Dina dan Nanda duduk di depan rumah Nenek Dina, suasana malam itu sangat romantis. Ditemani kemerlip bintang yang indah, dengan meminum secangkir teh hangat membuat obrolan semakin nyaman. Karena hari sudah malam, Dina ditegur oleh kakeknya untuk segera pulang ke rumah.
          Keesokan harinya, Dina mengirimkan surat yang isinya tentang Nanda kepada Neneng, dengan melampirkan satu buah foto UN Nanda. Dina menitipkan surat itu kepada teman Neneng. Sebelum surat itu sampai kepada Neneng, Irfan mengetahuinya dan membuka surat itu. Dia membaca semua isinya dan melihat foto Nanda yang Dina tempel di surat tersebut. Neneng merebutnya, dan menceritakan semuanya kepada Dina tentang Irfan yang membca surat darinya. Dina kaget sekali mendengar kabar itu dari Neneng, entah apa yang harus Dina katakan terhadap Irfan besok malam. Malam ini Dina bingung mengenai perasaan yang ia rasakan saat ini. Di sisi lain ia telah berpacaran dengan Irfan, namun ia juga menyukai Nanda.
          Dina memang telah lama mengenal Irfan, dan mereka pun telah berpacaran selama satu bulan. Akan tetapi, Nanda juga baru-baru ini selalu menghiasi mimpi indahnya. Nanda sangat perhatian dan menggemaskan.
          Malam ini Irfan datang untuk menemui Dina. Mereka bertemu di depan rumah Dina, karena Dina masih dilarang untuk berpacaran. Irfan terlihat lebih putih dengan kumis tipis yang dimilikinya membuat ia terlihat lebih tampan. Seperti janjinya, Irfan mengungkapkan perasaannya terhadap Dina secara langsung. Meskipun mereka terlihat canggung karena sudah lama tidak bertemu, namun Irfan bisa membuat keadaan lebih nyaman dengan candaan-candaannya. Pada saat mereka mengobrol dengan asyiknya, Nanda lewat di depan mereka. Nanda memperlihatkan muka yang kecewa, bahkan ia sengaja bermain dengan anjing dan mondar-mandir di depan mereka. Aku pun ikut memperhatikan ia sehingga membuat Irfan terpancing. Akhirnya Irfan menanyakan isi surat yang Dina berikan kepada Neneng. “Jadi itu yang namanya Nanda? apa benar kamu suka sama dia? Aku memang sayang sama kamu, dan aku juga ngga mau kehilangan kamu. Namun aku tahu ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan di dunia ini, yaitu perasaan. Kamu ngga perlu jawab sekarang, kamu bisa merenungkan pernyataan aku. Tetapi kalo kamu lebih sayang sama aku, aku bakal buktikan rasa cinta aku sama kamu, aku pulang dulu yah”, ujar Irfan sambil pergi meninggalkan Dina. Semalaman Dina memikirkan hal itu, ia harus membuat keputusan yang tidak akan membuat ia menyesal.
          Keesokan harinya, Nanda bersama teman-temannya kembali lagi ke rumahnya masing-masing. Sebelum pergi, Nanda mengatakan pada Dina “Jadi kamu sudah memiliki pacar? Selamat tinggal yah.”
Dina pergi ke kamarnya dan menangisi kepergian Nanda. Tiga hari setelah itu Dina akhirnya menemukan jawaban, bahwa Irfanlah yang ia sayangi. Meskipun ia menyukai Nanda, namun ia anggap itu hanya perasaan sesaat yang bisa hilang begitu saja.

Komentar

Postingan Populer